jurnalistik.co.id – Menjelang pemilihan negara bagian pada 6 September, Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) menunjukkan ambisi besar di Sachsen-Anhalt. Dalam kampanyenya, partai sayap kanan itu menilai kini saatnya menata ulang cara pandang Jerman terhadap masa lalu Perang Dunia.
AfD sedang memimpin jauh dalam jajak pendapat di wilayah timur tersebut sebelum pemilihan negara bagian berlangsung. Di hadapan pendukungnya, partai menggugat praktik “memory culture” dengan menyebutnya sebagai “guilt complex” dalam manifesto mereka—klaim yang memantik perdebatan tajam di negara yang selama ini menjadikan pengungkapan kejahatan Nazi sebagai fondasi moral.
Suasana semacam itu terlihat saat rapat umum di Querfurt. Seorang pendukung AfD berusia 70 tahun, Gerd, memasang bendera Jerman kecil yang tampak lusuh di gagang skuter mobilitasnya. Bagi Gerd, sejarah tidak bisa “wipe away”, tetapi menurutnya “the Second World War has nothing to do with us any more”.
Ia juga menekankan pentingnya menatap masa depan sambil menempatkan sejarah di luar era Nazi. Dalam pandangannya, tanah berbahasa Jerman pernah dikenal sebagai tempat “poets and thinkers”.
Program AfD: mengubah cara pelajaran sejarah
Jika berhasil memegang kendali pemerintahan di Sachsen-Anhalt, AfD berencana mengubah cara sejarah diajarkan. Salah satu gagasan yang disorot adalah penambahan fokus pada abad yang datang sebelum konflik besar Perang Dunia I dan II.
AfD juga menyatakan akan terus mengajarkan tentang Nasional Sosialisme, namun dengan kadar yang lebih sedikit. Program tersebut disebut Hans-Thomas Tillschneider—yang mempergagasnya—dengan mengatakan akan ada “of course” pengajaran tentang National Socialism, “but somewhat less so”. Ia pernah merangkum arah kebijakan itu lewat kalimat “More Bismarck, less Hitler”, merujuk pada Otto von Bismarck, tokoh utama arsitek penyatuan Jerman pada 1871.
Kritik tajam muncul karena kebijakan semacam itu dinilai berpotensi menggeser penekanan pada periode paling gelap sejarah Jerman. Pemerintah dan lembaga keamanan dalam negeri juga pernah menilai organisasi lokal AfD di wilayah itu bermasalah.
Inteligensi domestik menemukan bahwa cabang partai setempat bersifat anti-demokratis dan tujuan-tujuannya dipengaruhi “racist ideology”. AfD sendiri umumnya menolak penilaian tersebut dan menyebutnya sebagai tuduhan bermuatan politik, “politicised smears”.
Politik simbolik dan pendidikan: bendera serta monumen
AfD menyebut agenda patriotism sebagai langkah nyata yang bisa dibuktikan di ruang publik dan institusi pendidikan. Partai itu juga berjanji mengibarkan bendera Jerman setiap hari kerja di sekolah-sekolah umum serta berupaya “better preserve war memorials to German soldiers”.
Di sisi lain, pihak lain menegaskan mereka tidak akan masuk koalisi dengan AfD. Partai tersebut diklasifikasikan sebagai right-wing extremist di beberapa negara bagian, termasuk Sachsen-Anhalt, sejak 2023.
Di pengaturan kekuasaan, rencana AfD ditopang target elektoral yang besar. Partai ini mengincar cukup suara untuk mengambil mayoritas parlementer di Sachsen-Anhalt—sebuah prestasi yang selama ini tergolong luar biasa dalam politik Jerman. Jajak pendapat menyiratkan kemungkinan itu ada, tetapi tidak bisa disebut pasti.
Apabila target tersebut tercapai, AfD akan mengendalikan layanan yang mencakup kultur, kepolisian, dan pendidikan. Perubahan yang mereka dorong tidak hanya soal kurikulum, tetapi juga menyentuh simbol kebangsaan dan narasi identitas.
Tokoh AfD: Ulrich Siegmund dan gaya kampanye
Salah satu figur kunci AfD di wilayah itu adalah Ulrich Siegmund. Jajak pendapat menunjukkan ia punya keunggulan yang cukup besar. Siegmund, 35 tahun, pernah bekerja sebagai penjual air pengharum, lalu dikenal lewat kampanye bergaya seperti pertunjukan yang energik serta strategi penggunaan media sosial.
Di Querfurt, warga bahkan mengantre berjam-jam untuk berfoto atau berjabat tangan dengannya. Dalam kesempatan itu, ia juga menandatangani salinan majalah Der Spiegel edisi sampul depan yang menyebutnya “Germany’s Most Dangerous Man”.
Berita Terkait
Siegmund menegaskan agenda patriotism sebagai hal yang wajar. Saat berbicara kepada BBC, ia menyebut upaya itu “the most normal thing in the world”. Ia juga mengatakan, “We want to get that back,” serta “We have a diverse history, stretching back many hundreds of years, and we want to teach that history in its entirety, with all its highs and lows but with pride and a positive outlook.”
Di tingkat nasional, sejumlah senior AfD pernah dikaitkan dengan upaya mengecilkan atau mengaburkan bab paling kelam sejarah Jerman, menurut para pengkritik. Pada 2018, Alexander Gauland pernah menyamakan era Nazi dengan “speck of bird poop”. Setahun sebelumnya, Björn Höcke—pemimpin partai di Thuringia—pernah menyebut Holocaust Memorial Berlin sebagai “Monument of Shame”.
Kontroversi “remigration” dan perdebatan soal Nazi
Dalam arus kontroversi yang lebih luas, AfD juga menghadapi seruan baru untuk dibubarkan. Pada 2024, kritik menguat setelah terungkap bahwa tokoh senior—termasuk Siegmund—hadir dalam sebuah pertemuan yang juga diikuti aktivis sayap kanan Austria, Martin Sellner.
Sellner memiliki riwayat neo-Nazi yang kemudian ia sebut sebagai “folly of youth”. Ia kini dikenal mengusung konsep “remigration”, sebuah istilah yang dinilai licin tetapi secara umum dipahami sebagai deportasi massal, atau penghapusan paksa terhadap orang-orang yang memiliki latar belakang migrasi.
AfD menyatakan kebijakan “remigration” itu akan berjalan secara legal, dengan fokus mendeportasi, misalnya, “criminals and those in the country illegally”. Ketika BBC menanyakan apakah Siegmund masih berhubungan dengan Sellner, ia menjawab bahwa ia tidak melihatnya lagi sejak pertemuan tunggal yang terjadi di Potsdam, tepat di luar Berlin, pada 2023.
“Anti-German” art dan kekhawatiran lembaga budaya
Di Sachsen-Anhalt, kekhawatiran sejumlah pihak juga datang dari rencana AfD memotong dukungan finansial untuk apa yang mereka sebut sebagai “anti-German” art. Sejumlah kritikus melihat janji tersebut sebagai gema dari politik budaya era Nazi.
Pada rezim Nazi, kendali ketat diterapkan pada seluruh ranah kehidupan budaya Jerman. Salah satu contohnya adalah pemajangan karya yang dianggap tidak dapat diterima pada “Degenerate Art Exhibition” pada 1937. Frank Martin Widmaier, sutradara teater lokal di Eisleben, mempertanyakan logika perubahan tersebut.
“How can somebody say it’s not German enough, and what does it mean?” ujarnya. Widmaier mengaku rencana AfD terasa samar, namun berisi nada yang mengancam. Ia menilai langkah itu berpotensi menekan ruang kebebasan berkesenian di tengah ketergantungan teater pada pendanaan negara.
“This is playing with Nazi propaganda,” katanya. “To threaten people, to threaten the institutions.”
AfD menanggapi dengan argumen bahwa hukum melindungi kebebasan artistik, tetapi dana dari pembayar pajak seharusnya diarahkan terutama untuk karya yang membantu membangun identitas Jerman. Menurut partai, agenda itu merupakan bagian dari apa yang mereka sebut sebagai “patriotic shift” yang bisa membantu “restore” kepercayaan diri negara.
Perubahan memori dan titik balik politik
Klaim bahwa budaya mengingat—Erinnerungskultur—telah menciptakan krisis identitas yang merugikan, bukanlah gagasan baru. Namun, popularitas AfD memberi napas baru pada perdebatan tersebut. Mereka tidak hanya unggul di Sachsen-Anhalt, tetapi juga cenderung menonjol secara nasional, meski selisihnya di level federal tidak setajam di wilayah timur.
Widmaier menolak anggapan bahwa Erinnerungskultur sama dengan “guilt complex”. Ia mengatakan, “You don’t have to feel guilty,” terutama saat berbicara tentang generasi yang lahir setelah Perang Dunia II. Namun menurutnya, ada kebutuhan untuk berhadapan dengan sejarah itu agar kejadian serupa tak terulang.
“But you have to deal with all of that to make it never happen again. That’s part of our DNA in Germany.”
Pemilihan Sachsen-Anhalt berpotensi menjadi titik balik bagi Jerman dalam beberapa cara. Pembentukan pemerintahan AfD akan menandai pertama kalinya partai sayap kanan memegang kekuasaan yang signifikan di Jerman pada masa pascaperang. Selain itu, hal itu juga menjadi uji nyata bagi agenda patriotism AfD yang—menurut para kritikus—menyembunyikan revisi berbahaya terhadap cara negara memandang sejarah.







