Entertainment

Buku Earl Spencer tentang Diana kembali menyeret luka lama di keluarga kerajaan

×

Buku Earl Spencer tentang Diana kembali menyeret luka lama di keluarga kerajaan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Earl Spencer's Diana book opens old wounds royals would rather forget

jurnalistik.co.id – Buku Earl Spencer mengenai Diana, yang kini menjadi perbincangan publik, kembali membuka luka lama yang selama ini ingin dilupakan sebagian keluarga kerajaan. Respons yang memuncak—termasuk bantahan resmi dari pihak istana—menunjukkan betapa emosional dan sensitif warisan kematian Putri Wales itu masih terasa hingga hari ini.

Peristiwa menjelang akhir musim panas 1997 menjadi salah satu titik yang masih membekas. Saat itu, keluarga kerajaan dinilai kurang peka, sementara publik merespons dengan duka yang meluap—hingga bunga-bunga diletakkan di dekat kediaman dan istana.

Walau peristiwa tersebut sudah hampir tiga dekade berlalu, nada pembelaan dan penolakan terhadap tuduhan dalam memoar Earl Spencer justru menunjukkan betapa isu lama kembali relevan. Dari bantahan yang dianggap “luar biasa marah” terhadap klaim-klaim buku itu, tergambar bahwa persoalan respon saat Diana wafat masih menjadi sesuatu yang ingin dikendalikan.

Di tengah sorotan dan ketidakpastian, keluarga kerajaan juga menghadapi kemungkinan kehilangan dukungan publik. Kematian “People’s Princess” dalam kecelakaan mobil di Paris pada waktu itu memicu kekhawatiran bahwa perhatian publik akan terarah pada institusi, bukan hanya pada duka.

Royal author Valentine Low, yang hadir di Westminster Abbey saat pemakaman Diana, mengingat suasana yang ia sebut sangat mudah tersulut. Ia menggambarkan bahwa keributan terdengar dari luar, lalu perlahan dipahami sebagai suara kerumunan yang mengikuti apa yang disiarkan melalui pengeras suara.

Menurut Low, bunyi itu merambat hingga tembok batu aula, dan kemudian diikuti tepuk tangan di dalam abbey. Ia menekankan momen tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa, terutama di hadapan Charles dan anggota keluarga kerajaan lainnya.

Setelah Diana meninggal, suasana publik yang bergolak akhirnya membuat Ratu Elizabeth II perlu menyampaikan pesan melalui siaran televisi. Dalam pernyataannya, beliau menyinggung bahwa menyampaikan duka tidak mudah, karena keterkejutan awal kerap disusul oleh beragam perasaan—mulai dari ketidakpercayaan, kebingungan, kemarahan, hingga kepedulian terhadap mereka yang masih tinggal.

Teks pesan itu juga menempatkan kenyataan bahwa masyarakat tidak selalu mampu merangkai kata-kata untuk duka yang kompleks. Cerita lain yang muncul dalam artikel itu menyebut bahwa Perdana Menteri yang baru, Tony Blair, dianggap membawa pengaruh modernisasi dalam cara pesan disampaikan secara langsung, sebuah intervensi yang kemudian digambarkan dalam film “The Queen” yang dibintangi Helen Mirren.

Sejumlah ketegangan yang muncul di dunia kerajaan saat ini ditautkan ke trauma yang terjadi pada masa itu. Kematian seorang ibu pada usia yang masih muda, menurut artikel, membentuk suasana batin yang besar bagi putra-putranya, dan seolah ketegangan yang belum selesai tetap ikut memainkan peran dalam hubungan mereka.

Dalam memoar Duke of Sussex, “Spare”, Diana digambarkan sebagai “kehadiran besar” meski tidak lagi ada. Artikel itu menyinggung bahwa Harry menyebut Earl Spencer sempat menolak langkah tertentu, termasuk dalam narasi yang menggambarkan ketidaknyamanan saat berjalan di belakang peti mati ibunya.

Dalam memoar tersebut, Harry menuliskan tuduhan bahwa kakak Charles—dalam kata-kata Harry—mengungkapkan penolakan dengan gaya keras. Harry menulis: “Mummy’s brother, Uncle Charles, raised hell. ‘You can’t make these boys walk behind their mother’s coffin! It’s barbaric,’” sebuah kalimat yang kemudian ikut membentuk narasi perselisihan dengan William.

Artikel juga menyebut bahwa klaim Harry tentang institusi monarki yang didahulukan dibanding kebahagiaan individu ikut menjadi bagian dari cerita yang berujung pada langkah Harry mundur dari peran kerja kerajaan. Dari situlah, jarak serta konflik dengan kakaknya, Prince William, berkembang.

Di dalam buku Earl Spencer “Swan Song: Diana, My Sister”, perselisihan yang muncul setelah kematian Diana—baik di dalam keluarga maupun di antara pihak yang terhubung sebagai kerabat pernikahan—dianggap masih bergema. Artikel ini menyatakan bahwa pertengkaran tersebut ikut diperdengarkan lantang dalam pemberitaan global, dan membuka lagi pertanyaan lama mengenai karakter King Charles, perlakuannya kepada Putri muda, serta hubungan Charles dengan Camilla.

Di ruang digital, penggemar Diana disebut cenderung mempercayai versi peristiwa yang disampaikan Earl Spencer. Prof Pauline Maclaran menilai pihak kerajaan tetap “highly vulnerable” terhadap apa pun yang memunculkan kisah “beautiful princess” yang hidupnya dipotong dalam keadaan tragis dan penuh ambiguitas.

Sementara itu, komentator kerajaan Jenny Bond menggambarkan buku itu sebagai karya yang sangat tidak bersahabat. Ia menyebut buku tersebut menampilkan gambaran yang tidak menyenangkan tentang seseorang, namun ia juga menekankan bahwa itu adalah ingatan sang penulis tentang apa yang terjadi.

Di titik yang paling kontroversial, artikel merujuk pada akun Earl Spencer tentang percakapan dengan Charles saat Diana telah meninggal. Dalam buku tersebut, Charles dituduh mengatakan: “We’ll forget her soon enough.” Selain itu, Charles juga dituduh terdengar “giddily elated” dan seperti “lottery winner” setelah kabar kematian Diana.

Buckingham Palace kemudian menanggapi dengan bantahan yang—meski dibungkus sopan—pada intinya menyatakan percakapan itu tidak pernah terjadi seperti yang digambarkan. Artikel menyebut bahwa Raja “mindful that the pain of fraternal grief can cloud reason, affect judgment and colour memory in ways that others do not recognise”, sebuah kalimat yang menekankan bahwa duka saudara bisa mengaburkan penilaian.

Artikel itu juga mengaitkan perbedaan ingatan dengan kenyataan bahwa ketika kehilangan seseorang, emosi bisa meluap dan orang bisa mendengar hal yang berbeda dari percakapan yang sama. Di sisi lain, keluarga dapat memilih untuk saling menjauh atau mendekat kembali setelah sebuah kematian.

Psikoterapis Nick Hatter menyatakan ia tidak memegang pandangan tentang versi mana yang benar. Namun ia menyebut bahwa saat peristiwa traumatis, ingatan dapat mengalami “distorted”, dan ia menambahkan bahwa telepon tidak menyediakan petunjuk visual maupun bahasa tubuh yang memberi konteks lebih lengkap.

Hatter juga menyinggung bahwa respons terhadap duka bisa sangat beragam dan tidak terduga, termasuk kondisi yang disebut “bereavement mania”. Dalam kondisi itu, seseorang bisa terlihat terlalu hiperaktif atau bahkan seperti sedang dalam euforia setelah kehilangan orang yang dicintai.

Untuk menentukan siapa yang lebih dipercaya, artikel menyebut YouGov telah menerbitkan jajak pendapat pertama. Hasilnya menunjukkan pandangan yang terbelah: 31% meyakini tuduhan Earl Spencer, 36% meragukan kebenarannya, dan 33% menyatakan tidak tahu.

Valentine Low menilai buku itu kemungkinan tidak mengubah banyak pendapat karena publik sudah “settled into their camps” dalam memandang Charles, serta cara mereka menengok era Diana. Ia juga mengatakan ada kemungkinan sebagian orang merasa mengungkit klaim semacam itu terlalu “tawdry” setelah begitu lama.

Penilaian itu sejalan dengan sejarawan dan penulis Sir Anthony Seldon. Ia mengakui keberanian Earl Spencer saat pemakaman Diana, namun tetap menilai memoarnya sebagai publikasi yang “sad and unnecessary”.

Komentator kerajaan Richard Palmer, di sisi lain, menyebut buku ini berpotensi membawa keluarga kerajaan kembali ke masa-masa sulit pada 1997. Ia mengatakan bahwa buku ini dan rangkaian menjelang peringatan 30 tahun kematian Diana tahun depan dapat melemahkan upaya tiga dekade keluarga kerajaan untuk memulihkan citra Charles dan Camilla.

Alasan Earl Spencer masih mempertahankan klaimnya

Artikel menegaskan belum ada penjelasan langsung dari Earl Spencer mengapa ia menulis buku tersebut begitu lama setelah peristiwa. Meski demikian, ia disebut secara tegas membela akurasi tuduhannya dalam wawancara akhir pekan, termasuk saat berbincang dengan Laura Kuenssberg dari BBC.

Dalam wawancara itu, Earl Spencer menguatkan klaimnya bahwa Charleslah yang mengucapkan kalimat-kalimat yang diperselisihkan. Ia menyatakan: “I can tell you here and now, those are exactly the words he said. ‘I was hyper alert to what he was saying and those are precisely the words that he said and I promise that to you now. Genuinely, that is what he said. I don’t hear him saying he didn’t say that.’”

Artikel juga menggambarkan Earl Spencer sebagai figur yang ramah dan menarik secara pribadi, serta seorang penulis yang pernah menyaksikan momen-momen besar dalam lingkungan kerajaan. Daya dampak dari klaimnya, menurut artikel, berasal dari posisi ia sebagai orang dalam—bukan penulis yang tampil sebagai komentator—melainkan pihak yang duduk di meja yang sama dengan anggota keluarga, termasuk pihak keluarga dari dalam lingkaran kerabat.

Jika buku ini menunjukkan bahwa keluarga kerajaan belum sepenuhnya lepas dari jejak kematian Diana, artikel itu juga menyiratkan bahwa hal yang sama berlaku bagi Earl Spencer sendiri. Ia kini kembali menjadi pusat perdebatan, dengan ingatan yang bagi sebagian orang menyentuh luka lama, namun bagi yang lain justru menegaskan cerita yang selama ini tidak terjawab.