Hukum & Kriminal

Wagub Sumbar Vasko Ruseimy Diatasnamakan: Suara AI Dipalsukan untuk Menipu Warga

×

Wagub Sumbar Vasko Ruseimy Diatasnamakan: Suara AI Dipalsukan untuk Menipu Warga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Nama Dicatut untuk Penipuan, Suara Wagub Sumbar Vasko Ruseimy Dipalsukan Pakai AI

jurnalistik.co.id – Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap penipuan yang mengatasnamakan dirinya. Ia menyebut, pelaku kini diduga memakai kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meniru suaranya agar korban semakin yakin.

Vasko mengatakan, praktik penipuan itu tidak berhenti pada identitas yang dicatut. Pelaku juga diduga menyiapkan berbagai pendekatan, mulai dari nomor telepon hingga surat palsu, untuk menciptakan kesan bahwa komunikasi yang diterima benar adanya.

Menurut Vasko, pelaku bahkan memasang foto profil dirinya pada akun WhatsApp. Langkah tersebut, menurutnya, ikut membantu pelaku meyakinkan target agar merespons pesan atau panggilan yang masuk.

Ia menjelaskan, setelah kontak dibangun, pelaku menghubungi masyarakat melalui telepon, pesan singkat, hingga mengirimkan voice note yang direkayasa AI. Rekaman suara tersebut dibuat agar menyerupai suara Vasko, sehingga calon korban sulit membedakan antara orang asli dan hasil tiruan.

Dalam keterangannya, Vasko menekankan bahwa tujuan utama pelaku adalah mengincar pihak-pihak yang sedang membutuhkan bantuan. “Jangan sampai ada korban berikutnya. Saya mengajak seluruh masyarakat untuk lebih waspada dan membantu menyebarluaskan informasi ini agar tidak ada lagi yang menjadi sasaran penipuan,” kata Vasko di Padang, Senin (13/7/2026).

Vasko juga menegaskan, dirinya tidak pernah meminta uang muka, biaya administrasi, maupun bentuk pembayaran lainnya kepada masyarakat dengan alasan penyaluran bantuan pemerintah. Pernyataan ini menjadi penegasan tegas bahwa skema pembayaran apa pun yang mengatasnamakan dirinya tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Jika ada pihak yang mengatasnamakan saya dan meminta transfer uang dengan alasan apa pun, saya pastikan itu adalah penipuan. Jangan dilayani dan jangan pernah melakukan transfer,” ujarnya.

Dengan adanya peniruan suara berbasis AI, Vasko mengingatkan bahwa modus semacam ini dapat terasa meyakinkan bagi orang yang menjadi sasaran. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak langsung percaya hanya dari format pesan, nada komunikasi, maupun kemiripan suara yang diterima.

Verifikasi penting sebelum menanggapi pesan

Vasko mengimbau agar publik melakukan verifikasi terhadap setiap informasi atau komunikasi yang mengatasnamakan dirinya maupun pejabat pemerintah lainnya. Ia menilai, kebiasaan memeriksa keabsahan pesan menjadi langkah awal untuk mencegah jatuhnya korban.

Masyarakat, lanjutnya, diminta tidak menuruti permintaan apa pun yang disampaikan melalui telepon, pesan WhatsApp, atau voice note yang mencurigakan. Terutama ketika ada permintaan transfer, uang muka, atau biaya administrasi dengan dalih penyaluran bantuan.

Ia juga meminta agar korban tidak menunggu hingga kerugian terjadi lebih besar. Jika ada indikasi penipuan, masyarakat diminta segera melaporkan dugaan tersebut kepada pihak berwenang.

Vasko menyampaikan bahwa semakin banyak informasi yang menyebar mengenai modus penipuan, semakin besar pula peluang pencegahan. Karena itu, ia mengajak publik untuk saling mengingatkan di lingkungan terdekat.

“Semakin banyak masyarakat yang mengetahui modus ini, semakin besar pula peluang kita mencegah jatuhnya korban. Mari saling mengingatkan keluarga, kerabat, dan lingkungan sekitar agar tidak mudah tertipu,” kata Vasko.

Menurut Vasko, penipu memanfaatkan kondisi ketika masyarakat sedang menunggu atau membutuhkan bantuan. Situasi seperti ini membuat target lebih mudah terpancing untuk merespons cepat, sehingga penipuan dapat berjalan tanpa hambatan berarti.

Ia menegaskan bahwa pencatutan identitas pejabat pemerintah merupakan tindakan yang bertujuan memperoleh keuntungan. Karena itu, publik perlu tetap berhati-hati meski pesan datang dari kanal yang tampak formal atau menggunakan atribut yang meniru figur pejabat.

Dalam praktiknya, pelaku tidak hanya menyiapkan identitas palsu, tetapi juga menggunakan rekayasa teknologi untuk memperkuat keyakinan korban. Vasko menilai perkembangan metode ini membuat edukasi publik menjadi kunci, agar masyarakat tidak mudah tergoda oleh tampilan maupun kemiripan suara.

Selain itu, Vasko mengingatkan agar masyarakat tidak mendewakan bukti yang sifatnya visual atau terdengar meyakinkan, termasuk foto profil pada akun WhatsApp. Ia meminta publik tetap mengutamakan langkah verifikasi dan kehati-hatian sebelum mengambil keputusan.

Dengan imbauan tersebut, Vasko berharap tidak ada lagi pihak yang menjadi korban penipuan di Sumatera Barat. Ia juga mengajak semua elemen masyarakat untuk ikut menyebarkan informasi yang benar agar modus seperti ini dapat dihentikan sejak dini.