Olahraga

Lando Norris: McLaren “don’t have the car I need to fight for a championship” untuk kejar gelar

×

Lando Norris: McLaren “don’t have the car I need to fight for a championship” untuk kejar gelar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Norris and McLaren 'don't have car' to fight for title

jurnalistik.co.id – Lando Norris kembali menunjukkan momentum besar setelah meraih kemenangan keduanya secara beruntun di Dutch Grand Prix, namun ia tidak menutup kemungkinan bahwa paket McLaren masih punya keterbatasan saat persaingan titel makin ketat.

Kemenangan di Zandvoort ini menegaskan hasil yang ia mulai bangun sejak awal paruh kedua musim. Norris sebelumnya juga menang di Hungaria pada bulan lalu, lalu kini menyempurnakan rangkaian dengan sukses di balapan terakhir Dutch GP.

Dengan hasil itu, pembalap asal Inggris tersebut ikut mengerek posisi di klasemen pembalap hingga menempati urutan keempat. Ia juga berhasil menyalip Kimi Antonelli di lintasan setelah kehilangan posisi terdepan pada awal balapan yang berlangsung kacau.

Dalam konteks perebutan kejuaraan, Norris kini tertinggal 83 poin dari pemuncak klasemen yang dipegang Mercedes lewat Antonelli. Pada saat yang sama, tim Antonelli, George Russell, berada pada posisi yang setara poin dengan Lewis Hamilton dari Ferrari, dan keduanya tertinggal 59 poin dari Antonelli.

McLaren kuat di kecepatan tinggi, tapi Norris meragukan konsistensi di seluruh kondisi

Norris menilai langkah pengembangan McLaren sudah memberi dampak nyata. Setelah peningkatan yang membuat mereka tampil meyakinkan di Hungaria, kemenangan juga datang dari Belanda. Meski demikian, ia menekankan bahwa mobil yang ia pakai belum sepenuhnya memiliki karakter yang ia anggap perlu untuk menuntut gelar secara konsisten sepanjang sisa musim.

Ia menyatakan secara gamblang: “I’m confident because we clearly have a strong car. We have a strong car in certain areas.” Menurutnya, kekuatan terbesar saat ini berada pada performa di kecepatan tinggi.

Lebih jauh, Norris menegaskan, “It’s not like last year where we were pretty good everywhere.” Ia menilai progres justru paling menonjol di sektor yang berhubungan dengan high-speed performance. Baginya, tidak ada tim yang dapat menandingi McLaren pada kecepatan tinggi, dan itu menjadi alasan ia merasa optimistis pada area tertentu.

Namun, Norris juga menyoroti sisi lain yang justru menjadi sumber keraguan. Ia menuturkan selisih pace yang ia rasakan terhadap Mercedes di beberapa tikungan, “My pace advantage to Mercedes in Turn Seven, Eight was crazy, but their advantage that they have to us in slow speed is also crazy.” Dari penilaiannya, ketidakseimbangan antara kekuatan di high-speed dan kelemahan di slow speed membuatnya tidak bisa langsung mengunci harapan pada perebutan titel tanpa catatan.

Karena itu, ia berkata, “And therefore, I don’t have the confidence to say, ‘Yeah, I can easily fight for a championship for the rest of the season.’” Ia sadar pencapaiannya sekarang sangat solid—baru menang dua race beruntun dan meraih dua pole secara berurutan—tetapi kesimpulannya tetap sama. “I know I’ve just won two races in a row and had two poles in a row, but at the minute I don’t have the car I need to fight for a championship. And I know that’s quite a big comment.”

Monza dan Azerbaijan bisa jadi ujian karena dominasi lintasan lurus

Keyakinan Norris itu didasarkan pada pemahamannya tentang karakter mobil McLaren pada balapan berikutnya. Ia memandang kemampuan slow-speed akan menjadi hambatan saat F1 berlanjut ke Monza, kemudian dua balapan setelahnya di Azerbaijan.

Norris menilai kedua sirkuit tersebut cenderung ditentukan oleh lintasan lurus panjang. Pola seperti itu, menurutnya, akan memberi penalti pada mobil yang memiliki hambatan udara (high drag) lebih besar dibanding Mercedes. Di saat yang sama, sirkuit seperti itu juga menawarkan terlalu sedikit tikungan berkecepatan tinggi yang bisa menonjolkan kelebihan McLaren dan menutup kekurangan pada putaran lambat.

Di tengah penilaian itu, Andrea Stella sebagai kepala tim menyampaikan sikap yang lebih terukur. Ia mengatakan, “If we can confirm our improvements in Monza, then we can look with some optimism at the remainder of the season.”

Balapan Zandvoort sendiri, menurut Stella dan Norris, memperlihatkan level pengemudi yang sedang bekerja pada ritme tinggi. Kemenangan Norris dibangun melalui strategi offset serta pace yang “devastating” ketika mobil memasuki fase kedua balapan dengan ban hard.

Keberhasilan itu juga memperlihatkan bagaimana Norris mengejar ketertinggalan di paruh musim. Ia mengingatkan, walau kebangkitan Verstappen tahun lalu sangat mengesankan, paruh kedua musim Norris juga hampir sepadan karena keduanya sama-sama mengurangi jarak terhadap Oscar Piastri.

Norris juga menilai perkembangannya bukan hanya soal hasil, tetapi cara ia membaca situasi sejak masa awal 2025. Menurutnya, ada peningkatan lanjutan menuju 2026.

Ia menyatakan, “I was driving at a high level the second half of last year,” lalu menambahkan bahwa beberapa hal mungkin terasa berbeda tahun ini. “It’s tough to say, but I do think it’s a trickier car to drive this year in some ways. And I think you can see that because the gaps between team-mates are often bigger this year, I would say, than it was last year.”

Namun, Norris melihat sisi positif dari proses tersebut. Ia mengatakan ia bisa memahami situasi dengan lebih baik dan mengomunikasikan hal-hal ke tim. “I do believe I’m able to understand situations better, to understand the car in a better way. It’s still just horrible to drive, but I’m doing a better job at just understanding this, relaying this to my team, figuring stuff out.”

Ia juga menegaskan ada perbaikan yang tidak semata terjadi di lintasan, tetapi juga di luar balapan. “So, it’s not just I’m driving better on track. I’m certainly eliminating my weaknesses on track, and I don’t have so many, but it’s also how I work off the track. And for me, yesterday to today is a perfect example of the work we put in overnight transformed our race and gave me the opportunity to win.”

Stella memuji cara kerja Norris yang terus naik, tak lepas dari evaluasi ban dan pengembangan mobil

Selain Norris, Stella juga menilai performa pembalapnya semakin tinggi. Ia menyebut Norris tampil pada standar juara dunia. “Lando is driving and operating at a very high level,” kata Stella. “He’s driving at the level of a world champion.”

Stella juga menekankan pola peningkatan yang terus berlanjut. “What I like the most of his journey in Formula 1 is that he keeps improving.” Ia menunjuk adanya momen yang “clicked” setelah start musim 2025, yang kemudian memengaruhi cara kerja di dalam tim.

Menurut Stella, proses itu bukan hanya terjadi sekali. “After the start of the 2025 season, something clicked, which is not only a single click, but it’s a way of working with Lando, for Lando, and that we are adopting also on Oscar’s side now in particular.” Dengan pendekatan itu, ia mengatakan terjadi “continuous improvements” dan Norris tampak makin kuat dari race ke race.

Sebagai gambaran, Stella menilai weekend Norris di Zandvoort bukan sesuatu yang bisa dianggap sudah pasti untuk merebut kemenangan. Ia menunjuk hasil sprint pada akhir pekan yang menunjukkan tantangan. Stella mengingatkan bahwa pada sprint, Norris sempat disalip Ferrari lewat Charles Leclerc dan akhirnya finis ketiga.

Karena itu, Stella menilai kemenangan di balapan utama lahir dari investasi untuk memahami peluang dari sudut pandang eksploitasi ban serta peningkatan mobil. Ia menambahkan, “When you have conditions in which the car slides in the race, there’s not much grip, then I think he is the master in these kind of conditions.”

Meski ada peluang, Norris menolak membuat asumsi berlebihan

Beberapa waktu lalu, tepat sebelum British Grand Prix, Norris juga pernah mengaku adanya rasa frustrasi ketika belum bisa mempertahankan titel yang ia raih musim sebelumnya. Pada saat itu, sebelum McLaren memenangkan race musim ini, ia menyebut dirinya “a little bit” frustrasi atas kondisi tersebut.

Kini, setelah dua kemenangan beruntun, Norris disebut punya peluang—meski ia tetap menahan diri. Ia menegaskan pendekatan bertahap, “One race at a time,” sembari menolak menganggap semuanya sudah pasti. “Obviously, two great weekends, but there’s still plenty of things we can do better, and we need to do better if we want to fight for a championship.”

Ia juga menyampaikan bahwa tantangan masih besar. “It’s still harder than I would like, and I don’t want a bigger gap, so we have to keep working hard. There’s still plenty of races, plenty of opportunity for everyone. So, keep my head down, keep working, and they’ll keep coming.”

Situasi pesaing: Mercedes menunggu upgrade berikutnya, sementara McLaren dan Ferrari mengejar

Kemenangan Norris dan catatan McLaren terjadi dalam situasi yang kontras dengan kondisi Mercedes. Tim tersebut dikatakan mengalami stagnasi pengembangan karena tidak membawa upgrade sejak Canada pada bulan Mei, sehingga mereka kemudian dikejar McLaren dan Ferrari.

Upgrade Mercedes berikutnya baru dijadwalkan pada Bahrain Grand Prix di Malaysia, yang terjadi dalam empat balapan ke depan. Bahkan bagi Antonelli sendiri, tantangan tambahan muncul karena ia menghadapi grid penalty pada balapan kandangnya di Italia berikutnya. Penalti itu terkait kebutuhan menggunakan mesin baru yang melebihi batas alokasi, sebagai dampak masalah reliabilitas di awal musim.

Antonelli menilai situasi itu membuat langkah memperbaiki performa makin mendesak. Ia mengatakan, “Now as a team we need to find a little bit of time because McLaren have done a huge step,” lalu menambahkan bahwa balapan akan tetap menuntut. “So for sure, in this race, it’s going to be more difficult, it’s going to be challenging, but we’re ready to do our best and to maximise every opportunity.”

Di ujungnya, ia berharap gilirannya untuk kembali unggul hadir melalui paket upgrade yang mampu memberi keunggulan tambahan. “And then hopefully it’s going to be our turn to bring the package that’s going to give us a little bit of the upper hand again.”