jurnalistik.co.id – Tumpukan kulkas dan freezer rusak di Inggris terus membesar, terutama setelah gelombang panas berganda tahun ini membuat lebih banyak peralatan pendingin mengalami kerusakan dan akhirnya harus dibuang melalui fasilitas khusus.
Peringatan itu disampaikan oleh Local Government Association (LGA) yang menyebut kerusakan pada “white goods” seperti kulkas dan freezer meningkat seiring rangkaian panas yang terjadi berulang kali. Akibatnya, jumlah unit yang memerlukan penanganan dan pembuangan di tempat spesialis bertambah cepat.
LGA mengatakan puluhan dewan (councils) terpaksa menghentikan pengumpulan peralatan pendingin. Penghentian ini muncul karena antrean (backlog) yang menumpuk, dipicu kelangkaan tenaga spesialis yang dibutuhkan untuk membongkar perangkat secara aman.
Langkah ini juga disorot setelah Perdana Menteri Andy Burnham mengumumkan pengetatan terkait pembuangan sampah ilegal pada awal bulan. LGA kini meminta pemerintah mengambil tindakan mendesak agar masalah yang sama tidak hanya berhenti pada isu tempat buang sampah ilegal, tetapi juga mencakup penanganan white goods.
Ketua Komite Neighbourhoods LGA, Councillor Arooj Shah, mendesak pemerintah agar membebankan tanggung jawab kepada perusahaan produsen perangkat pendingin. Ia juga meminta dukungan pembiayaan untuk biaya penyimpanan sementara yang harus ditanggung dewan, sekaligus pencegahan agar persoalan serupa tidak terulang di masa depan.
“The backlog of defunct white goods is getting bigger by the day – they’re at risk of becoming a mountain,” ujar Shah. Ia menambahkan, “It is not right that residents who are trying to do the right thing can’t take old or broken appliances to their local recycling centre due to a failures elsewhere in the system.”
Di antara yang terdampak, councils dari Bradford hingga Gloucestershire, juga Durham dan Nottingham, masuk dalam daftar 26 dewan yang menghentikan pengumpulan kulkas pada bulan ini. Kebijakan penghentian koleksi itu membuat warga menghadapi keterlambatan ketika ingin membuang perangkat yang sudah tidak berfungsi di pusat daur ulang setempat.
Pihak Defra mengakui adanya persoalan kapasitas dan menyatakan bahwa penyimpanan jangka pendek sedang disiapkan. Defra mengatakan, “Our priority is to minimise disruption to household collection or proper disposal of fridges and other cooling equipment, and we are pushing producers of these items to take all necessary steps to achieve this and resolve any collection delays.”
Secara teknis, kulkas dan freezer memerlukan pembongkaran oleh pihak spesialis karena perangkat tersebut mengandung gas yang dapat berbahaya bagi lingkungan bila tidak dikelola secara aman. Namun, dari 10 pabrik pemrosesan skala penuh yang ada di Inggris, tiga di antaranya tutup dalam 12 bulan terakhir.
Berita Terkait
Penutupan tiga pabrik itu terjadi akibat kebakaran, kebangkrutan, serta perubahan peruntukan. Kondisi tersebut kemudian diperparah oleh gelombang panas tahun ini karena fasilitas yang tersisa tidak dapat beroperasi di atas 30 derajat Celsius.
Organisasi industri Environmental Services Association menyebut penutupan ini berakibat pada hilangnya kapasitas secara mendadak, “knocking out capacity suddenly”. Eksekutif Jacob Hayler menyatakan, “The result is that capacity is now constrained nationally until facilities can be brought back online or new capacity is permitted and developed.”
Untuk memenuhi permintaan, kulkas dari Inggris kini diekspor ke Eropa. Sementara itu, hanya ada satu pabrik pemrosesan tambahan di Inggris yang dijadwalkan beroperasi pada tahun depan.
Skema pendanaan pemrosesan bergantung pada perusahaan yang memproduksi white goods. Perusahaan harus mendaftar pada skema kepatuhan (compliance scheme), melaporkan perkiraan tonase perangkat yang dijual per tahun, lalu skema tersebut akan mengumpulkan bobot yang setara dan mengoordinasikan pembuangan.
Proses daur ulang white goods ditangani oleh 15 skema compliance produsen yang mengoordinasikan pengumpulan, daur ulang, dan pembuangan unit dari Inggris, yang kian sering dialihkan melalui fasilitas pemrosesan di Eropa. Skema terbesar adalah Ecogenesys, organisasi nirlaba yang bekerja sama dengan sekitar 85 councils di Inggris, sekaligus mendukung pengembangan infrastruktur pemrosesan kulkas baru di dalam negeri.
CEO Ecogenesys Graeme Milne mengatakan bahwa fasilitas pemrosesan Eropa bisa menjadi penyangga sementara, tetapi Inggris membutuhkan tambahan kapasitas pemrosesan dalam jangka panjang. “The UK fridge recycling sector has faced exceptional pressures this summer, but we expect the situation to begin to ease as the seasonal peak passes,” ujarnya.
Managing director European Recycling Platform, John Redmayne, menyatakan Inggris mengalami “genuine capacity crunch”. Ia menilai konsensus industri mengarah pada pemulihan selama enam hingga dua belas bulan.
Rintangan dalam pembuangan white goods memunculkan kekhawatiran meningkatnya kasus pembuangan liar (flytipping) seiring pemerintah memulai pengetatan besar terhadap tempat pembuangan sampah ilegal. Gavin Lane, presiden Country Land and Business Association, menggambarkan bahwa menemukan kulkas yang dibuang di ladang bisa menjadi “a farmer’s nightmare”. Ia menambahkan, “It can cause hours of disruption, stress, and clean-up bills running into the thousands,” serta meminta pemerintah memastikan sistem berjalan kembali.
Sebagai gambaran, salah satu dari 11 “super sites” pembuangan ilegal di Inggris, yaitu dump Kidlington di Oxfordshire yang menampung sekitar 22.000 ton sampah, dibersihkan pekan ini. Namun, pembersihan tersebut menelan biaya 6 juta poundsterling dari uang publik.
Pemerintah juga menargetkan geng kejahatan terorganisir yang berada di balik ratusan lokasi pembuangan ilegal di seluruh Inggris. Upaya yang dilakukan mencakup penyitaan aset yang dibeli dari hasil kejahatan serta peningkatan denda dari ÂŁ300 menjadi ÂŁ5.000.












