jurnalistik.co.id – Harga emas dunia kembali menurun tajam dan berakhir di level terendah dalam sepekan pada penutupan perdagangan Selasa (28/7/2026) waktu setempat, yang bertepatan dengan Rabu (29/7/2026) pagi WIB.
Pergerakan ini datang menjelang keputusan suku bunga The Fed. Pada saat dolar AS menunjukkan penguatan, logam mulia ikut melemah karena emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang non-AS.
Berdasarkan data Reuters, harga emas spot turun 1,2 persen menjadi 4.026,49 dollar AS per ons. Di sepanjang sesi, harga sempat menyentuh titik terendah sejak 21 Juli 2026.
Sementara itu, harga kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus turun 0,9 persen ke 4.038,70 dollar AS per ons.
Penguatan dolar AS yang bertahan di sekitar level tertinggi dalam satu bulan membuat permintaan terhadap emas cenderung tertekan. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong pasar mengurangi posisi di logam mulia menjelang agenda penentu kebijakan moneter.
David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, menilai harga energi yang masih tinggi tetap menjadi perhatian The Fed. Menurutnya, kekhawatiran terhadap inflasi yang berpotensi didorong komponen energi ikut membentuk ekspektasi arah kebijakan.
“Harga energi yang masih tinggi tetap menjadi kekhawatiran inflasi bagi para pejabat The Fed. Sikap The Fed yang diperkirakan tetap hawkish telah mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga dan menguatkan dollar AS, sehingga memberi tekanan pada pasar emas,” ujarnya.
Selain pengaruh dolar, sentimen pasar juga terkait dengan situasi geopolitik yang turut memengaruhi arah komoditas. Sejak perang antara AS–Israel dan Iran pecah pada akhir Februari 2026, harga emas tercatat telah turun sekitar 24 persen.
Menurut penilaian pasar, pelemahan tersebut berkaitan dengan ekspektasi bahwa inflasi akibat perang dapat membuat suku bunga bertahan pada level tinggi lebih lama. Dalam kondisi seperti ini, emas—meski sering diposisikan sebagai aset lindung nilai (safe haven) terhadap inflasi dalam jangka panjang—umumnya menghadapi tantangan karena kenaikan suku bunga cenderung menurunkan daya tarik logam mulia.
Alasan utamanya, suku bunga yang lebih tinggi membuat instrumen keuangan lain menawarkan imbal hasil yang relatif lebih kompetitif dibanding emas, yang tidak memberikan imbal hasil periodik seperti obligasi.
Berita Terkait
Menjelang keputusan The Fed dan pemantauan data inflasi
Pelaku pasar kini menantikan hasil rapat kebijakan moneter The Fed yang diumumkan pada Rabu (29/7/2026) waktu setempat. Di saat bersamaan, perhatian investor juga tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang diharapkan mampu memberi petunjuk mengenai kelanjutan arah kebijakan moneter.
Melalui data CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang sebesar 71 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini. Di sisi lain, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September diperkirakan mencapai 75 persen.
Keputusan suku bunga menjadi bagian dari rangkaian pemicu pergerakan harga aset, termasuk emas. Namun, sentimen juga akan ditopang oleh data ekonomi yang dijadwalkan rilis setelahnya.
Selain rapat The Fed, investor menunggu publikasi rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk periode Juni. Data tersebut dijadwalkan terbit pada Kamis (30/7/2026) dan dipandang dapat memberikan indikasi tambahan mengenai kecenderungan inflasi serta ruang kebijakan The Fed ke depan.
Dalam konteks itu, angka inflasi dari jalur PCE dapat memengaruhi ekspektasi pasar terkait kapan suku bunga berpotensi berubah, yang pada akhirnya akan berdampak langsung pada pergerakan dolar dan, selanjutnya, harga emas.
Proyeksi bank dan ekspektasi akhir tahun
Di tengah menunggu keputusan The Fed, proyeksi harga emas juga turut mengalami penyesuaian dari lembaga keuangan. Commerzbank, misalnya, memangkas perkiraan harga emas untuk akhir tahun sebesar 300 dollar AS menjadi 4.500 dollar AS per ons.
Langkah penurunan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa sejumlah pelaku pasar cenderung berhati-hati terhadap pemulihan harga emas di sisa tahun, terutama jika arah kebijakan moneter dinilai masih mendukung dolar AS yang kuat.
Secara keseluruhan, pelemahan harga emas pada perdagangan terakhir menunjukkan keterkaitan yang erat antara ekspektasi kebijakan The Fed, penguatan dolar AS, serta perhatian terhadap faktor inflasi yang masih dipengaruhi dinamika harga energi. Dengan keputusan suku bunga yang semakin dekat dan data PCE Juni yang akan segera dirilis, pasar masih akan menguji ulang posisi hingga sinyal kebijakan moneter menjadi lebih jelas.
Hasil rapat The Fed pada Rabu (29/7/2026) beserta interpretasi terhadap pernyataan yang menyertainya menjadi titik fokus berikutnya, apakah tekanan pada emas akan berlanjut atau mulai mereda. Sementara itu, pergerakan emas tetap berada dalam bayang-bayang ekspektasi suku bunga yang diproyeksikan pasar, termasuk kemungkinan kenaikan pada pertemuan September.












