jurnalistik.co.id – Kemenangan Angh membawa film berbahasa Konyak asal Nagaland masuk ke percakapan perfilman dunia. Film debut sutradara Theja Rio itu meraih Platform Prize di Toronto International Film Festival, sambil membuka kemungkinan penilaian menuju Oscar 2027.
Nagaland sendiri adalah negara bagian pegunungan dengan populasi kurang dari dua juta orang, dan Angh memilih bahasa Konyak—sebuah bahasa yang tidak akrab di telinga kebanyakan penonton India maupun internasional.
Di Toronto, juri menilai Angh layak mendapat Platform Prize karena “refreshing perspective” dan potret dunia yang jarang hadir di layar internasional. Penghargaan tersebut ditujukan untuk film yang memiliki suara pengarahan yang sangat khas.
Kemenangan itu juga memberi Angh jalur yang tidak biasa menuju Academy Awards. Di bawah aturan baru, pemenang penghargaan tertentu pada enam festival internasional bisa dipertimbangkan untuk kategori Film Internasional Tanpa Bahasa Inggris tanpa sepenuhnya bergantung pada pengajuan resmi negara asal.
Meski begitu, ini tidak otomatis membuat Angh menjadi nominee Oscar. Bagi film dari salah satu negara bagian terkecil India, kesempatan itu menempatkan karya berbahasa Konyak dalam percakapan global yang selama ini hampir absen.
Rio mengaku masih seperti baru tersadar dampaknya. Sekitar 72 jam setelah kemenangan, ia berbicara dari Delhi dengan jadwal padat—dari penerbangan ke Toronto hingga wawancara berulang kali.
Ia mengatakan kompetisi di Toronto berisi banyak film kuat. “There were a lot of good films in the competition”, katanya, termasuk karya dari sutradara yang sudah jauh lebih berpengalaman. “They thought we were going to win. I wasn’t.”
Di luar layar, pilihan artistik Rio ternyata tidak pernah jauh dari dunia musik. Sebelum cinema, ia ingin menjadi rapper—“a kid from Compton instead of a kid from Nagaland”, sebagaimana ia menggambarkan dirinya.
Selera Rio masih bergerak dari Black Thought, vokalis utama The Roots, sampai Abbas Kiarostami. Untuk film pertamanya, ia justru memilih untuk kembali mendekat pada tanah tempat ia tumbuh.
Angh berlatar awal 1960-an dan mengikuti Anghba, kepala turun-temurun yang menua di sebuah desa Konyak, bersama putranya yang masih muda saat dunia di sekitar mereka berubah. Konyak termasuk salah satu dari 17 kelompok suku besar di Nagaland dan terkonsentrasi di distrik timur Mon, tempat para kepala adat dikenal sebagai Anghs.
Beberapa lelaki tua bahkan masih memiliki tato wajah terkait praktik headhunting dalam sejarah Konyak. Dalam kisah film, Anghba dan putranya digambarkan sebagai di antara yang terakhir mempertahankan keyakinan leluhur ketika Kristen mulai menyebar.
Dalam pemeran, Anglong Konyak memerankan kepala desa Anghba, sementara Sobino Rengma memerankan putra yang bernama Amao. Nancy Nisa Beso tercatat sebagai produser film, bersama pemeran lain dalam produksi tersebut.
Perubahan yang dibangun cerita berjalan beriringan dengan pergeseran keyakinan. Ketika seorang misionaris Amerika tiba—diperankan oleh aktor Skotlandia Douglas Henshall—ayah menolak, sedangkan putra mulai menunjukkan rasa ingin tahu.
Rio menjelaskan ide film muncul beberapa tahun lalu ketika ia berkunjung ke Mon untuk proyek lain. Yang paling menarik baginya adalah bagaimana perbedaan generasi dapat hidup berdampingan dalam satu ruang yang sama.
“It feels like you’ve jumped on a time machine,” ujar Rio. “The past and the present sort of coexist together.”
Waktu yang dipilih film juga membawa konteks sosial. Nagaland, yang sebelumnya menjadi bagian dari Assam, secara resmi menjadi negara bagian India pada Desember 1963.
Pada periode itu, penyebaran Kristen di kalangan komunitas Naga telah berlangsung selama puluhan tahun. Dampaknya merembes tidak hanya pada keyakinan, tetapi juga kebiasaan, ritual, dan kehidupan sehari-hari.
Dr B Amo Konyak, sarjana yang mempelajari masyarakat Konyak, menggambarkan perubahan itu seperti “disappearance”. Ia menyebut sejumlah praktik hilang, sementara yang lain “survived in fragments”—bertahan dalam ingatan tetua serta benda-benda pusaka keluarga.
Namun Dr Konyak menegaskan budaya tidak berhenti begitu saja. Orang membawa potongan-potongan tradisi ke dunia sosial dan religius yang baru, sehingga tradisi tetap bertahan tetapi maknanya berubah seiring bentuknya bergeser.
Persis pada momen transisi itulah Rio ingin menempatkan cerita. “The past 50 or 60 years have brought extraordinary churn,” katanya, seraya menggambarkan jarak antar generasi yang semakin melebar.
Dalam Angh, perubahan itu dieksplorasi melalui hubungan ayah dan anak. Mereka “intimately love and care about each other very deeply”, meski dunia mereka mulai tertarik menjauh.
Berita Terkait
Sementara itu, kritikus Siddhant Adlakha menangkap ambiguitas yang dibangun film. Ia mengatakan “Progress and tradition can be nonlinear, even entwined”, bukan sekadar kekuatan yang saling meniadakan secara lurus.
Belum banyak penonton luas yang bisa menyaksikan Angh secara langsung, tetapi cuplikan singkat menunjukkan cara Rio merancang dunia tersebut. Kabut hadir di perbukitan hijau yang curam, sosok bergerak melalui hutan dan jalur desa, sementara api dan lampu menyingkap wajah dari gelap.
Rio tidak menjadikan lanskap hanya sebagai latar. Ada dunia kecil yang tersusun oleh ritual, keluarga, dan geografi, sementara sesuatu yang lebih besar menekan dari luar tepinya.
Adlakha menyoroti close-up yang tenang dari Anghlong Konyak. Ia juga menilai cara Rio menangkap “subdued rage” melalui “gentleness”.
Bagian yang kamera perlihatkan sama pentingnya dengan dari mana kamera memandang. Dalam sejarahnya, masyarakat Konyak lama dilihat dari sudut pandang luar.
Dr Konyak merujuk pada penjelajah, pejabat kolonial, misionaris, dan fotografer yang datang untuk menatap wajah bertato, ornamen, senjata, serta praktik headhunting. Ia menambahkan bahwa kehidupan di balik citra-citra itu sering tidak sepenuhnya terlihat.
Rio sadar ia mewarisi pola pandang semacam itu. “There have been several films and documentaries made about Nagaland,” katanya, “but these sort of films tend to follow the gaze of the explorer rather than the subject.”
Dengan Angh, ia ingin membalik arahnya dengan mengajak penonton “step inside the shoes of these characters”. Perubahannya terasa halus, tetapi dampaknya nyata.
Konyak tidak lagi tampil sebagai sisa eksotis masa lalu, melainkan manusia yang menjalani “love, grief, conflict, faith, uncertainty and generational change”, sebagaimana diuraikan Dr Konyak.
Proses penyusunan cerita juga melibatkan komunitas. Para penasihat Konyak mengerjakan dialog, kostum, dan desain produksi, sementara banyak pemeran dipilih dari penampil Konyak yang baru pertama kali terlibat.
Hutan dalam Angh pun bukan sekadar latar. Adlakha mengatakan Rio memperlakukannya “not just as a setting, but as a home with a history,” sebanding dengan cara pembuat film perkotaan memperlakukan Mumbai atau New York.
Rio dan sinematografer Adam Pietkiewicz menggunakan film 16mm saat memotret Angh. Tim mendasarkan rekreasi visual pada foto dan rekaman tentang para misionaris serta komunitas Naga pada dekade 1950-an dan 60-an.
Mereka ingin meniru grain, tekstur, dan atmosfer arsip tersebut. Pada saat yang sama, titik pandang digeser dari “outsider” menuju subjek.
Pilihan itu melahirkan persoalan logistik. Berbeda dari rekaman digital, film yang diekspos tidak bisa langsung ditinjau di lokasi, sehingga setiap empat atau lima hari gulungan film harus dikirim ke Mumbai untuk diproses.
Walau kru tetap melanjutkan pengambilan gambar, mereka tidak mengetahui secara persis apa yang telah tertangkap. Rio juga menghadapi masalah teknis yang lebih prosaik saat syuting malam dengan Henshall.
Dalam adegan, sebuah jeep tua dari Perang Dunia II semestinya didorong masuk ke frame. Saat latihan, kendaraan bekerja sesuai rencana, tetapi ketika kamera mulai merekam, mesin tidak mau menyala.
Setelah upaya berulang, kru hanya berhasil mendapatkan satu kali pengambilan saat jeep masuk ke frame. “It was a very difficult night,” kata Rio.
Meski Angh adalah film panjang pertama Rio, perjalanannya menempatkan karya ini dalam peta sinema India yang makin melebar, terutama dari wilayah timur laut. Adlakha menunjuk pembuat film seperti Rima Das dari Assam dan Dominic Sangma dari Meghalaya yang menunjukkan kompleksitas gagasan tentang sinema India.
Rio sendiri menilai Nagaland masih berada di tepi panggung itu. Industri filmnya, katanya, “at a very nascent stage”, dengan jangkauan yang belum menyamai pusat-pusat perfilman India yang sudah mapan.
Meski demikian, ia berharap perhatian yang dibawa Angh bisa kembali membawa dampak bagi daerahnya. Ia mengatakan ada “so many talented filmmakers with so many beautiful stories that are yet to be told”.
Untuk saat ini, fokus Rio menuju hal-hal yang lebih sederhana. “I want to play football with my friends.”







