Entertainment

EsDeeKid masih misterius, tapi penggemar tetap tak masalah setelah penampilan di All Points East

×

EsDeeKid masih misterius, tapi penggemar tetap tak masalah setelah penampilan di All Points East

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: All Points East: EsDeeKid mystery no problem for rapper's fans

jurnalistik.co.id – Kerumunan di All Points East pada Minggu malam seolah sudah siap menerima satu hal: nama EsDeeKid tetap menjadi teka-teki. Namun, bagi penggemarnya, identitas yang tak pernah benar-benar terbuka bukan penghalang—justru menjadi bagian dari daya tarik.

Penampilan EsDeeKid digelar dari atas sebuah kastel, dengan lantunan rap yang mentah dan berirama tegas, persis seperti gaya khasnya. Ia muncul sebagai sosok bertopeng yang raps dengan logat Scouse dan hanya menyingkap bagian matanya, membangun jarak sekaligus keunikan di panggung. Kondisi itu membuat banyak orang mengamati penampilannya dengan cara yang sama seperti rumor beredar: menebak-nebak, lalu kembali menonton.

Publik sempat heboh ketika, pada musim panas lalu, banyak penonton yakin bahwa EsDeeKid adalah Timothée Chalamet. Kecurigaan tersebut akhirnya dipadamkan pada Desember ketika Chalamet tampil bersama EsDeeKid dalam sebuah video. Setelah itu, kebisingan dan teori konspirasi mereda, tetapi laju popularitas rapper tersebut tidak ikut melambat.

Sejumlah pengunjung yang menyaksikan set di London timur menggambarkannya dengan nada kagum. Salah satu penonton mengatakan penampilannya “absolutely insane” dan dipenuhi “constant energy”. Di antara kerumunan, Isaac menuturkan, “We’ve had proof it’s not TimothĂ©e Chalamet, I think he’s just some guy from Liverpool and if he is, that’s exactly what I rate.” Baginya, harapan terbesar justru agar EsDeeKid belum terlalu ‘terkenal’ dan tetap bisa dianggap sebagai “just some guy from Liverpool”.

Isaac juga menilai anonimitas itu membawa keuntungan untuk ekosistem musik bawah tanah. Ia menyebut, “I feel like the industry really needs someone who [doesn’t] really have any presence in the scene,” lalu menegaskan, “It’s really good if it’s someone who is completely anonymous, I think that would be a great thing for the underground.”

Di sisi lain, kolaborasi video EsDeeKid dengan Chalamet sempat viral. Rekaman tersebut tercatat telah meraih 42 juta penayangan di TikTok, sekaligus mematahkan teori identitas utama yang selama ini berputar. Walau demikian, bagi penonton seperti Isaac, yang terpenting bukan siapa wajah di balik topeng, melainkan cara musik itu “berbicara” tanpa perlu dorongan pemberitaan yang panjang.

Hype tetap berjalan, jadwal tur makin panjang

EsDeeKid juga beberapa waktu terakhir mengumumkan rencana tur 48 tanggal. Tur ini diberi nama “Council House Rat” dan akan memuat pertunjukan di Eropa, Amerika Serikat, serta Inggris. Di luar negeri, minat penggemar tampak menyebar cepat, bahkan melampaui batas negara asal.

Menurut informasi tur, jadwal dimulai di Amerika Utara pada September, lalu berakhir pada Desember dengan dua konser di kampung halaman, yakni Liverpool. James menyebut elemen anonimitas itu sebagai sesuatu yang “amazing”. Ia berujar, “I work in event promotion, I think giving yourself an aesthetic, something to cling to, something that people can watch is really important in the music industry, it makes you stand out.”

Penggemar lain, Zari, juga memandang keberadaan EsDeeKid di panggung sebagai misteri yang menyenangkan. Ia mengatakan rap yang dibawakan terasa “very mysterious”, namun justru karena itulah orang jadi semakin ingin tahu. Zari menuturkan, “But that’s the good thing about him, it’s what brings people towards him, we’re all curious.”

Energi mentah, minim pemberitaan, dan gaya yang berbeda

Danil Boparai, content strategy director di Dazed, menilai perhatian yang datang bukan sekadar kebetulan. Ia berpendapat, “the hype is justified” karena EsDeeKid membawa “very raw energy” yang terlihat dari sikapnya yang enggan melakukan banyak aktivitas pers. Boparai juga menekankan bahwa ketika tak ada banyak informasi tentang dirinya, fokus tetap jatuh pada musik.

Boparai menggambarkan EsDeeKid sebagai salah satu suara Gen Z secara musikal, berkat pendekatan rap yang berbeda serta logat Scouse yang membentuk identitas pendengarnya. Ia menambahkan, “EsDeeKid has become one of the voices of Gen Z musically, through a unique take on rap due to his Scouse accent and his aesthetic taps into quite medieval-style fashion.”

Ia menilai set bertema kastel pada hari Minggu sebagai pembeda yang sulit ditemukan di festival lain. Boparai berkata, “He had a castle style set [on Sunday] which was quite unique, I haven’t see that at All Points East or Outbreak festival before.”

Di samping visual panggung, Boparai juga mengaitkan penerimaan cepat dengan karakter lagu yang mudah melekat di platform. Ia menyebut bahwa tiap lagu pada mixtape debut “became like a TikTok anthem”, sehingga ritme dan pesan di dalamnya terasa cepat menyebar.

Popularitas tersebut juga terlihat dari data musiknya. EsDeeKid merilis album debut “Rebel” pada Juni 2025, dan butuh beberapa bulan agar benar-benar masuk ke mainstream. Album itu pertama kali muncul di nomor 82 pada UK Official Albums Charts, sebelum akhirnya mencapai nomor delapan. Di Amerika Serikat, album ini juga mencatat puncak di posisi 23 pada Billboard 200.

Hingga akhir tahun lalu, jumlah pendengar bulanan di Spotify dilaporkan “skyrocketed”. Boparai menilai capaian itu sejalan dengan bagaimana banyak orang akhirnya ikut merapalkan liriknya dengan aksen khas. Ia mengutip penilaian Dazed bahwa “half of Europe rapping in his distinctive scouse accent”.

Dalam pandangannya, rumor besar yang melibatkan nama Chalamet mungkin membantu ‘merek’, tetapi faktor penentu tetap musik. Boparai menegaskan, “EsDeeKid understands the internet,” dan menyebut pentingnya tampil autentik: “It is so important to come across as truly authentic and I think he does because he lets his music do the speaking for him.”

Ia juga menambahkan bahwa identitas vokal EsDeeKid tak berubah. Boparai menyatakan, “He also doesn’t change his accent, he doesn’t reveal his face.” Penutupnya merangkum sikap yang membuat penggemar terus bertahan pada apa yang mereka dengar, bukan pada apa yang mereka cari: “He’s just him, take it or leave it.”