Nasional

Heru Baskoro Kenang Sayuti Melik: Disiplin, Sederhana, dan Pencinta Catur

×

Heru Baskoro Kenang Sayuti Melik: Disiplin, Sederhana, dan Pencinta Catur

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kenangan Heru Baskoro tentang Sayuti Melik: Ayah Saya Sangat Disiplin dan Suka Main Catur

jurnalistik.co.id – Di usia 84 tahun, Heru Baskoro mengakui ingatannya tidak lagi sejelas dulu. Diabetes dan gangguan penglihatannya perlahan memengaruhi kondisi fisik sekaligus daya ingat.

Namun, ketika nama sang ayah, Sayuti Melik, disebut, ekspresi Heru tampak berubah. Dari sana, ia kembali pada cerita-cerita yang selama ini ia simpan tentang sosok yang dikenalnya dekat.

Ia ditemui di rumah kontrakannya di Rawalumbu, Kota Bekasi, pada Senin (13/7/2026). Dalam kesempatan itu, Heru juga menceritakan kondisi hidupnya yang dikabarkan hidup terlantar bersama sang istri dan kehabisan biaya pengobatan mata.

Disiplin yang diajarkan lewat keseharian

Bagi Heru, Sayuti Melik tidak hanya dikenal sebagai tokoh sejarah, melainkan juga sebagai ayah yang menanamkan kebiasaan melalui aturan. Heru menyebut ayahnya sangat konsisten menekankan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.

“Ayah saya orang yang sangat disiplin dan keras dalam menerapkan aturan. Beliau selalu mengajarkan agar kami mengikuti peraturan dan tidak melanggarnya,” ujar Heru saat ditemui.

Menurut Heru, disiplin itu bukan sekadar nasihat yang berhenti pada kata-kata. Nilai tersebut tampak pada cara ayahnya memperlakukan tuntunan hidup, dari hal yang kecil sampai yang berkaitan dengan tanggung jawab.

Prinsip itu, kata Heru, tetap ia pegang sampai sekarang. Meski kondisi kesehatannya terus menurun, ia masih berusaha mempertahankan cara pandang yang sama seperti yang dulu ditanamkan.

Kesederhanaan dan hobi catur

Di mata publik, Sayuti Melik sering disebut dalam kaitan sejarah kemerdekaan. Akan tetapi, bagi Heru, yang lebih menonjol adalah sisi ayahnya yang sederhana dan dekat dengan aktivitas sehari-hari, termasuk kegemaran bermain catur.

“Ayah sangat menyukai catur. Karena beliau, saya juga belajar bermain catur. Dulu beliau sering bermain catur sambil makan di rumah makan sederhana,” kata Heru.

Cerita tentang catur itu terdengar seperti gambaran yang masih hidup di ingatan Heru. Ia menempatkan hobi tersebut bukan sebagai sekadar hiburan, melainkan sebagai cara ayahnya membangun kebiasaan yang dapat ditiru.

Ia juga menggambarkan bahwa ketertarikan tersebut muncul dari lingkungan yang sederhana. Aktivitas makan di rumah makan sederhana disandingkan dengan momen bermain catur, sehingga keduanya terasa menyatu dalam keseharian keluarga.

Ikatan dengan Soekarno dan cara memberi konteks

Di luar urusan disiplin dan permainan catur, Heru menyinggung kedekatan ayahnya dengan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Menurut Heru, hubungan itu tidak hanya sebatas pekerjaan, melainkan ditopang oleh saling memahami cara berpikir.

“Beliau jarang bermain catur dengan Bung Karno karena Bung Karno sangat sibuk,” ujar Heru.

Meski tidak sering duduk di satu meja permainan, Heru menyebut ada bentuk kedekatan yang lain. Ia menceritakan bahwa setiap kali Soekarno akan berpidato di suatu daerah, Sayuti Melik selalu menyiapkan latar belakang serta informasi mengenai tempat yang akan dikunjungi.

“Jadi pidato Bung Karno sesuai dengan kondisi masyarakat,” kata Heru.

Lewat penjelasan itu, Heru memposisikan kontribusi ayahnya pada penyiapan konteks, agar pesan dalam pidato selaras dengan keadaan masyarakat. Ia tidak menambahkan hal baru, hanya menjelaskan peran yang ia lihat dan ia pahami dari dekat.

Harapan sederhana dan pesan untuk generasi muda

Meski hidup dalam kondisi sederhana dan kesehatan terus menurun, Heru mengatakan masih menyimpan harapan. Ia berharap dapat kembali sehat dan tetap bermanfaat bagi lingkungan serta sesama manusia.

Ia juga menyampaikan pesan yang ditujukan kepada generasi muda. Menurut Heru, kemerdekaan yang sudah diraih harus diimbangi dengan ketaatan pada aturan, baik dalam sikap maupun tindakan.

“Saya berharap anak-anak muda selalu menaati peraturan, hidup disiplin, dan tidak melanggar aturan. Sekarang kita sudah menjadi bangsa yang merdeka, jadi kita harus menjaga dan menaati aturan negara sendiri,” kata Heru.

Jejak identitas Heru Baskoro

Heru lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 1 Juni 1942. Ia merupakan putra Sayuti Melik dan Surastri Karma Trimurti, dua tokoh yang namanya lekat dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dalam penuturan Heru, gambaran ayahnya mengandung dua lapisan yang berjalan berdampingan: ketegasan dalam kedisiplinan dan kesederhanaan dalam keseharian. Dari catur sampai cara menyiapkan informasi sebelum pidato, semuanya kembali pada satu benang merah—nilai disiplin yang terus ia warisi.