jurnalistik.co.id – Piala Dunia 2026 tinggal menyisakan dua partai semifinal, dan empat tim yang tersisa memang layak disebut paling konsisten sepanjang perjalanan turnamen. Prancis, Spanyol, Inggris, dan Argentina sama-sama berada dua langkah dari perebutan trofi—sekaligus membawa beban harapan yang tak lagi bisa ditoleransi untuk tersandung.
Jika sebelumnya drama datang dari banyak arah, babak empat besar biasanya merapatkan semua variabel: kekuatan skuat, ketajaman individu, serta ketenangan saat laga mulai memanas. Duel pertama menghadirkan dua kekuatan Eropa yang sama-sama punya kedalaman, sementara duel kedua mempertemukan cerita rivalitas panjang dengan panggung yang lebih besar dari siapa pun.
Mbappé vs Yamal: Prancis meladeni ambisi Spanyol
Prancis akan berhadapan dengan Spanyol, dan laga ini diprediksi sarat kualitas karena kedua tim sama-sama menampilkan kedalaman di berbagai lini. Mbappé kembali menjadi sorotan setelah Prancis melaju ke semifinal lewat kemenangan 2-0 atas Maroko. Pemain itu kini mengoleksi delapan gol sepanjang turnamen, hanya tertinggal satu gol dari Lionel Messi dalam persaingan top skor Piala Dunia sepanjang masa.
Keunggulan Prancis tidak berhenti pada satu nama. Ousmane Dembélé ikut berperan besar dengan menyumbang lima gol, sedangkan Michael Olise menjadi pemantik di sisi kreatif dengan memimpin daftar assist kompetisi berjumlah lima. Dengan komposisi seperti ini, Prancis punya modal untuk menjaga ritme serangan tanpa kehilangan daya ketika tempo meningkat.
Sementara itu, Spanyol datang dengan catatan yang menunjukkan kestabilan panjang. Tim Luis de la Fuente menuju semifinal dengan harapan bahwa performa terbaik mereka masih akan muncul. Lamine Yamal, yang menjadi bintang yang ditunggu, baru mencatat satu gol di Piala Dunia 2026—yakni saat melawan Arab Saudi pada fase grup—namun ia belum benar-benar “meledak” secara penuh di turnamen ini.
Spanyol juga sempat harus mencari jalan ketika ritme pemain-pemain kuncinya tidak selalu menghasilkan dampak instan. Mikel Oyarzabal, yang sebelumnya mencetak empat gol, tampak belum menemukan tajinya dalam dua pertandingan terakhir. Karena itu, Spanyol membutuhkan intervensi dari pemain pengganti, Mikel Merino, untuk memastikan kemenangan tipis atas Portugal dan Belgium pada fase gugur.
Secara emosional, Spanyol membawa memori kemenangan 2010 yang masih ingin mereka ulang dengan versi yang lebih meyakinkan di 2026. Menjelang laga, Yamal akan berusia 19 tahun pada malam sebelum duel semifinal, sebuah momen yang berpotensi menambah motivasi sekaligus menempatkan tekanan yang sama besarnya.
Dari sisi statistik, Prancis akan menjalani semifinal Piala Dunia untuk kedelapan kalinya, menyamai rekor Brasil. Hanya Jerman yang memiliki jumlah semifinal lebih banyak, yakni 12. Bagi Spanyol, momentum mereka bahkan lebih panjang: mereka menempuh rangkaian tanpa kekalahan terlama dalam sejarah klub, dengan tidak kalah dalam 36 pertandingan sejak kekalahan 0-1 dari Kolombia pada Maret 2024, meraih 27 kemenangan dan sembilan hasil seri.
Ini juga menjadi pertemuan Piala Dunia kedua bagi kedua tim. Sebelumnya, saat bertemu di babak 16 besar pada 2006, Prancis sempat tertinggal namun pada akhirnya menang 3-1. Modal tersebut memberi gambaran bahwa pertemuan mereka cenderung tidak pernah berjalan lurus, dan momentum bisa bergeser hanya dalam rentang beberapa menit.
Berita Terkait
England vs Argentina: Messi dan Bellingham di jantung rivalitas
Duel semifinal kedua mempertemukan Inggris dan Argentina di Atlanta Stadium, dan laga ini membawa narasi rivalitas yang sudah berumur panjang. Inggris akan menjalani semifinal Piala Dunia kedua mereka sejak 2018, sementara Argentina berangkat sebagai juara bertahan yang ingin mengamankan tiket ke final untuk pertama kalinya dalam 60 tahun—sekaligus menuntaskan tantangan yang berat sejak awal turnamen.
Pertemuan ini juga sarat emosi, setidaknya bila menoleh ke sejarah. Sekitar 40 tahun setelah Diego Maradona hampir sendirian menggagalkan langkah Inggris di fase perempat final di Meksiko, Argentina kini kembali dengan figur bintang yang bisa mengubah arah pertandingan kapan saja. Kali ini, mesin utamanya adalah Lionel Messi, seorang nomor 10 yang juga menjadi simbol dari ambisi Argentina.
Messi belum pernah menghadapi Inggris dalam laga resmi sebelumnya, sehingga semifinal menjadi panggung pertama yang menentukan dalam pertemuan lintas-era itu. Dalam turnamen ini, Messi menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia, dan ia juga memimpin persaingan Golden Boot bersama Kylian Mbappé dengan masing-masing delapan gol.
Namun Inggris tidak datang tanpa senjata yang setara. Jude Bellingham tampil sebagai sosok kunci dengan produktivitas yang terus meningkat, mencetak dua gol dalam masing-masing dari dua pertandingan gugur terakhir. Ia menjadi pemain pertama yang mampu melakukan pencapaian tersebut sejak Maradona pada 1986.
Di lini yang sama, kapten Harry Kane berada dalam posisi seimbang bersama rekan setimnya, dengan masing-masing mencatat enam gol sejauh musim panas ini. Dengan kata lain, duel ini tidak hanya tentang satu nama besar, tetapi tentang cara setiap tim memaksimalkan momen saat pertahanan mulai lengah atau ritme berubah.
Sampai fase ini, baik Inggris maupun Argentina belum memperlihatkan permainan paling “bebas mengalir” mereka. Inggris dan Argentina justru sama-sama berangkat dengan karakter pertandingan gugur: saling mengunci, memperebutkan ruang, dan mengorbankan kenyamanan demi kemenangan. Karena itu, tidak mengherankan bila semifinal nanti berubah menjadi pertarungan kehendak—meski Thomas Tuchel sebelumnya meminta timnya menunjukkan kualitas yang lebih baik dibanding saat menang atas Norwegia di perempat final.
Dalam catatan yang menegaskan momentum Inggris, mereka telah mencapai semifinal di empat turnamen besar sejak 2018, setara dengan jumlah semifinal yang mereka capai dalam sejarah sebelum Piala Dunia 2018. Inggris juga mencatat kemenangan beruntun empat kali di Piala Dunia, sekaligus menjadi rangkaian kemenangan terpanjang dalam satu edisi sejak 1966.
Tuchel juga menjadi perhatian karena ia hanya manajer Inggris kedua yang tak terkalahkan pada enam pertandingan Piala Dunia pertamanya sebagai pelatih. Rekor yang sama sebelumnya dimiliki Alf Ramsey pada 1966, yang mencatat lima kemenangan dan satu hasil seri setelah enam laga pertamanya.
Argentina, di sisi lain, menunjukkan konsistensi yang tidak mudah dipatahkan. Mereka sudah menembus babak semifinal untuk kali ketiga dalam empat edisi terakhir, yakni 2014, 2022, dan 2026. Sebelum 2014, Argentina terakhir kali mencapai semifinal adalah pada 1990, menjelaskan betapa jauh perjalanan mereka kembali menuju panggung final.












