Politik & Parlemen

Pramono: Lebih Banyak Tersenyum Saat Jadi Gubernur DKI Dibanding Ketika Menjabat Seskab

×

Pramono: Lebih Banyak Tersenyum Saat Jadi Gubernur DKI Dibanding Ketika Menjabat Seskab

Sebarkan artikel ini
Pramono Akui Lebih Banyak Tersenyum Jadi Gubernur DKI daripada Saat Menjabat Seskab News 18 Juni 2026
Ilustrasi: Pramono Akui Lebih Banyak Tersenyum Jadi Gubernur DKI daripada Saat Menjabat Seskab

jurnalistik.co.id – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengaku merasakan perubahan dalam ekspresi dan suasana kerja sejak menjabat sebagai orang nomor satu di Jakarta dibanding ketika ia masih memegang jabatan Sekretaris Kabinet (Seskab). Ia menyampaikan hal tersebut dalam forum Indonesia Summit di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2026).

Dalam kesempatan itu, Pramono menjadi pembicara utama dan memaparkan perbandingan pengalamannya. Ia mulai menanggapi pertanyaan tentang perbedaan dirinya saat menjabat sebagai Seskab dan setelah menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Moderator kemudian menanyakan langsung, “Apa bedanya pada saat jadi seskab sama jadi gubernur DKI?” Pramono menjawab sambil tersenyum, “Tersenyumnya gubernur lebih lebar,”.

Setelah itu, Pramono menjelaskan alasan ia merasa lebih bahagia ketika menjadi gubernur. Menurut dia, jabatan kepala daerah memberinya ruang untuk mengeksekusi program yang dibutuhkan masyarakat secara langsung.

Ia mengatakan, “Kenapa? Yang pertama bisa mengeksekusi dan secara langsung apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, terutama kesehatan dan pendidikan,” kata Pramono. Penekanan Pramono pada aspek kesehatan dan pendidikan disampaikan sebagai bagian dari penilaiannya mengenai kebutuhan yang dapat dijalankan lebih dekat dengan masyarakat.

Di sesi yang sama, Pramono turut menerangkan tugas yang pernah dijalaninya ketika masih menjabat sebagai Sekretaris Kabinet pada era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri hingga Presiden Joko Widodo sebelumnya. Moderator kembali bertanya, “Sebetulnya pekerjaan jadi seskab itu apa, Mas?”

Pramono menjawab, “Menyiapkan kepada Presiden,”. Ia kemudian menambahkan bahwa banyak masyarakat belum memahami peran seorang Sekretaris Kabinet dalam struktur kerja pemerintahan.

Menurut Pramono, jabatan tersebut berfungsi seperti koordinator dalam kabinet yang memastikan jalannya rapat serta komunikasi antarkementerian berjalan efektif. Ia menuturkan, “Semua banyak yang tidak tahu bahwa kepres termasuk rapat, jadi seskab itu adalah ketua kelas di kabinet pada waktu itu,”.

Pramono juga mengungkapkan satu tugas spesifik saat menjadi Seskab, yaitu mencatat seluruh pembahasan dalam rapat kabinet dan meneruskannya kepada para menteri terkait. Saat ditanya apakah ia bertugas mencatat seluruh pembicaraan dan menyampaikan hasilnya kepada para menteri, Pramono membenarkannya.

Ia menjelaskan dengan mencontoh mekanisme waktu berbicara, “Termasuk Menteri mau ngomong 3 menit ya, kita batasin 3 menit,” kata Pramono. Dengan jawaban tersebut, Pramono menggambarkan bagaimana pengaturan pembahasan dalam rapat dilakukan agar komunikasi dan penyampaian berjalan terarah.

Pada penutup pemaparan, Pramono menyampaikan bahwa pengalamannya sebagai Sekretaris Kabinet memberinya pemahaman mengenai tata kelola pemerintahan di tingkat nasional. Namun, sebagai Gubernur DKI Jakarta, ia merasakan kepuasan tersendiri karena dapat melihat secara langsung hasil kebijakan yang dijalankan untuk masyarakat.

Dalam pemaparannya, Pramono menekankan bahwa perubahan yang ia rasakan bukan hanya soal jabatan, melainkan juga cara kerja dan dinamika sehari-hari. Ia menggambarkan suasana yang ia hadapi ketika memimpin Jakarta berbeda dari ketika ia berada pada posisi yang berfokus pada pengelolaan hubungan kerja dalam pemerintahan.

Ia menyoroti bahwa setelah menjadi gubernur, ia dapat menata prioritas program sesuai kebutuhan yang paling sering dirasakan warga. Menurutnya, kedekatan pelaksanaan kebijakan membuat proses lebih terasa nyata, terutama pada bidang yang menyentuh layanan dasar seperti kesehatan serta pendidikan.

Untuk menjelaskan peran lamanya, Pramono menguraikan bahwa masyarakat kerap keliru memahami fungsi Sekretaris Kabinet. Ia menggambarkan tugas tersebut sebagai pengarah dalam jalannya rapat, termasuk memastikan pembahasan berlangsung efektif dan komunikasi antarkementerian tetap terhubung.

Ia juga menambahkan bahwa pengaturan teknis dalam rapat tidak lepas dari pengawasan agar setiap pihak menyampaikan gagasan dengan batas waktu yang jelas. Pada saat yang sama, ia menjelaskan tanggung jawab untuk menampung seluruh pembahasan dan meneruskan poin-poin hasil rapat kepada para menteri yang berkaitan.