Olahraga

Sir Billy Boston, legenda sayap Wigan-Wales-GB, meninggal dunia pada usia 92 tahun

×

Sir Billy Boston, legenda sayap Wigan-Wales-GB, meninggal dunia pada usia 92 tahun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Billy Boston: Legendary Wigan, Wales and GB winger dies aged 92

jurnalistik.co.id – Legenda rugby league asal Cardiff, Sir Billy Boston, meninggal dunia pada usia 92 tahun.

Pemilik reputasi sebagai salah satu pencetak try terbanyak sepanjang sejarah itu dikenal karena daya ledak di sayap serta catatan gol yang sulit ditandingi.

Boston lahir di Cardiff pada 1934. Ia tumbuh dengan bermain rugby union, namun jalan kariernya berbelok setelah luput diperhatikan klub asalnya. Pada masa dinas nasional yang membawanya ke wilayah utara Inggris, Boston mulai mendapat perhatian dari pengintai rugby league.

Ia menandatangani kontrak dengan Wigan pada 1953 saat masih berusia 19 tahun. Meski saat itu ia baru memainkan sedikit laga rugby league, bakatnya cepat terlihat, sehingga Boston kemudian dipanggil membela tim Great Britain.

Pada 1954, Boston menjadi bagian dari skuad Great Britain yang bertolak ke Australia dan Selandia Baru. Perjalanan itu sekaligus menandai Boston sebagai pemain kulit hitam Inggris pertama yang melakukan tur ke wilayah tersebut.

Setelah beralih dari rugby union, Boston segera menunjukkan ketajamannya. Ia mencapai tonggak 100 try dalam 68 pertandingan, sebuah rasio yang menggambarkan seberapa cepat ia beradaptasi dengan tempo dan kebutuhan permainan rugby league.

Di Wigan, Boston mencatat angka yang membuat namanya disebut di barisan paling atas sepanjang sejarah klub. Ia mengumpulkan 478 try dalam 488 penampilan, sekaligus berperan penting saat Wigan menjuarai tiga Challenge Cup dan meraih Championship.

Keberhasilan Boston tidak hanya berhenti di level klub. Bersama Great Britain, ia mencetak 24 try dari 31 penampilan dan menjadi bagian dari tim yang menjuarai Piala Dunia 1960.

Dalam laga final Piala Dunia 1960, Boston mencetak try ketika Great Britain mengalahkan Australia 10-3 di Odsal Stadium, Bradford. Catatan itu menegaskan perannya sebagai finisher yang bisa menentukan hasil pada momen krusial.

Menjelang akhir kariernya, Boston bermain sebagai second row bersama Blackpool Borough. Secara keseluruhan, ia mencetak 571 try sepanjang kariernya, jumlah yang hanya berada di bawah legenda Australia Brian Bevan di level rugby league papan atas.

Penghormatan dan jejak setelah pensiun

Usai gantung sepatu, Boston menjalani kehidupan di sekitar Wigan. Ia mengelola Griffin Hotel yang berdekatan dengan Central Park Ground, arena yang pernah menjadi saksi dari begitu banyak try yang ia cetak.

Salah satu tribun di sana kemudian diberi nama sesuai sosoknya. Boston juga disebut sebagai figur yang tetap dikenal di lingkungan sepak bola Wigan, bahkan sampai menjelang akhir hayatnya.

Boston termasuk generasi awal yang masuk ke Rugby League Hall of Fame pada 1988. Ia juga menjadi salah satu dari lima pemain rugby league yang diabadikan lewat patung di Wembley Stadium.

Selain di Wembley, Boston diabadikan dalam dua patung lain, yakni di Wigan—karena ia dianggap anak angkat—dan di kota asalnya, Cardiff.

Dari sisi penghargaan kebangsaan, Boston diangkat menjadi MBE pada 1986. Ia juga termasuk kelompok pertama yang masuk ke Welsh Sports Hall of Fame saat lembaga tersebut diluncurkan pada 1990.

Knighthood dan kabar duka di keluarga

Pada 2025, Boston menerima gelar kehormatan tertinggi berupa knighthood. Pengumuman itu datang setelah ia didiagnosis menderita demensia, dan gelar tersebut diberikan oleh King Charles.

Pencapaian Boston juga tercatat sebagai yang pertama di rugby league selama 130 tahun sejarah cabang tersebut. Tahun lalu, ia menjadi pemain perdana yang menerima knighthood dengan status tersebut.

Kepergiannya datang hanya beberapa minggu setelah meninggalnya sang istri, Lady Joan. Warisan Boston—baik dari catatan try yang luar biasa maupun rangkaian pengakuan yang menyertainya—menempatkannya sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam olahraga rugby league Inggris.

Pengagum Boston selama bertahun-tahun menyebutnya sebagai sosok yang mempersatukan komunitas rugby league, termasuk di tengah rivalitas antar-kelompok penggemar. Kualitas permainannya, yang ditandai kecepatan, kelincahan, dan kekuatan, tetap dikenang meski sudah puluhan tahun sejak ia terakhir tampil di lapangan.

Di Wigan, Boston disebut terus menjadi perhatian ketika ia hadir menonton pertandingan. Ia akan dikenang sebagai pemain, sekaligus simbol dari era yang membentuk identitas rugby league di kota dan negara yang ia wakili.