jurnalistik.co.id – Endang Sukmawati (63) kini hanya bisa duduk terdiam, menatap ruang pengungsian di Loji Gandrung sambil memikirkan nasib keluarganya. Ia termasuk salah satu warga yang rumahnya ikut hangus ketika kebakaran terjadi di Aspol Panularan, Kecamatan Laweyan, Kota Solo.
Kebakaran itu terjadi pada Jumat (31/7/2026) sore. Dalam waktu yang singkat, api menghanguskan rumah-rumah yang berada di asrama tersebut hingga tinggal kenangan bagi penghuni yang sudah bertahun-tahun menempati tempat tinggalnya.
Endang mengaku sudah tinggal selama 35 tahun di lokasi tersebut. Ia menempati rumah bersama sembilan kepala keluarga (KK) lainnya, sehingga total terdapat 10 KK yang terdampak dan rumahnya hangus dalam peristiwa itu. Setelah kejadian, ia menyebut tak ada harta benda yang tertinggal selain pakaian yang ia kenakan saat kebakaran berlangsung.
Perasaan Endang bercampur antara sedih dan kacau. Rumah yang selama puluhan tahun menjadi sandaran hidupnya habis dilalap “si jago merah” dalam sekejap, meninggalkan kondisi yang sulit ia terima. Di tengah keterkejutan, ia tetap harus berusaha memastikan keluarganya aman dan bisa ditampung sementara.
Meski kehilangan tempat tinggal dan barang-barang, Endang menyatakan masih ada hal yang patut disyukuri. Keluarganya dan warga terdampak lain memperoleh tempat untuk beristirahat sementara di Loji Gandrung, yang merupakan guest house rumah dinas Wali Kota Solo.
Tempat tinggal sementara dan pembagian kamar
Pengungsian di Loji Gandrung dihuni 20 jiwa dari 8 KK Aspol Panularan. Mereka memilih mengungsi di lokasi yang disediakan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo sejak Jumat malam, menyusul kebakaran yang membuat rumah-rumah di asrama tidak lagi bisa digunakan.
Namun tidak semua warga memilih jalur yang sama. Dua KK lainnya memilih tinggal di rumah sanak saudara. Sementara itu, ada pula yang bertahan di asrama, meski peristiwa kebakaran mengubah kondisi tempat tinggal mereka.
Berita Terkait
Di Loji Gandrung, pengungsi ditempatkan di lima kamar yang dibagi untuk 8 KK. Pembagian ruang tersebut membuat suasana pengungsian memiliki pola tersendiri sesuai kebutuhan penghuni.
Endang menuturkan kondisi di lokasi pengungsian dengan cara yang lugas, “Ya ini cewek-cewek, cewek-cewek semua. Terus sana anak-anak, sana bapak-bapak,” ujar Endang saat ditemui di Loji Gandrung, Sabtu (1/8/2026). Pernyataan itu menggambarkan bagaimana aktivitas dan penempatan penghuni diatur agar setiap kelompok dapat beraktivitas dan beristirahat.
Baginya, pengaturan tersebut menjadi penopang awal untuk bertahan di tengah kondisi yang kehilangan. Ketika barang-barang tak lagi dimiliki, tempat dan pengelolaan ruang sementara menjadi hal yang menentukan kenyamanan harian.
Menunggu kepastian, tanpa tahu sampai kapan
Setelah kebakaran, Endang dan keluarganya menunggu proses lanjutan sambil menyesuaikan diri di tempat baru. Ia mengaku belum mengetahui sampai kapan harus tinggal di pengungsian. Ketidakpastian itu terasa berat, terlebih karena ia harus memikirkan kelangsungan hidup keluarga setelah kehilangan rumah.
Di lokasi pengungsian, ia berusaha menjalani hari-hari dengan berbekal apa adanya. Ketika baju di badan menjadi satu-satunya yang tersisa, setiap kebutuhan harian terasa lebih mendesak dan perlu disikapi dengan segera. Di saat yang sama, ia juga tetap memperhatikan situasi di sekitar karena setiap keluarga menghadapi tekanan yang berbeda.
Kebakaran yang menimpa Aspol Panularan membuat perubahan mendadak yang sulit diproses dalam waktu singkat. Endang menggambarkan betapa cepatnya kebakaran mengubah rumah yang sudah ditempati selama 35 tahun menjadi puing yang tak lagi bisa dihuni. Pengalaman tersebut meninggalkan dampak psikologis yang nyata, terlihat dari cara ia memandang ke depan saat ditemui.
Di tengah kesedihan, Endang tetap menyebut adanya fasilitas di Loji Gandrung sebagai bentuk bantuan yang membuat warga bisa menjalani masa pemulihan. Ia memandang ketersediaan tempat tersebut sebagai langkah awal agar keselamatan warga tetap terjaga sambil menunggu solusi untuk hunian berikutnya.
Peristiwa kebakaran Aspol Panularan meninggalkan duka bagi 10 KK yang rumahnya hangus. Bagi Endang, kehilangan yang dialami bukan hanya soal bangunan yang rusak, melainkan juga tentang rutinitas yang selama puluhan tahun terbentuk di tempat yang sama. Kini, ia menghadapi bab baru hidup di pengungsian—dengan harapan agar semua proses penanganan berjalan cepat dan keluarganya segera memiliki kepastian yang lebih baik.









