Peristiwa

Trauma Banjir Kerap di Sungai Batang Agam: Warga Mengungsi Setiap Kali Hujan Turun

×

Trauma Banjir Kerap di Sungai Batang Agam: Warga Mengungsi Setiap Kali Hujan Turun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Trauma Banjir Berulang di Sungai Batang Agam: Warga Selalu Mengungsi Tiap Hujan Turun

jurnalistik.co.id – Warga Jorong Kubu dan Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, hidup dengan ketakutan yang berulang saat musim hujan datang. Dalam beberapa tahun terakhir, ancaman banjir yang datang silih berganti membuat mereka sulit benar-benar merasa aman.

Terbaru, banjir kembali merendam permukiman warga pada Sabtu (18/7/2026) malam. Akibat kejadian itu, sedikitnya 450 warga terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan diri dari kepungan air.

Pada Senin (20/7/2026) pagi, seluruh pengungsi dilaporkan sudah kembali ke rumah masing-masing seiring surutnya air. Namun, rasa trauma tidak langsung hilang begitu saja, mengingat peristiwa serupa sudah berkali-kali menimpa wilayah tersebut.

Warga menegaskan, kejadian sekarang bukan peristiwa pertama yang mereka hadapi. Sejak banjir bandang dahsyat melanda akhir tahun 2025 lalu, mereka merasakan perubahan kondisi lingkungan yang justru membuat banjir susulan semakin mudah terjadi.

Menurut warga, keresahan mereka dipicu karena penanganan pascabencana tidak kunjung tuntas. Salah satu pemicu yang disebut berpengaruh adalah pendangkalan Sungai Batang Tumayo akibat tumpukan material sedimen, sehingga air lebih mudah meluap ke permukiman meski intensitas hujan tidak terlalu ekstrem.

Firjinia Trisa, warga Jorong Kubu, menggambarkan bagaimana kehidupan sehari-hari berubah menjadi rangkaian kesiapsiagaan. Ia mengatakan harus selalu bersiap mengungsi setiap kali langit mulai mendung dan hujan turun mengguyur daerahnya.

“Sampai sekarang aliran sungai belum juga diperbaiki. Kami sudah menyampaikannya, tapi belum ada tindakan nyata. Setiap kali hujan turun pasti banjir, saya sekeluarga selalu mengungsi,” ketus Firjinia.

Keluhan serupa disampaikan warga Jorong Labuah. Bagi mereka, banjir bukan hanya soal kerusakan sesaat, melainkan juga tekanan psikologis yang menetap karena pola kejadiannya cenderung berulang.

Pada pekan sebelumnya, tepatnya Senin (6/7/2026) sekitar pukul 18.30 WIB, banjir pernah merendam puluhan rumah warga dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter. Banjir pada saat itu juga memutus jaringan seluler serta memicu pemadaman listrik total, sementara jalan utama sempat tergenang setinggi 60 sentimeter yang melumpuhkan akses kendaraan.

Di tengah kondisi tersebut, upaya evakuasi dilakukan oleh BPBD Agam bersama tim gabungan. Proses penanganan ketika air naik cepat menjadi pengalaman lain yang kembali dihadapi warga, terutama karena mereka sudah terbiasa merasakan datangnya banjir tanpa bisa menunggu efek jangka panjang dari perbaikan yang diharapkan.

Wali Jorong Labuah, Elbama, menegaskan bahwa penanganan swadaya yang dilakukan selama ini tidak lagi memadai untuk membendung luapan air. Ia menyoroti bahwa dasar sungai dinilai lebih tinggi dari permukiman, sehingga diperlukan langkah yang lebih serius, termasuk penggunaan alat berat, agar risiko terhadap warga bisa ditekan.

Setelah air mulai surut, kegiatan warga tidak langsung kembali normal. Aktivitas harian yang sebelumnya berjalan rutin kerap terhenti lebih dulu karena mereka masih menimbang kondisi sekitar, termasuk kondisi aliran sungai dan kemungkinan air kembali naik pada jam-jam hujan turun. Pengalaman beberapa kali banjir membuat warga lebih cepat mengambil langkah ketika tanda-tanda perubahan cuaca mulai terlihat.

Bagi sebagian keluarga, gangguan saat banjir datang juga menyisakan kesulitan yang sama berulangnya. Ketika jaringan seluler terputus dan listrik ikut padam, komunikasi warga menjadi lebih terbatas, termasuk saat harus mengoordinasikan perpindahan ke tempat yang lebih aman. Kondisi jalan yang sempat tergenang, dengan ketinggian yang melumpuhkan akses kendaraan, turut menyulitkan proses bantuan dan perpindahan barang maupun kebutuhan mendesak.

Warga juga menilai bahwa upaya penanganan yang bersifat bertumpu pada kesiapsiagaan harian belum sebanding dengan risiko yang mereka hadapi. Karena dasar sungai disebut lebih tinggi daripada permukiman, mereka menganggap dibutuhkan penanganan lebih serius untuk menekan luapan air, bukan hanya respons sementara. Dalam pandangan warga, penggunaan alat berat menjadi salah satu kebutuhan yang muncul agar penanganan lebih efektif, sementara proses perbaikan diharapkan tidak memakan waktu terlalu lama.