Entertainment

Putra Robin Hardy Rampungkan Trilogi The Wicker Man Lewat Wrath of the Gods

×

Putra Robin Hardy Rampungkan Trilogi The Wicker Man Lewat Wrath of the Gods

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Wicker Man director's sons complete their late father's film trilogy

jurnalistik.co.id – Putra-putra sutradara Robin Hardy akhirnya menyelesaikan kisah penutup untuk trilogi folk horror yang sempat tertunda sejak lama. Film tersebut, Wrath of the Gods, dijadwalkan tayang perdana di FrightFest London pada Jumat.

Robin Hardy sejak awal membayangkan The Wicker Man (1973) sebagai bagian pertama dari sebuah trilogi. Upaya mendekatkan diri pada rencana itu muncul lewat The Wicker Tree yang dirilis pada 2011, namun langkah berikutnya tidak sempat selesai karena kematian Hardy pada 2016 di usia 86 tahun.

Kini, Justin dan Dominic Hardy—anak-anaknya—mendapat kesempatan menyelesaikan pekerjaan ayah mereka setelah menemukan naskah untuk film terakhir. Kabar ini hadir sebagai penuntasan yang sudah lama menjadi “mimpi keluarga”.

Dominic Hardy menceritakan bagaimana materi itu muncul dari penemuan arsip yang tak terduga. Ia mengatakan, “The person who bought Justin’s old family home said they’d discovered six sacks of letters, scripts and other material pertaining to Robin Hardy and The Wicker Man in the attic.”

Menurut Dominic, Justin sempat memiliki dorongan untuk membakar seluruh berkas tersebut. Namun, keputusan akhirnya berbeda, karena mereka tidak bisa mengabaikan bahan sumber yang tersisa, termasuk naskah dan materi terkait proses kreatif sang ayah. Dominic menambahkan, “Justin’s first instinct was to burn them, but we couldn’t ignore this original source material. Although we left it unopened for six months or more.”

Di tengah kumpulan dokumen itu, Wrath of the Gods juga memperlihatkan jejak panjang film pertama The Wicker Man terhadap sejarah perfilman Inggris. Produksinya sendiri berlangsung pada masa industri sedang dalam krisis, ketika para pendukung finansial kesulitan dan para pemain—termasuk legenda horor Christopher Lee—harus rela bekerja tanpa bayaran agar proyek tetap bisa tuntas.

Film itu berlatar di sebuah pulau di Kepulauan Hebrides pada musim semi, tetapi proses pengambilan gambar dilakukan di Galloway pada musim gugur hingga awal musim dingin. Saat perilisan awal, karya tersebut sempat kurang mendapat perhatian dan bahkan “tenggelam” sebagai film pendamping (second feature). Namun reputasinya kemudian naik, sementara berbagai versi dan cerita tentang materi yang hilang ikut beredar.

Domineering-nya suasana dan klimaks yang mengganggu membuat The Wicker Man akhirnya digemari penggemar horor. Ketika BBC meluncurkan serial bioskop kultus Moviedrome pada 1988, pilihan untuk malam pembuka tinggal satu: pemutaran perdana sebuah versi/editan The Wicker Man yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Perjalanan produksi yang berliku ternyata sejalan dengan masalah yang menimpa keluarga Robin Hardy. The Wicker Man disebut sampai membuat Hardy bangkrut, lalu ia meninggalkan ibunda Justin, Caroline, yang harus memikul seluruh utang. Sesudah itu, Hardy menikah empat kali lagi dan memiliki delapan anak pada akhirnya.

Justin dan Dominic juga menyinggung hubungan rumit mereka dengan film tersebut melalui buku dan dokumenter Children Of The Wicker Man pada 2024. Dalam konteks itulah, arsip yang baru terbongkar memuat naskah untuk film ketiga yang diusulkan—yakni Wrath of the Gods—serta rincian tentang bagaimana sang ayah menemukan gagasannya.

Dominic menyebut asal ide itu datang dari pengalaman yang tak terduga. Ia mengatakan, “He had had been in an airplane and had a turn because his heart medication wasn’t working.” Ia melanjutkan bahwa Hardy harus mendarat di Reykjavik dan menjalani pemulihan selama seminggu, lalu kembali membawa konsep tersebut.

Versi gagasan itu, menurut Dominic, berawal dari imaji taman hiburan di sekitar gunung berapi yang sudah punah di Islandia—tempat para dewa Norse menjadi murka dan memicu kekacauan. Dominic menambahkan, “And then he decided it ought to be set in Shetland because of the other parts of the trilogy.”

Justin—sutradara yang mendapat nominasi Emmy dan BAFTA—bekerja bersama Dominic untuk menyusun cerita mereka sendiri, tetap bersandar pada rancangan besar trilogi. Dalam versi naratif yang mereka kembangkan, seorang janda muda yang sedang berduka kembali ke pulau Hel untuk menguburkan suaminya yang meninggal karena bunuh diri.

Ia kemudian dipandang sebagai pertanda buruk oleh komunitas setempat. Warga tidak menerima kehadirannya; mereka menilai janda itu sebagai simbol kejahatan dan nasib sial. Ketika anak-anak mulai menghilang, pulau itu dipaksa menghadapi sejarahnya sendiri yang ternyata rumit dan berlapis.

Proses syuting dimulai di Shetland pada musim semi 2025. Untuk peran utama, Wrath of the Gods menampilkan Francis Magee—aktor yang pernah membintangi Game of Thrones dan Rose of Nevada—serta aktris Norwegia Christiane Schaldemose. Sebagian besar pemeran lainnya ditemukan secara lokal.

Lynsey Rendall, yang memerankan Maeve (pasangan di layar Francis), menggambarkan keterlibatannya sebagai kehormatan besar. Ia mengatakan, “It feels like a huge honour,” dan menambahkan bahwa The Wicker Man begitu terkenal serta berdampak pada budaya populer sehingga rasanya luar biasa bisa ikut berada di dunia itu.

John Haswell, yang berkarier di teater sebelum terlibat dalam proyek ini, menyebut perannya sebagai Pendeta Rev Knox menjadi salah satu sorotan dalam perjalanan kariernya. “He’s a sleazy man of the cloth and I had an absolute ball working on it,” ujarnya, sebelum menuturkan bahwa syuting berlangsung intens selama enam minggu, hampir setiap hari di Voe.

Martha Robertson, yang saat syuting masih berusia 17 tahun dan sedang menghadapi Highers, mengatakan pengalaman itu membantu membuka arah karier aktingnya. Ia menceritakan satu adegan yang dirancang berlangsung saat hujan deras dan hari yang suram, tetapi justru terjadi pada hari yang tampak paling cerah dalam tahun tersebut.

Ia menambahkan bahwa semua jendela harus digelapkan, sementara dua kru berdiri di sebuah tembok sambil menyiapkan selang air dan leaf blower untuk menghadirkan angin serta hujan. “Which seemed really crazy because it rains every day on Shetland, but not the day we needed it to,” katanya.

Penayangan di FrightFest dan duka keluarga

Banyak pemeran serta kru dari Shetland berencana menghadiri premier Wrath of the Gods di FrightFest London pada Jumat. Namun perayaan mereka diwarnai kesedihan setelah Justin Hardy meninggal secara mendadak bulan lalu pada usia 61 tahun.

John mengatakan bahwa yang mereka nantikan kini bergeser menjadi sesuatu yang lebih kompleks. Ia menyebut, “We all were – still are – looking forward to seeing the finished film,” tetapi kemudian menegaskan bahwa situasinya bukan sekadar merayakan film, melainkan merayakan Justin dan hidupnya: “It will be wonderful and sad. A complex mixture of emotions.”

Bagi Lynsey, film ini menjadi kesaksian bagi sutradara yang telah berpulang. Ia menilai proyek tersebut merupakan risiko besar, namun untuk sampai ke tahap akhir—ketika film akhirnya tampil di layar—terasa seperti hal yang nyaris “ajaib”. Ia juga mengungkap rasa sakit karena Justin tidak ada untuk melihat apa yang sangat ia perjuangkan.

Bagi keluarga Hardy, Wrath of the Gods sekaligus menjadi penghormatan bagi tiga orang dalam satu garis. Film ini melengkapi trilogi Wicker milik Robin Hardy dan didedikasikan untuk Caroline, ibu Justin yang sempat menjadi executive producer rahasia tanpa kredit pada film 1973. Caroline wafat pada 1984 dalam usia 51 tahun, tanpa mengetahui bahwa dukungan yang ia berikan kelak membuat film itu dicintai dan dihargai.

Dominic menutup dengan nada yang sarat perasaan. Ia mengatakan, “It will be poignant beyond imagining. A sad but celebratory moment,” lalu menambahkan bahwa ia tahu Justin sangat bangga karyanya diambil oleh FrightFest. “Justin’s efforts have brought us all together as a family and helped us harness all our energy,” ujarnya.