Bisnis & Ekonomi

Harga Minyak Dunia Terus Melemah, WTI AS Turun di Bawah 80 Dolar AS

×

Harga Minyak Dunia Terus Melemah, WTI AS Turun di Bawah 80 Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Minyak Dunia Terus Turun, Minyak WTI AS Anjlok di Bawah 80 Dollar AS

jurnalistik.co.id – Harga minyak dunia melemah tajam pada akhir perdagangan Selasa (28/7/2026) waktu setempat, atau Rabu (29/7/2026) pagi WIB. Penurunan hampir 5% terjadi seiring menguatnya harapan jeda serangan Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat membuka jalan perundingan untuk mengakhiri perang.

Meskipun sentimen tersebut memberi angin segar, pasar tetap berhati-hati. Pelaku juga menilai penghentian serangan sebelumnya hanya berlangsung sementara dan belum menyelesaikan konflik yang selama ini ikut mengganggu pasokan minyak global.

Berdasarkan Reuters, harga minyak mentah Brent turun 4,27 dollar AS atau 4,8% menjadi 84,09 dollar AS per barrel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 3,35 dollar AS atau 4,1% menjadi 79,26 dollar AS per barrel.

Dalam tiga hari terakhir, harga Brent merosot sekitar 16%. Brent ditutup pada level terendah sejak 13 Juli 2026, sedangkan WTI menyentuh level terendah sejak 16 Juli 2026, menandakan tekanan yang cukup kuat pada sentimen perdagangan.

Meski kedua negara tak lagi saling melancarkan serangan dalam beberapa hari terakhir, ketegangan dinilai masih tinggi dan belum ada penyelesaian atas sengketa yang membuat Selat Hormuz berfungsi secara efektif tertutup. Jalur ini sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi langsung memengaruhi persepsi risiko pasokan.

Di sisi diplomasi, Iran membantah tengah berupaya melanjutkan perundingan dengan AS. Bantahan ini bertolak belakang dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim pembicaraan dengan Teheran berlangsung positif.

Selain itu, Oman mengajukan proposal yang didukung negara-negara Teluk untuk mengelola lalu lintas di Selat Hormuz. Usulan tersebut mencakup penerapan biaya sukarela bagi kapal yang melintas, tetapi Iran menolak dan menawarkan skema sementara dengan menempatkan sebagian jalur pelayaran di bawah pengawasan perairannya.

“Pasar memahami situasinya masih kacau dan harga diperdagangkan lebih rendah karena kedua pihak yang bertikai, yaitu AS dan Iran, tidak saling menyerang dalam beberapa hari terakhir,” ujar Direktur Energy Futures, Mizuho Bob Yawger. Mizuho menekankan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih sangat terbatas.

Tekanan pasokan juga datang dari kawasan lain. Serangan kelompok Houthi yang didukung Iran di Laut Merah dilaporkan masih terus berlangsung, termasuk gangguan terhadap jalur distribusi minyak yang melewati wilayah tersebut.

Di Arab Saudi, Saudi Aramco menghentikan operasional kilang Jizan berkapasitas 400.000 barrel per hari pada 27 Juli setelah serangan Houthi pada akhir pekan lalu. Kelompok Houthi juga terus mengganggu pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden, sehingga menciptakan hambatan kedua bagi distribusi minyak dunia.

Data Kpler menunjukkan sebanyak 28 kapal melintasi Selat Bab el-Mandeb pada Senin, yang menjadi jumlah tertinggi dalam empat hari terakhir. Namun, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz tetap rendah, mengisyaratkan bahwa pemulihan akses di jalur utama belum menunjukkan pergeseran berarti.

Pada Selasa, Houthi mengklaim telah menembakkan rudal balistik ke sebuah kapal tanker minyak Arab Saudi. Sementara itu, China dilaporkan menggelar pembicaraan langsung dengan Houthi agar kapal tankernya dapat melintasi Laut Merah bagian selatan tanpa menjadi sasaran serangan.

Di luar dinamika Timur Tengah, pasar juga memantau peluang dimulainya kembali pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina. Upaya tersebut mencuat setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan telah membahas hal itu dengan Trump.

Jika perang di Ukraina benar-benar berakhir, sebagian sanksi terhadap Rusia berpotensi dicabut. Dampaknya, Rusia dapat meningkatkan ekspor minyak ke pasar global, yang pada gilirannya akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga pada perdagangan berikutnya.