Peristiwa

Gadis 13 tahun di antara 33 warga Inggris yang dilaporkan hilang setelah banjir bandang di Nepal

×

Gadis 13 tahun di antara 33 warga Inggris yang dilaporkan hilang setelah banjir bandang di Nepal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Girl, 13, among 33 UK nationals missing after Nepal flash floods

jurnalistik.co.id – Kepolisian Nepal menyebut banjir bandang dan longsor di wilayah Rasuwa, dekat perbatasan Nepal–Tibet, menewaskan sedikitnya 162 orang dan membuat 826 orang masih belum ditemukan. Di antara ratusan korban yang dilaporkan hilang tersebut, terdapat 33 warga negara Inggris.

Bencana terjadi pada Rabu pagi. Otoritas Nepal menyatakan banjir serta longsor lumpur menghantam kawasan Rasuwa, tepatnya di sekitar wilayah yang dikenal dekat jalur menuju perbatasan, dan memicu upaya pencarian yang berlangsung di tengah kondisi medan yang sulit.

Menurut National Disaster Risk Reduction and Management Authority Nepal, jumlah orang yang hilang mencapai 826. Dari total itu, jumlah wisatawan yang disebut masih hilang lebih dari 529 orang.

Para pejabat kepolisian juga merinci komposisi wisatawan yang belum ditemukan. Sebanyak 113 wisatawan yang hilang disebut merupakan warga Nepal, sedangkan 54 lainnya berasal dari Amerika Serikat.

Pemerintah Inggris menyatakan terus berkoordinasi dengan otoritas setempat. Perdana Menteri Andy Burnham mengatakan ia tengah berhubungan dengan pihak berwenang setempat dan menyebut, “will do everything we can” untuk membantu warga Inggris yang terdampak, seraya mendesak mereka di area terkait agar “to follow guidance from the local authorities and follow our travel advice”.

Foreign Office Inggris menyampaikan mereka bekerja dekat dengan otoritas Nepal “following concerning reports of British nationals who are missing”. Pernyataan itu juga mendorong warga Inggris mengikuti arahan lokal serta “remain alert to the changing situation” karena situasi dapat berubah.

Pihak keluarga dan perusahaan wisata mencari kabar Perusahaan tur Alpine Eco Trek mengonfirmasi kepada BBC bahwa mereka belum bisa menjalin kontak dengan rombongan 12 warga Inggris yang telah memesan tur ke Gunung Kailash. Perusahaan menyatakan upaya mengonterkan helikopter penyelamat sempat dilakukan, namun tidak bisa diterbangkan akibat kondisi yang dinilai buruk, dan perusahaan berjanji akan terus membantu upaya penyelamatan pada Kamis.

Berdasarkan catatan perjalanan perusahaan yang dibagikan kepada Press Association, usia warga Inggris yang dilaporkan hilang berada di rentang 13 hingga 65 tahun. Alpine Eco Trek juga menyebut anggota termuda rombongan itu diduga seorang gadis berusia 13 tahun, menurut PA.

Perusahaan turut melaporkan empat pemandu wisata asal Nepal juga masuk dalam daftar yang belum ditemukan. Manajer Alpine Eco Trek, Kumar Adhikari, mengatakan ia masih berhubungan dengan pemandu hingga pukul 08:40, saat pemandu diperkirakan tiba di kantor imigrasi Tibet, namun setelah itu telepon mereka tidak bisa dihubungi.

Adhikari menyampaikan, “We were hoping that inside it was safe,” kemudian menjelaskan bahwa kemudian muncul video dari pemerintah China yang menunjukkan sisi Tibet “which [showed] even Tibet’s side was hit by the flood.” Ia juga menyatakan dirinya “slowly responding to” keluarga para peserta, tetapi belum bisa memberi pembaruan, sambil menambahkan bahwa ia berhubungan dengan konsulat Inggris dan telah meneruskan salinan paspor para klien.

Di tengah ketidakpastian, Adhikari mengatakan, “I feel so sad. We are just thinking about what to do next…We are in pain at the moment, deep pain.”

Perusahaan lain yang terdampak juga menyebut rombongan besar yang kehilangan kontak. Himalayan Glacier US menyatakan mereka kehilangan kontak dengan rombongan 47 tamu dan staf yang sedang melakukan ziarah menuju Gunung Kailash, yang mencakup dua warga Inggris. Sementara itu, Kailash Journeys melaporkan 27 tamu dan staf lainnya juga belum terhubung, dengan juru bicara yang menyebut kontak terakhir terjadi pada Rabu pagi waktu setempat.

Daftar nama yang diserahkan kepada BBC juga memuat dua laki-laki yang tercatat sebagai warga Inggris.

Dukungan diplomatik dan peringatan keselamatan Menteri Luar Negeri Inggris, Ed Miliband, mengatakan ia “deeply concerned” terhadap kabar banjir bandang tersebut. Ia menulis di media sosial: “All my thoughts are with those affected and with British nationals in the area and their relatives here at home”.

Dalam sebuah pernyataan bersama dengan Australia, Uni Eropa, Finlandia, Prancis, Norwegia, dan Swiss, Kedutaan Besar Inggris di Nepal mendesak warga Inggris di Nepal untuk “exercise caution in affected areas”. Pernyataan itu mencerminkan meningkatnya perhatian internasional setelah peristiwa banjir bandang dan longsor di kawasan perbatasan.

Penyebab bencana: tanah longsor memicu energi seismik Banjir bandang terjadi pada Rabu pagi di Rasuwa, tepat di sebelah utara ibu kota Nepal, Kathmandu, dan memicu terjadinya longsor. Informasi awal sempat mengaitkan kejadian tersebut dengan gempa bumi, namun US Geological Survey menyebut analisis lanjutan menunjukkan “the seismic energy was instead generated by a landslide.”

USGS menyatakan peristiwa seismik bermagnitudo 5,2 yang disebabkan “glacial collapse and debris flow” terjadi dekat perbatasan pada pukul 08:37 waktu setempat. Sejumlah rekaman menunjukkan gelombang air dan lumpur menghantam bangunan di dekat penyeberangan perbatasan.

Cuplikan CCTV juga memperlihatkan video yang diambil dari dalam bus, yang menunjukkan puluhan orang berusaha melarikan diri saat lonjakan banjir bergerak melewati lembah. Di sisi lain, media negara China melaporkan bahwa longsor di Tibet, wilayah Gyirong, menewaskan tiga orang dan membuat 265 orang lainnya masih hilang. Rekaman dan laporan itu menjadi bagian dari dasar perhitungan korban yang terus diperbarui oleh berbagai otoritas.