Olahraga

Cricket Inggris 2026: Musim Uji di Era Joe Root Tinggalkan Banyak Tanda Tanya Menjelang September

×

Cricket Inggris 2026: Musim Uji di Era Joe Root Tinggalkan Banyak Tanda Tanya Menjelang September

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: England cricket: Why summer of 2026 has left Joe Root's side with more questions than answers

jurnalistik.co.id – Debut “era baru” kepemimpinan di tim Test Inggris pada musim 2026 ternyata tidak langsung melahirkan jawaban. Bahkan, saat kalender mendekati September, sejumlah pertanyaan baru terus bermunculan—mulai dari keseimbangan skuad hingga arah performa di laga-laga besar berikutnya.

Itu terjadi ketika Joe Root kembali menjadi kapten Test Inggris, sementara Kevin Pietersen disebut sudah “kembali ke lingkaran”. Bagi banyak pihak, dua fakta itu saja sudah cukup menggambarkan betapa bergolaknya musim kriket Inggris, terutama setelah rangkaian perubahan dan diskusi seputar kepemimpinan pasca-Ashes mereda tanpa keputusan yang benar-benar mengubah arah tim.

Debat tentang apakah harus ada perubahan kepemimpinan setelah Ashes pada akhirnya menjadi urusan yang “moot”. Namun, pada saat yang sama Inggris tetap berakhir dalam fase yang disebut “post-Bazball”, berbeda dari identitas yang selama ini diasosiasikan dengan pendekatan agresif sebelumnya.

Pertanyaan besar kemudian muncul: apakah Inggris akan lebih kuat di September dibanding Juni? Di satu sisi, sulit menyangkal bahwa tim ini kehilangan Ben Stokes. Tetapi di sisi lain, musim juga membawa bukti bahwa tidak semua hal berjalan menuju penurunan; beberapa pemain justru menunjukkan kebangkitan, termasuk Ollie Robinson serta Jordan Cox, Emilio Gay, dan Dan Lawrence yang disebut tidak mengalami “waste” dalam perjalanan musim.

Marcus Trescothick sebagai pelatih pengganti bahkan mengakui kekecewaan setelah momen-momen yang kacau. Perubahan nada itu disebut berbeda dari gaya komunikasi “Kool Aid” ala pemain-pemain Bazball, dan tonggak yang menggerus ketenangan Inggris digambarkan terjadi pada sesi malam ketiga dari Test ketiga di Edgbaston.

Di titik itulah disiplin yang sempat terasa menenangkan mulai terkikis. Setiap ayunan Razaullah dipaparkan sebagai pemicu dua jam situasi yang “chaos”, membuat keraguan lama muncul kembali dari pengalaman Root saat periode awalnya sebagai kapten.

Root bahkan digambarkan sempat “duck off the field”, sebuah gambaran yang kontras dengan cara Stokes mengendalikan situasi. Walau demikian, ada catatan positif yang tersisa setelah sesi yang melelahkan itu, termasuk pujian terhadap performa yang ia nilai layak diraih.

Salah satu respons Root yang diangkat adalah, “We can’t ask for any more”. Ia menilai timnya tetap mampu menunjukkan kualitas di tengah rangkaian yang tidak mudah, sekaligus menandai bahwa musim Inggris tidak sepenuhnya hilang hanya karena satu bagian yang merusak ritme.

Namun, keluhan yang lebih dalam justru menyangkut pola jangka panjang performa Test Inggris. Di akhir musim, penilaian tentang seberapa bagus tim ini masih belum jelas, mengikuti jejak beberapa tahun sebelumnya: Ashes 2023 yang berakhir draw, kekalahan mengejutkan oleh Sri Lanka di The Oval pada akhir 2024, hingga kegagalan meraih kemenangan di Test terakhir melawan India tahun lalu.

Rasa frustrasi itu terkait satu hal: ketika seri menentukan benar-benar datang, Inggris tidak berhasil memenangkannya. Di antara tantangan-tantangan besar tersebut, rangkaian musim terasa lebih banyak dipenuhi pertanyaan daripada jawaban, seperti upaya terus-menerus mengejar “brass ring” yang selalu terasa berada satu langkah di luar jangkauan.

Meski begitu, ada fondasi yang bisa dibaca dengan lebih optimistis. Inggris disebut memiliki “pace quartet” yang sedang berkembang, hingga dibandingkan dengan pemenang Ashes 2005. Di pusatnya adalah Robinson yang menandai musimnya dengan 28 wickets pada rata-rata 9,32—angka yang dicocokkan dengan statistik era Test sebelum Perang Dunia I.

Nama lain yang memperkuat gambaran itu adalah Jofra Archer, Josh Tongue, dan Gus Atkinson. Mereka membentuk serangan yang digambarkan seperti “Swiss army knife”, walau Inggris belum memiliki pelempar kiri yang setara. Dari sisi kedalaman, tim juga disebut hanya berjarak satu cedera dari kemungkinan harus memakai pemain yang belum berpengalaman: Sam Cook, Sonny Baker, Matthew Fisher, dan Henry Crocombe hanya mengumpulkan empat cap di antara mereka.

Brydon Carse disebut tersedia, tetapi tetap ada pertimbangan karena insiden di Derby masih dalam penyelidikan. Dalam skenario lain, Olly Stone disebut berpotensi kembali ke skuad jika “due a recall”. Tantangannya, seperti yang dibahas, adalah menemukan komposisi terbaik yang cocok dengan “winter”.

Para four seamer dianggap bisa bekerja baik di Afrika Selatan dan pada satu Test khusus bola pink untuk perayaan 150 tahun di Melbourne. Tetapi dua pertandingan di Bangladesh pada Februari menuntut perubahan formasi, karena kebutuhan taktiknya tidak sama dengan kondisi yang lebih mendukung kecepatan.

Di bagian ini, spin dijelaskan menjadi senjata yang kurang relevan. Daftar kandidat spin untuk Bangladesh disebut panjang, karena tidak ada satu pemain yang benar-benar berdiri di atas yang lain: Shoaib Bashir, Jack Leach, Dom Bess, Will Jacks, James Coles, Mason Crane, Liam Patterson-White, Calvin Harrison, dan Jack Carson semuanya dinilai bisa merasa punya peluang masuk pesawat.

Pemain yang memegang posisi incumbent adalah Dan Lawrence. Ia disebut belum mendapat banyak kesempatan untuk menunjukkan nilai off-break paruh waktu, sehingga keputusan skuad membuka ruang pertarungan nyata. Keputusan itu juga dipengaruhi kembalinya Jacob Bethell dari cedera lutut, yang kemungkinan membuat Inggris punya pilihan antara Jordan Cox dan Emilio Gay untuk Test pertama di Afrika Selatan pada bulan Desember.

Baik Cox maupun Gay disebut sama-sama mengoleksi tiga half-centuries pada musim debut mereka sebagai pemain Test. Cox digambarkan sangat dihargai oleh manajemen Inggris, sehingga bobot yang akan diberikan pada keahlian Gay sebagai spesialis pembuka menjadi variabel penting yang menentukan komposisi awal urutan pemukul.

Di luar urusan bowling dan rotasi, masalah terbesar yang disebut menempel di batting. Ben Duckett hanya mencetak satu abad pada musim tersebut, tetapi rata-ratanya diukur 23 sejak awal Ashes—sebuah sinyal tentang konsistensi yang masih belum berada pada level yang diharapkan. Gay, dengan enam Test, disebut memiliki rata-rata di bawah 25, dan kekecewaannya atas dismissal babak kedua melawan Pakistan diungkap lewat ayunan tongkatnya yang “swish” ke arah stumps.

Untuk semua persoalan batting yang muncul, Inggris membutuhkan Root untuk menemukan kembali performa terbaiknya. Disebutkan bahwa Root menutup musim tanpa satu abad pun untuk pertama kalinya sejak 2019, sekaligus membawa rata-rata terendahnya di musim kandang sejak tahun yang sama.

Dibandingkan setahun sebelumnya, ceritanya terasa kontras. Saat ini, Root mengejar sasaran yang kini semakin jauh: pada waktu yang sama tahun lalu, ia disebut tengah “full steam ahead” dalam mengejar legenda Sachin Tendulkar. Kali ini, jarak 1.643 run untuk menyamai “Little Master” digambarkan makin menjauh.

Namun, simpulan yang ditawarkan lebih moderat: smart money dinilai lebih condong bahwa Root akan keluar dari fase buruk, bukan awal kemunduran menjelang akhir kariernya. Dalam beberapa hari ke depan, Root akan bertemu pelatih baru Stephen Fleming untuk menyusun peta arah lanjutan.

Bersama Rob Key, yang digambarkan sebagai “survivor” dari musim yang kacau, mereka disebut akan mencari cara untuk memenangkan seri-seri bergengsi. Target yang digariskan meliputi Afrika Selatan pada musim dingin ini, Ashes pada musim panas berikutnya, serta India pada awal 2028.

Di sanalah Inggris kembali bertemu pertanyaan-pertanyaan besar yang sama. Mereka masih menggenggam harapan “brass ring”, terus mengejar “pot of gold” di ujung pelangi—sementara evaluasi menyeluruh tetap ditangguhkan hingga tantangan paling besar benar-benar datang.