Entertainment

Rapper Inggris-Ghana Sway Meninggal Dunia pada Usia 44 Tahun

×

Rapper Inggris-Ghana Sway Meninggal Dunia pada Usia 44 Tahun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sway: Award-winning British rapper dies aged 44

jurnalistik.co.id – Kabar duka datang dari dunia musik Inggris. Rapper British-Ghana, Sway DaSafo, meninggal dunia pada usia 44 tahun.

Informasi tersebut pertama kali diumumkan oleh organisasi Mobo, sebelum kemudian dikonfirmasi kepada BBC oleh sahabatnya, Kash Ahmad.

Ahmad menyampaikan bahwa Sway wafat di rumahnya di Ghana. Sampai berita ini disusun, belum ada penyebab kematian yang diumumkan.

Perjalanan karier dan ciri khas bermusik

Sway dikenal sebagai penyanyi rap yang menonjol sejak awal kemunculannya. Ia tercatat menjadi rapper unsigned pertama yang meraih penghargaan Mobo pada tahun 2006.

Pada 2012, ia juga mencetak perhatian luas lewat singel “Level Up” yang masuk jajaran top 10. Nama Sway pun makin menguat melalui karya-karya yang membaurkan gaya puitis dan kemampuan merangkai kata.

Ia lahir dengan nama Derek Andrew Safo di London, meski disebut “accidentally”. Ibunya saat itu sedang singgah dalam perjalanan dari Amsterdam menuju Ghana, sebelum kemudian ia dibesarkan di London bagian utara.

Saat remaja, Sway mengasah kemampuannya lewat pirate radio. Ia kemudian kerap mengakui bahwa BBC Radio 1Xtra menjadi jalan awal yang mempertemukannya dengan kesempatan besar pada 2002.

Kariernya muncul pada gelombang awal grime, berdampingan dengan nama-nama seperti Dizzee Rascal dan Lethal Bizzle. Ia dipandang berbeda berkat gaya yang dianggap jenaka sekaligus berpendidikan.

Di awal popularitasnya, Sway pernah menyampaikan, “I’m a positive person. The positivity comes out in my music,”. Ia juga menambahkan, “I don’t go round holding guns to people’s heads so I won’t rap about holding guns to people’s heads.”

Meskipun perhatian dari industri musik cukup luas, ia tetap memilih jalur independen. Ia merilis musik melalui labelnya sendiri, sekaligus menjual mixtape di pasar dan toko rekaman independen.

Sepanjang September 2005, ia kembali menjadi sorotan ketika terpilih sebagai best hip-hop act di ajang Mobo Awards. Ia disebut mengungguli figur-figur besar dari Amerika seperti 50 Cent dan The Game.

Tahun berikutnya, Sway merilis album debut “This Is My Demo”. Dari album tersebut, ia juga melepas singel “Little Derek” yang masuk top 40, dengan tema yang merayakan kalimat, “ended up in HMV instead of HMP”.

Walau albumnya sempat mentok di peringkat 78 pada tangga lagu, “This Is My Demo” tetap membawa namanya ke nominasi Mercury Prize. Ia bersaing di tahap nominasi bersama artis seperti Arctic Monkeys dan Muse.

Pada 2006, ia juga mendukung The Streets dalam tur di Inggris. Ia disebut tampil bersama Mike Skinner pada singel “Harvey Nicks” milik Mitchell Brothers.

Diagnosa Hodgkin lymphoma dan pemulihan

Perjalanan Sway mengalami titik balik pada 2010. Ia didiagnosis mengidap Hodgkin lymphoma, lalu masuk ke tahap remisi pada tahun yang sama.

Dalam kisah yang pernah ia sampaikan, Sway menggambarkan masa itu sebagai, “It felt like I had been dropped in the middle of the sea with no lifejacket,”. Ia juga berkata, “I didn’t have time to think about how I was going to get to the other side, I just had to deal with it.”

Setelah menjalani kemoterapi dan radioterapi, ia kembali produktif. Pada 2012, ia merilis karya yang disebut sebagai hits terbesarnya, termasuk “Still Speedin’” dan “Level Up”.

“Still Speedin’” mengambil sampel dari “Ride On Time” milik Black Box. Sementara itu, “Level Up” menampilkan bagian verse dari Kano.

Karya-karya berikutnya membawa Sway pada kesuksesan kritis sekaligus komersial. Album yang disebut meliputi “Deliverance” serta “Verses from the Vault”.

Ia juga bekerja sama dengan berbagai musisi, seperti Mark Ronson, Ed Sheeran, Akon, dan Childish Gambino. Lewat label rekamannya, Dcypha, ia disebut turut menandatangani dan mengembangkan talenta, termasuk Tiggs Da Author dan KSI.

Keduanya muncul dalam singel 2013 “No Sleep”. Setelah itu, KSI tumbuh menjadi YouTuber yang sangat sukses, dengan aktivitas sampingan di dunia musik.

Sway juga merambah dunia akting. Ia disebut muncul dalam dua episode drama kriminal “Top Boy”, serta tampil dalam film “The Grind” pada 2012.

Saat akhir hayatnya, ia tengah mengerjakan musik baru. Post Instagram terakhirnya, yang dibagikan pekan lalu, merayakan ulang tahunnya yang ke-44.

Kehidupan keluarga dan kabar duka

Sway meninggalkan dua putra, Jalil dan Ammar-Joseph, serta kembaran perempuan, Queen-Inaya dan Queen-Imara. Menurut Kash Ahmad, ia mengasuh anak-anak tersebut sebagai orang tua tunggal di Ghana.

Ahmad juga menambahkan, “It was an honour and a pleasure to have known and worked with him, and my thoughts and prayers are with his family,”.

Penghormatan datang pula dari Mitchell Brothers. Mereka menulis, “We were privileged to have worked with you”, sekaligus memuji “true penmanship level and delivery” milik Sway.

Kardinal Offishall menyampaikan rasa terkejutnya dengan kutipan, “This hit me like a ton of bricks,”. Ia juga menulis, “Rest in eternal peace and God cover your babies. Til we meet again my friend.”

So Solid Crew’s Megaman hanya menuliskan “RIP”. Sementara Mobo Awards menyebut mereka “proud to have him as part of our history,” dan menambahkan, “Our love goes out to his family, loved ones and fans.”

Rapper Baby Blue juga menyampaikan duka di Instagram, “In my heart I worried this day was coming but I wasn’t prepared for the reality of losing Sway.” Ia melanjutkan, “He was my confidante and he guided me through so much of my life musically and personally… I will miss you forever my friend. I am lost.”

Di BBC Radio 1Xtra, Remi Burgz membacakan berita tersebut kepada pendengarnya. Ia menyebut ini sebagai “sad day for British music” dan menggarisbawahi Sway sebagai “UK Rap pioneer”.

Remi Burgz berkata, “One of north London’s finest,” dan menambahkan, “he was mine and many others first experience of UK rap [and] hip-hop in mainstream media”.

Ia juga menuturkan, “He was a literal example of paving the way and showing that UK rap can take up space in music.” Sebagai penutup, ia menyampaikan, “Rest in perfect peace to Sway.”

Kepergian Sway menutup sebuah perjalanan yang melibatkan prestasi, kolaborasi lintas generasi, serta jejak yang kuat di rap Inggris dan budaya grime.