jurnalistik.co.id – Dolly Parton—yang dikenal dengan julukan “Book Queen”—membentuk kebiasaan membaca bagi jutaan anak melalui program buku gratis Imagination Library. Setelah penyanyi legendaris itu wafat pada usia 80 tahun pekan ini, kisah dampak program tersebut kembali mendapat perhatian dari keluarga di berbagai negara.
Di Denver, seorang anak menyebut Parton dengan “The Book Queen”. Di Alabama, ada pula yang memanggilnya “Ms Dolly”. Panggilan-panggilan hangat seperti ini berulang dari berbagai kesaksian orang tua, termasuk yang merasakan perubahan sejak momen buku pertama dikirim ke rumah.
Di Australia, sebuah keluarga menceritakan bahwa seorang balita dengan keterlambatan bicara senang ketika mendengar kata pertamanya, “orange”, setelah menerima buku gratis bertema warna di kiriman pos. Buku itu berasal dari Imagination Library, program literasi yang dimulai oleh Parton.
Parton meluncurkan upaya filantropi tersebut pada 1995. Ia memandang program ini sebagai penghormatan untuk ayahnya, yang tumbuh di lingkungan Appalachian yang sulit dan tidak pernah bisa menyelesaikan sekolah maupun belajar membaca dan menulis.
Dalam sebuah surat terbuka di situs Imagination Library, Parton menulis, “He was the smartest man I have ever known, but I know in my heart his inability to read probably kept him from fulfilling all of his dreams.” Ia menambahkan, “Inspiring kids to love to read became my mission.”
Imagination Library mengirimkan satu buku gratis setiap bulan untuk anak sejak lahir hingga usia lima tahun. Program ini pertama kali berjalan di Sevier County, Tennessee, tempat Parton dibesarkan, sebelum kemudian berkembang di seluruh Amerika Serikat pada tahun 2000.
Perluasan berlangsung bertahap bersama mitra organisasi lokal. Program ini mulai hadir di Kanada pada 2006, masuk ke Inggris setahun berikutnya, menyusul Australia pada 2013, dan Irlandia pada 2019. Pada 2025, saat program merayakan 30 tahun, organisasi penyelenggara menyebut telah mendistribusikan lebih dari 300 juta buku—setara dengan satu buku yang dikirim setiap 78 detik.
Untuk Harriet Anscombe di London, ketersediaan buku gratis itu terasa “readily available for every family that lives in my borough”. Ia menceritakan bahwa anaknya mendapatkan buku sejak berusia tiga bulan, dan kini sudah empat tahun.
Bagi Anscombe, manfaatnya tidak berhenti pada koleksi buku di rumah. Ia menyebut buku-buku tersebut membantunya membangun rutinitas malam yang berpusat pada membaca. “I think that, if I didn’t get those books, maybe I wouldn’t have started doing bedtime stories till she was two – but because we were getting them so early, it embedded story time into our routine from when she was just a couple of months old,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa, karena kebiasaan itu sudah terbentuk sejak sangat dini, “She probably doesn’t remember a time when we weren’t reading stories.” Rutinitas bercerita pun menjadi bagian yang melekat, bukan kegiatan sesekali.
Di Colorado, Ciara Fernandez Faber mendaftarkan putranya sekitar delapan tahun lalu. Anak tersebut lama menjadikan buku karya Parton sendiri, “I Am A Rainbow”, sebagai favorit. “We read it almost every night, and I never got tired of reading it to him,” kata Faber.
Ia menggambarkan cara mereka menikmati cerita itu melalui ekspresi emosi. “It’s a book about different emotions, and so we would act out the different emotions, the different faces,” ujarnya. Di bagian akhir buku, ada petikan dari Dolly yang membahas bahwa setiap orang memiliki “a rainbow of feelings”, dan anaknya selalu menunjuk gambar Parton dalam kalimat itu sambil menyebut, “There’s the Book Queen.”
Berita Terkait
Keluarga-keluarga lain juga menyoroti kurasi tema buku. Helen Cashell dari Dublin, Irlandia, mengatakan ada topik-topik yang tidak hanya membantu literasi, tetapi juga mendukung perkembangan sosial dan emosional. “There were themes that were addressed in a lot of the books that would have really helped us navigate issues,” katanya.
Ia mendaftarkan kedua anaknya yang kini berusia tujuh dan lima tahun. Menurut Cashell, buku-buku tersebut membahas beragam jenis keluarga serta isu-isu seperti keberanian, ketegasan, sampai penindasan. “Whether it was same-sex families or just different types of families, things about bravery, courage, bullying, things about different identities,” ungkapnya.
Di sisi lain, penulis Selina Brown menjelaskan bagaimana pemilihan buku berperan dalam memperkenalkan tokoh dan sudut pandang tertentu. Ia menuturkan bahwa bukunya, “My Rice Is Best”, dipilih untuk didistribusikan melalui Imagination Library, dan alur ceritanya menampilkan tokoh protagonis berkulit hitam.
Program ini juga memberi ruang bagi penulis. Casel Brown menyebut bahwa pemilihan tersebut “means 14,000 copies of my book have been sent to children in the UK”. Ia menilai pilihan kebutuhan itu sering kali terasa terbatas, namun program Parton menawarkan alternatif yang lebih luas. “To choose between gas, electric, food or a book, you’re going to choose a core need – but with the Dolly Parton Imagination Library, you don’t have to do that,” ujarnya.
Paige Stewart di Sydney yang berada di wilayah perkotaan juga menceritakan pengalaman serupa. Ia menyebut anak kembar berusia empat tahun sempat mengalami keterlambatan bicara dan kesulitan belajar. Namun ia melihat perubahan setelah buku kedua. “Not only did they learn their colours from that book… it kind of set the tone for them speaking and their joy for books,” katanya.
Stewart kemudian aktif mengajak orang lain mengikuti program tersebut. “It’s so helpful, honestly,” tuturnya.
Adapun Kristina Hadley dari Alabama yang kini berusia 53 tahun mempromosikan program ini bahkan lewat hadiah bayi. Ia mengatakan, “I’ll pull up the Imagination books website, and I’ll print that, and I’ll put it in a picture frame, and I’ll get little newborn books and stuff like that, and I’ll put it with that for like a suggestion for new mothers.”
Hadley mendaftarkan cucunya, “Eillie Elaine”, hampir menjelang kelahiran—“before she was actually born”. Kini, anak tersebut memiliki rak buku sendiri di rumah bersama, dan “one whole shelf is for her Dolly books”.
Ia menggambarkan kegembiraan itu saat sang cucu menantikan kiriman pos. “She likes to go to go to the mailbox, and she’s like, ‘Ms Dolly! Ms Dolly!’ and I’m like, ‘Well, let’s go see if Ms Dolly sent you a book!’”
Bagi Geoff Blacklin, 67, dari Manitoba, Kanada, kedekatan keluarga dengan program ini berawal dari dorongan seorang dokter lokal. Ia dan istrinya mendaftarkan cucu-cucunya setelah program tersebut diperkenalkan di wilayah mereka. “The biggest thing that I like is the fact that she didn’t do anything for recognition,” katanya.
Blacklin menilai kontribusi Parton tidak hanya sebatas buku. “She gave families more than books,” ujarnya. “She gave children a love of reading, precious moments with loved ones, and opportunities to learn and dream.”
Lewat cerita-cerita keluarga tersebut, seolah warisan Parton terus bekerja di latar: sebuah program yang berkembang dari rumah ke rumah, dari satu wilayah ke wilayah lain. Dalam tulisan Parton di situs Imagination Library, ia menyebut harapan awalnya sederhana: “In the beginning, my hope was simply to inspire the children in my home county, but here we are today with a worldwide programme that gives a book a month to well over 3 million children.”
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para mitra yang ikut merangkul impiannya. Kisah-kisah yang dikumpulkan dari berbagai negara memperlihatkan bahwa, bagi banyak keluarga, buku gratis bulanan itu telah menjadi bagian dari rutinitas—sekaligus jembatan untuk menumbuhkan kecintaan pada membaca, sejak usia paling dini.












