jurnalistik.co.id – Koran-koran yang terbit Sabtu menyoroti dua arus besar yang sama-sama memancing perhatian: lanjutan silang pendapat di balik buku Earl Spencer tentang Putri Diana, serta laporan pemberitaan yang menyebut Rusia akan meningkatkan eskalasi perang.
Di Inggris, pemberitaan berangkat dari wawancara Earl Spencer di BBC yang membela kebenaran pernyataannya mengenai percakapan telepon yang ia lakukan setelah kematian sang saudari—ketika saat itu ia berhubungan dengan Pangeran Charles.
Dari kutipan yang dimuat surat kabar Daily Mail, Spencer menyebut Raja Charles III mengatakan kepadanya, “we’ll forget her soon enough”. Namun, pihak Buckingham Palace menanggapinya melalui pernyataan bahwa kesedihan yang dirasakan saudara kandung dapat “colour memory”, sehingga ingatan dapat dipengaruhi oleh duka.
Daily Mail juga menyatakan Earl Spencer membalas Raja Charles dalam wawancara yang digambarkan “defiant” (menantang), sehingga memperpanjang ketegangan di tengah publikasi buku tersebut. Sementara itu, sejumlah surat kabar lain memilih menekankan pilihan kata Spencer sebagai inti kontroversi.
Daily Star, misalnya, menampilkan tajuk satu kata “Monstrous” untuk merujuk pada cara Spencer menggambarkan perkataan sang raja. Nada yang lebih tajam juga terlihat pada The Sun yang menulis bahwa Earl Spencer telah diberi label “hypocrite”, seraya mengaitkannya dengan wawancara pada 1998.
Dalam pemberitaan The Sun, klaim Spencer pada 1998 adalah bahwa ia “never profit from my sister’s life”, tetapi kini—menurut laporan tersebut—Spencer disebut “rakes in [a] fortune” dari kematian sang saudari. Dengan demikian, sorotan bergeser dari isu isi percakapan menuju dugaan perubahan sikap yang dinilai tidak konsisten.
Daily Express menonjolkan pendekatan berbeda: surat kabar itu mengangkat klaim penulis Tom Bower yang menyebut Earl Spencer “undoubtedly” bekerja sama dengan keponakannya, Duke of Sussex, untuk “damage” Raja Charles. Dugaan kolaborasi tersebut kemudian dijuluki “Spencer alliance” oleh koran yang memuatnya.
Berita Terkait
Di sisi lain, Times memuat foto Earl Spencer di halaman depan dengan keterangan “I don’t hear denial from the King”. Times juga menyampaikan bahwa Treasury sedang mempertimbangkan penurunan ambang pajak “mansion tax” menjadi £1.5m menjelang anggaran pemerintah bulan depan. Laporan tersebut menyebut rujukan dari “unnamed government sources” atau sumber pemerintah yang tidak disebutkan.
Times menambahkan konsekuensi politik-fiskalnya: jika Chancellor John Healey benar-benar mengumumkan perubahan tersebut, ribuan rumah lain akan ikut terkena pajak. Dengan kata lain, halaman depan tidak hanya membahas konflik kerajaan, tetapi juga membuka ruang pada perdebatan kebijakan perpajakan.
Ketegangan internasional juga mengambil tempat besar di daftar halaman depan. Daily Telegraph menempatkan Rusia sebagai fokus utama dengan tajuk “Russia prepares to ramp up war” dan menyebut intelijen Barat meyakini Presiden Vladimir Putin sedang “laying the ground for a ‘stealth mobilisation’” akhir pekan ini.
Menurut laporan Telegraph, skenario yang dimaksud mencakup kemungkinan ribuan warga Rusia akan didaftarkan atau dikerahkan melalui proses yang digambarkan sebagai mobilisasi terselubung. Serangkaian kata kunci itu kemudian menjadi pembingkai untuk pembaca yang ingin memahami apa yang dipandang sebagai langkah eskalasi menjelang akhir pekan.
Di saat yang sama, i Paper mengangkat isu pertahanan dengan menyatakan bahwa British Army “secretly relaxed security checks”. Laporan itu menghubungkan perubahan pemeriksaan tersebut dengan masuknya pihak ekstremis sayap kanan jauh yang selama periode dua tahun diklaim mendukung Rusia.
Berbeda dari sorotan perang, The Guardian memuat investigasi yang menyoroti persoalan data. Surat kabar itu melaporkan bahwa data kepolisian yang “sensitive” berada dan disimpan pada platform cloud yang disebut “vulnerable”. Selain isu investigatif, halaman depan juga menampilkan figur hiburan: Nigella Lawson yang disebut sebagai pembawa acara Great British Bake Off.
Di Finansial, Financial Times menempatkan cerita yang terkait perpajakan melalui kisah Fred Done, pendiri Betfred, yang disebut “attacks high taxes”. Dalam pemberitaannya, Done digambarkan sebagai “Britain’s biggest taxpayer” dan pada usia 83 tahun ia menyatakan dirinya “too old” untuk meninggalkan negara demi tujuan pajak, seperti yang menurut koran dilakukan sebagian pihak lain.
Penutup perhatian berasal dari Daily Mirror yang memuat tajuk “My dear friend Ann”. Di sana, Craig Revel Horwood—hakim dalam Strictly Come Dancing—menggambarkan tokoh yang disebut meninggal sebagai “an amazing human being, and brave”. Koran itu juga menulis bahwa Revel Horwood mengatakan ia berbicara dengan Ann enam hari sebelum kematiannya.












