jurnalistik.co.id – Jannik Sinner kembali menunjukkan kelasnya di lapangan rumput saat ia mempertahankan gelar tunggal putra Wimbledon 2026 dengan kemenangan atas Alexander Zverev dalam final yang sarat tensi di All England Club.
Petenis nomor satu dunia itu memenangi laga dengan skor 6-7 (7-9) 7-6 (7-2) 6-3 6-4, setelah pertarungan berjalan sangat rapat sepanjang set-set awal dan baru menemukan ritme di dua set terakhir.
Final penuh tekanan yang ditutup dengan ketenangan
Sinner sempat harus melalui momen-momen sulit saat kedua pemain saling menguji konsistensi. Namun, ia perlahan merebut kontrol di saat-saat krusial dan akhirnya mampu menyelesaikan pertandingan dalam 3 jam 46 menit, yang menjadi kemenangan terpanjang kedua dalam kariernya.
Di sisi lain, Zverev tampil sebagai unggulan kedua dengan percaya diri dan berani sejak awal. Ia datang dengan ambisi untuk mempertegas momentum setelah meraih gelar Grand Slam perdananya di Prancis bulan lalu, tetapi upaya tersebut tetap tidak cukup menumbangkan Sinner di hadapan publik Centre Court yang dipenuhi sorak dan perhatian.
Penguasaan Sinner terlihat dari cara ia membatasi ruang gerak lawan. Ia menjaga ritme bertahan dari baseline secara sangat disiplin, sekaligus merespons pendekatan agresif Zverev dengan pertahanan yang solid.
Dalam perhitungan kesempatan, Sinner juga tampil efektif saat peluang muncul. Ia membatasi Zverev hanya pada satu break point selama pertandingan dan kemudian mengambil kesempatan itu secara tajam pada set-set penutup.
Selepas memastikan kemenangan, Sinner langsung menunjukkan luapan lega dengan merayakan secara emosional dengan bersimpuh di lantai. Kemenangan ini juga membawa catatan yang menunjukkan dominasi jangka panjang: Sinner kini sudah memenangkan 10 pertandingan terakhir melawan Zverev.
Dengan hasil tersebut, Sinner menjadi petenis ke-10 yang mampu mempertahankan trofi Wimbledon nomor tunggal putra sejak era Open dimulai pada 1968. Ini sekaligus menjadi gelar Grand Slam kelima dalam kariernya, sekaligus gelar pertama di tahun 2026.
Tawa Zverev dan sorotan di Centre Court
Usai pertandingan, Zverev melontarkan candaan yang menggambarkan rasa hormat sekaligus pengakuan atas kualitas lawannya. Ia berkata, “Jannik, I don’t really like you any more,” sebelum menambahkan, “He showed once again why he is the best player in the world.”
Final tersebut juga menjadi panggung besar bagi penonton dari berbagai kalangan. Putra dan putri Wales hadir, dan sejumlah bintang Hollywood seperti Nicole Kidman serta Ben Stiller ikut menyaksikan pertandingan ketika Sinner menuntaskan perlawanan Zverev.
Dari sudut pandang peringkat dunia, Zverev juga mendapat kabar positif: ia akan naik ke posisi kedua dunia pada Senin mendatang, mengungguli Carlos Alcaraz yang sedang mengalami cedera.
Rangkaian menuju puncak: dari tantangan hingga pemulihan
Berita Terkait
Dominasi Sinner di era tenis putra modern memang sudah terlihat beberapa musim terakhir, bersanding dengan rival seangkatannya, Carlos Alcaraz. Banyak pihak mengira ia akan menambah koleksi Grand Slam dengan relatif mudah pada tahun ini, tetapi perjalanan Sinner tidak berjalan lurus.
Di Australian Open, ia kalah dari Novak Djokovic pada babak semifinal. Lalu, setelah tiba di French Open dengan rangkaian 29 kemenangan beruntun, ia justru tersingkir mengejutkan di babak kedua di Roland Garros.
Namun di Wimbledon, kondisi berbeda. Alcaraz absen untuk turnamen mayor untuk kedua kalinya secara beruntun karena cedera pergelangan tangan. Dengan situasi itu, Sinner kembali menunjukkan kenapa ia sudah dianggap sebagai pemain besar dalam permainan ini, terutama setelah melewati jadwal yang melelahkan.
Ia menjalani dua pekan yang berat, termasuk di tengah kondisi panas yang sebelumnya pernah menjadi tantangan baginya. Setelah kekalahan mengejutkan di Paris, Sinner memilih mundur dari kompetisi dan tidak bermain pada turnamen manapun menjelang Wimbledon, sebagai bagian dari keputusan untuk memberi jeda fisik dan mental sekaligus mencari penyebab masalahnya di bawah panas.
Hasilnya terlihat selama turnamen. Di awal Wimbledon, Sinner masih menunjukkan kerentanan dengan harus melewati Miomir Kecmanovic dari Serbia lewat pertandingan yang memakan lima set. Setelah itu, ia tumbuh dalam kepercayaan diri dan kualitas permainan seiring berjalannya turnamen.
Bentuk performa itu ikut terlihat ketika ia menghancurkan Djokovic di babak semifinal. Meski demikian, ia tetap harus menampilkan kemampuan terbaik pada Minggu untuk menghadapi Zverev yang siap menolak menyerah.
Strategi Zverev: agresif, tetapi peluang tinggal satu titik
Zverev sendiri membawa latar panjang sebagai pemain yang selalu dipandang memiliki potensi menjadi juara Grand Slam sejak usia remaja. Ia pernah dikenal sebagai talenta besar yang sering mengikuti senioritas kakaknya, Mischa, saat masih berada di tur.
Selama periode dominasi Sinner dan Alcaraz, sebagian orang menilai momen Zverev untuk memenangi gelar besar sempat tertunda. Namun, di Roland Garros bulan lalu, ia berhasil meruntuhkan label “pemain terbaik saat ini yang belum pernah meraih gelar Grand Slam,” dan kini berharap menularkan momentum itu ke Wimbledon.
Kekalahan Sinner di Paris membuka peluang bagi Zverev. Meski demikian, pada final di All England Club, ia tidak memiliki ruang untuk sekadar berharap. Jika Zverev ingin meraih Wimbledon, ia dipahami harus mengalahkan Sinner—dan itu berarti beban mental yang besar.
Secara rekor, Zverev datang dengan statistik yang tidak menguntungkan: ia kalah dalam sembilan pertemuan sebelumnya dan tidak pernah memenangkan set dari 13 pertemuan terakhir. Rekam jejak itu juga termasuk penampilan buruk di final Madrid Open bulan Mei, ketika ia takluk 6-1 6-2.
Di Wimbledon, Zverev membutuhkan servisnya bekerja dalam intensitas tinggi. Ia juga memilih pendekatan yang berbeda: meski sebelumnya kerap dikritik terlalu pasif saat menghadapi lawan yang lebih kuat pada laga-laga besar, kali ini ia keluar dengan niat menyerang.
Ia lebih sering melangkah mendekati baseline dan menambah keberanian pada forehand untuk menciptakan tekanan. Strategi “risk-reward” itu membuahkan hasil saat Zverev merebut set pertama.
Meski terlihat sulit baginya mempertahankan level itu sepanjang pertandingan, Zverev tetap berpegang pada rencana permainan dan sebagian besar mampu mengeksekusinya dengan konsisten. Namun, jika ia mampu mengonversi satu-satunya break point yang ia miliki pada kedudukan 3-3 di set ketiga, pertandingan berpotensi berubah arah.
Setelah laga berakhir, Zverev merangkum perjalanan yang ia jalani di Wimbledon. Ia mengatakan, “We had a pretty good two months, even though we lost this final.” Ia menambahkan, “We came into Wimbledon having never reached the quarter-finals, and we reached a first final.” Zverev juga menegaskan makna gelar impian itu baginya pada usia 29 tahun: “At 29, this is the first time I believed I could win this trophy.”












