Entertainment

Sweetcorn model “swavoury” jadi tren camilan manis-gurih terbaru di Inggris

×

Sweetcorn model “swavoury” jadi tren camilan manis-gurih terbaru di Inggris

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Why sweetcorn treats are the latest 'swavoury' UK food trend

jurnalistik.co.id – Jagung manis kini bergerak melampaui peran lamanya sebagai topping atau isi. Dalam beberapa pekan terakhir, bahan yang lazim dianggap “gurih” itu makin sering muncul sebagai unsur utama dalam kue, es krim, hingga cheesecake—mewujudkan tren rasa manis-gurih yang belakangan disebut “swavoury”.

Perubahan ini terlihat jelas di linimasa media sosial, di mana sweetcorn dipakai dalam berbagai sajian pencuci mulut yang tidak biasa. Tren tersebut juga diprediksi akan semakin sering terlihat di ruang publik, karena banyak penikmat mulai memberi tempat pada kombinasi rasa yang sebelumnya terasa “tidak pada tempatnya”.

Crystelle Pereira, seorang juru masak sekaligus mantan finalis Great British Bake Off yang dikenal dengan kombinasi rasa unik, menyampaikan keyakinannya tanpa ragu: “Sweetcorn belongs in desserts!” Menurutnya, jagung sudah lama menjadi bagian dari beberapa puding di Asia Tenggara dan Amerika Latin, namun di Inggris ia masih sering “terkurung” dalam kebiasaan lama sebagai isian sandwich dan topping pizza.

Ia menggambarkan bahwa pergeseran menuju pencuci mulut dan minuman manis berjalan “very slowly easing its way” ke kancah kuliner Inggris. Bagi Pereira, perubahan ini datang perlahan, tetapi tetap nyata.

Swavoury: saat manis bertemu gurih

Di balik popularitasnya, ada satu gagasan besar yang menyatukan berbagai eksperimen: menggabungkan rasa manis dan savoury yang biasanya tidak dipadukan. Shokofeh Hejazi dari agensi tren makanan thefoodpeople menjelaskan bahwa sweetcorn mulai tampil dalam “some exciting and unexpected guises” di panggung kuliner Inggris.

Hejazi menilai profil rasa sweetcorn dan kemampuannya untuk dipadukan menjadi tekstur krimi membuatnya cocok untuk tren ini. Sweetcorn, kata Hejazi, juga bisa diselipkan ke sejumlah produk rasa manis yang memerlukan basis halus dengan karakter rasa yang tetap mudah diterima.

Fenomena “swavoury” ini juga hadir dalam variasi lain, seperti es krim sweet potato ungu, cheesecake dengan carrot compote, hingga batang cokelat yang dipenuhi keripik kentang asin. Ketika contoh-contoh tersebut beredar, sweetcorn ikut memperoleh momentum karena tampilannya mudah diolah menjadi kreasi minuman dan kue.

Pereira menuturkan bahwa ketertarikannya berawal dari “epiphany” ketika ia melihat penggunaan sweetcorn dalam sajian manis di Thailand tahun lalu. Di sana, jagung dipakai dalam berbagai bentuk, mulai dari custard tart, jeli, hingga es krim—kebiasaan yang membuatnya memikirkan potensi serupa untuk penggemar di Inggris.

Untuk membuktikan caranya bekerja, Pereira kemudian membuat sweetcorn latte terinspirasi dari frappé yang pernah ia coba di perjalanan. Ia meraciknya menggunakan coconut milk, sweetcorn yang diblender, serta espresso.

Ia menjelaskan logikanya saat memperkenalkan ide ini kepada audiens Inggris: ia ingin “show people that it works,” dan menganggap kesamaan rasa sweetcorn dengan condensed milk akan membuat kombinasi itu lebih “more palatable” bagi pemula yang belum terbiasa meminum olahan sweetcorn sebagai minuman manis.

Dalam perbincangannya, Pereira menegaskan rasa antusiasnya. “I genuinely really think sweetcorn and desserts is just the best thing in the world.” Ia menambahkan, “We’ve been so used to having sweetcorn in tuna and sweetcorn, we just think it’s a savoury ingredient,” sebelum menutup dengan “But… it’s so, so sweet.”

Keingintahuan publik juga didorong faktor budaya. Lisa Harris, co-founder konsultansi makanan Harris & Hayes, menyebut minat yang tumbuh terhadap sweetcorn turut berkaitan dengan “unstoppable” appetite Inggris terhadap makanan Korea Selatan, yang “changing how we eat”.

Pereira terus mengembangkan gagasan tersebut lewat kreasi baru. Ia membuat Brazilian lemonade yang menggunakan limes, bukan lemon, serta memadukannya dengan corn milk, sementara Hejazi menilai penggunaan sweetcorn dalam minuman dan pencuci mulut masih “an emerging trend” dan belum menjadi arus utama.

Belum jadi menu mainstream, tapi mulai masuk toko

Secara praktis, tren ini belum sepenuhnya menjelma menjadi permintaan massal. Hingga saat ini, belum terlihat sweetcorn milk tersedia di supermarket besar maupun corn lattes di jaringan kafe kopi arus utama.

Tetapi, respons di tingkat toko sudah mulai tampak. Natalie TJ, yang menjalankan bakery bergaya Asia di London, menyebut minuman cornmilk matcha sebagai salah satu yang paling populer musim panas ini—berada di urutan kedua setelah Hong Kong milk tea milik bakery tersebut.

Ia menyampaikan bahwa banyak kafe di Asia menjual corn milk matcha. “Many coffee shops in Asia sell corn milk matcha,” katanya, dan menambahkan bahwa kemungkinan pelanggan mencari minuman itu karena di Inggris variasi matcha lain lebih umum.

Selain minuman, beberapa tempat roti dan pencuci mulut di Inggris juga mulai menempatkan sweetcorn dalam menu. Pophams bakery, yang memiliki cabang di east London, pernah menampilkan peach and sweetcorn danish pastry.

Ollie Gold, pendiri Pophams, merinci respons pelanggan. “Our customers were very intrigued by the flavour combination, and once they tried it, they were pleasantly surprised by how well the flavours worked together,” ujarnya.

Di sisi gelato, merek Snowflake juga menghadirkan varian rasa sweetcorn dengan nama “Snow Cob”. Sementara itu, supermarket kelas menengah hingga atas serta sejumlah merek cokelat juga menjual kernel jagung yang dilapisi cokelat.

Seiring meningkatnya eksperimen, kebingungan soal kategori rasa juga masih muncul. Supreedha Iyer, seorang baker paruh waktu yang tumbuh di Malaysia dan kini tinggal di London, menceritakan bahwa teman-temannya kerap bertanya saat ia menyodorkan bakes berbasis sweetcorn.

Iyer membuat versi maritozzi buns—roti brioche berisi cream—dengan sweetcorn, terinspirasi dari bun yang pernah ia makan saat kecil. “My Asian friends immediately understood the flavour, while my British friends were much more confused about whether it was supposed to be sweet or savoury,” katanya, sebelum menegaskan, “There was genuine confusion!”

Namun ia menilai situasinya mulai berubah. “That does seem to be changing though,” tambahnya, lalu menyebut, “British bakers are beginning to explore corn more confidently”.