Internasional

Ghana Berduka, Sulemana Abdul Samed alias Awuche Meninggal di Usia 33

×

Ghana Berduka, Sulemana Abdul Samed alias Awuche Meninggal di Usia 33

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ghana mourns its tallest man Awuche - a 'generous and popular giant'

jurnalistik.co.id – Kematian Sulemana Abdul Samed, yang dikenal sebagai pria tertinggi Ghana, memicu duka mendalam di berbagai wilayah—terutama di bagian utara negara itu, tempat tinggi badannya membuatnya menjadi figur yang dikenal luas di kalangan warga.

Sulemana Abdul Samed meninggal dunia di rumah sakit pada Senin. Ia berusia 33 tahun, dan peristiwa itu terjadi di Kota Tamale, sekitar 160 km (100 mil) di selatan kampung halamannya, Gambaga.

Menurut penuturan keluarga, Sulemana Abdul Samed sebelumnya dirawat setelah luka pada kakinya mengeluarkan masalah hingga berkembang menjadi infeksi. Ia sempat menjalani perawatan di Gambaga sebelum akhirnya dibawa ke fasilitas kesehatan di Tamale.

Disebut “raksasa populer” dan membawa identitas bagi Gambaga

Di Gambaga, sosok Sulemana Abdul Samed telah lama menjadi bagian dari identitas komunitas. Warga mengenal ia bukan hanya karena ukuran tubuhnya yang jauh di atas rata-rata, tetapi juga karena sikapnya yang dinilai hangat.

Saudara yang diwawancarai, Sulemana Abdul Kudus, menyampaikan kesan yang kuat tentang karakter almarhum: “Everyone knew how generous and kind he was. From when he died until now a lot of people are still coming to the house to find out what exactly happened,”

Ia juga mengatakan bahwa kabar kematian tersebut membuat warga Gambaga terkejut. “Everyone is just sad,” Kudus menambahkan, sekaligus menyebut bahwa penduduk kampung itu tidak menyangka kematian Sulemana terjadi secara mendadak.

Kudus menuturkan bahwa kehidupan Sulemana Abdul Samed ikut mengubah cara orang memandang Gambaga. Setiap kali ia berada di tempat lain di Ghana dan ditanya asal-usulnya, ia akan menjawab dari Gambaga—sehingga orang-orang langsung mengaitkannya dengan “pria tertinggi” yang berasal dari wilayah tersebut.

Pengalaman medis: gigantisme, Marfan syndrome, dan komplikasi di kaki

Dalam laporan kondisi kesehatannya, Sulemana Abdul Samed didiagnosis mengalami gigantisme pada usia dua puluhan. Pada pengukuran yang dicatat pada 2023, tinggi badannya mencapai 7ft 4in (223cm).

Keadaan itu berhubungan dengan Marfan syndrome, kelainan genetik yang memengaruhi jaringan ikat tubuh. Kondisi ini membuat Sulemana mengalami anggota tubuh yang berkembang sangat panjang dan memunculkan berbagai komplikasi sepanjang waktu.

Saudara Sulemana juga menjelaskan bahwa luka pada kaki tidak secara langsung disebabkan oleh Marfan syndrome, melainkan kemungkinan merupakan komplikasi yang muncul akibat kondisi tersebut. Ia menyebut bahwa Sulemana meninggal pada Senin pagi di rumah sakit, meski tenaga medis sebelumnya mengatakan respons terhadap pengobatan berlangsung baik.

Kudus menyatakan bahwa keluarga sempat menghadapi upaya perawatan, tetapi pada akhirnya Sulemana tetap meninggal dunia.

Perawatan dan bantuan keluarga Mahama

Seiring berjalannya waktu, Sulemana Abdul Samed menghadapi kesulitan membayar biaya medis. Namun, ia disebut sempat mendapatkan bantuan setelah seorang dermawan muncul dari lingkaran keluarga Presiden John Mahama.

Ibrahim Mahama, yang merupakan saudara dari Presiden John Mahama, dikabarkan bersedia menanggung biaya perawatan Sulemana di Tamale Teaching Hospital. Pada awal bulan itu, Ibrahim Mahama juga memberikan pembaruan mengenai rencana perawatan yang akan dijalani Sulemana.

Dengan dukungan tersebut, pihak keluarga berharap kondisi medisnya dapat ditangani lebih lanjut. Meski demikian, menurut kabar yang disampaikan, Sulemana tetap meninggal pada Senin.

Nama panggilan “Awuche” dan perubahan sejak usia 22

Sulemana dikenal luas dengan nama panggilan Awuche. Dalam bahasa Hausa, Awuche berarti “Let’s Go”. Nama itu kemudian melekat erat pada dirinya, terutama ketika masyarakat mulai menandainya sebagai tokoh lokal yang menonjol.

Ia tidak selalu memiliki tinggi badan yang tidak biasa. Di usia 22 tahun, ia mulai mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dibanding rekan-rekannya. Ia pernah menyampaikan bahwa ia bekerja sebagai tukang daging (butchers) di ibu kota Ghana, Accra, ketika perubahan pertama kali mulai ia rasakan.

Ia menjelaskan bahwa bagian dalam mulutnya ikut berubah ukuran hingga mengganggu napas: “I realised my tongue had expanded in my mouth to the extent that I could not breath [properly],”

Beberapa hari kemudian, ia menyadari bahwa bagian-bagian tubuh lainnya pun mulai bertambah besar. Dari situlah ia akhirnya diketahui memiliki Marfan syndrome yang memengaruhi jaringan ikat tubuh dan turut berdampak pada bentuk tubuh, termasuk kelengkungan tulang belakang yang berkembang secara tidak normal.

Dampak pada mimpi dan kehidupan sosial

Ketinggian Sulemana juga memaksa ia menyesuaikan rencana hidup. Sembilan tahun sebelum kabar kematiannya, tinggi badannya membuat ia harus menyerah pada mimpinya untuk menjadi pengemudi, kemudian kembali ke Gambaga.

Menurut keterangan keluarga, kondisi tersebut juga membatasi kehidupan sosialnya. Ia pernah mengungkapkan bahwa aktivitas yang dulu mampu ia lakukan kini menjadi semakin sulit: “I used to play football like every other young man, I was athletic but now I cannot even walk short distances.”

Meski demikian, pada saat dilaporkan sebelumnya, Sulemana Abdul Samed tampak tetap menjaga pandangan yang positif terhadap hidup. Ia juga menikmati status ketenarannya sebagai sosok yang dikenal publik.

Rencana pemakaman

Pihak keluarga akhirnya memutuskan untuk memakamkan Sulemana Abdul Samed di Tamale, bukan di Gambaga. Alasannya, desa Gambaga dikhawatirkan akan kewalahan menerima kerumunan pelayat yang datang terlalu banyak setelah kabar duka ini menyebar.

Kematian Sulemana Abdul Samed menutup perjalanan hidup seorang “raksasa populer” yang dikenal ramah—dan meninggalkan jejak kuat di kampung halamannya, tempat tinggi badannya dulu membuat namanya tidak hanya dikenali, tetapi juga diingat sebagai bagian dari identitas bersama warga.