Hukum & Kriminal

Amina Sani dicoret sebagai caregiver setelah rekaman rahasia menunjukkan ancaman ke pria 81 tahun

×

Amina Sani dicoret sebagai caregiver setelah rekaman rahasia menunjukkan ancaman ke pria 81 tahun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Carer at home investigated by BBC struck off for threatening elderly man

jurnalistik.co.id – Amina Sani, seorang caregiver dari Nigeria, dicoret dari daftar pekerja layanan sosial setelah terekam secara rahasia melakukan tindakan yang dinilai mengancam dan mempermalukan seorang lansia yang hidup dengan demensia.

Keputusan itu muncul setelah Sani terungkap mengancam pria berusia 81 tahun dengan melibatkan polisi, serta menyatakan ia akan memukul korban ketika kondisi si pria makin terganggu dan “melawan” menghadapi rencana mandi. Sani kemudian tetap melanjutkan perawatan kebersihan pribadi yang bersifat intim, sementara seorang pekerja lain menahan lengan korban.

Insiden terjadi di Castlehill Care Home di Inverness pada 10 April tahun lalu. Kasus itu akhirnya terbuka setelah putri penghuni memasang kamera pengintai secara diam-diam di kamar ayahnya, menyusul kekhawatiran mengenai kualitas perawatan yang diterima.

Cuplikan yang diperoleh kemudian ikut ditampilkan dalam program/dokumenter BBC mengenai standar perawatan di Castlehill, menyusul tuduhan dari keluarga bahwa rumah perawatan tersebut melakukan “cruelty” dan “neglect”.

Ancaman saat hendak mandi

Dalam rekaman yang dipertunjukkan pada sidang, Sani berulang kali memberi tahu si korban bahwa ia akan dimandikan. Korban dapat terdengar menolak dengan teriakan “no” dan “leave me alone”, sebelum akhirnya melontarkan sumpah serapah kepada Sani dan caregiver lainnya.

Rekaman itu juga menunjukkan pasangan caregiver tersebut tertawa ketika kejadian berlangsung. Pada satu momen, Sani terlihat menarik selimut korban tanpa peringatan terlebih dahulu, yang kemudian membuat korban menjadi makin tertekan dan gelisah.

Panel juga menilai bahwa Sani menggunakan cara yang tidak menunjukkan empati. Chairman sidang, Iain Burke, menyebut perlakuan tersebut sebagai “significant abuse of trust and power” dan menyatakan Sani tidak menunjukkan pemahaman maupun penyesalan atas tindakannya. Burke menilai sikap dan perilaku Sani “fundamentally incompatible” dengan pendaftaran sebagai pekerja layanan sosial.

Burke juga menegaskan bahwa panel melihat kegagalan dari sisi institusi—namun hal itu tidak menghapus tanggung jawab pribadi Sani sebagai pekerja layanan sosial yang terdaftar.

Ketakutan korban terhadap mandi

Di persidangan, Su Christie—putri korban—menyampaikan bahwa ayahnya, yang sebelumnya bekerja sebagai kru merchant navy, memiliki ketakutan seumur hidup terhadap aktivitas mandi. Ketakutan itu, menurut Christie, berakar dari trauma pada masa kecil.

Setelah putusan, Christie menjelaskan dengan nada yang menekankan memburuknya kondisi emosi korban selama interaksi. Ia mengatakan: “You could tell by the things he was doing, the things he was saying, that his distress was growing and growing throughout that interaction and there was no attempt to bring him down or de-escalate him whatsoever.

He didn’t know what was going on. He’s a confused 81-year-old man living with dementia. He was frightened.

It was devastating, utterly devastating. I was in shock because, although I knew there were issues, I didn’t expect to see that. It was very distressing to watch.”

Christie juga menilai rekaman memperlihatkan tidak adanya upaya untuk menurunkan tensi atau menenangkan korban, sementara korban tidak sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi.

Putusan panel dan soal tanggung jawab personal

Panel menyatakan Sani mengatakan kepada ayah Christie: “We will call the police and they will take you to court” serta, merujuk pada seorang petugas laki-laki, bertanya: “do you think that man is going to hit you?” atau dengan makna yang sejenis. Panel menilai rangkaian ucapan dan tindakannya sebagai bagian dari cara menangani korban yang tidak berorientasi pada keselamatan serta martabat pasien.

Dalam pertimbangan, chairman menyampaikan: “We agree with your solicitor’s submissions that you were let down by your employer, and there is little doubt that there was institutional failure.

None of the failures you have highlighted absolve you from your personal responsibility as a registered social care worker.

It is clear throughout the video clips that you did not show any kindness or compassion to the resident. At one point you and your colleague can be seen laughing in response to something the resident says or does.

It does not appear to us to be laughing with the resident, but it appears more disrespectful in nature. We find that the resident suffered harm and you did not respect his dignity.”

Burke menambahkan bahwa panel berpandangan perlakuan Sani terhadap korban “not something that could be remediated with training”, karena dinilai mencerminkan sikap dasar Sani, bukan semata masalah yang bisa diperbaiki melalui pelatihan.

Panel juga menyoroti bahwa Sani gagal menerapkan teknik de-eskalasi.

Di bagian penutup, perwakilan hukum Sani menyampaikan bahwa Sani ingin meminta maaf kepada keluarga. Sementara itu, Christie—yang memindahkan ayahnya ke tempat tinggal baru tidak lama setelah insiden—menilai putusan tersebut tepat. Ia mengatakan: “I think it was the right decision.

Whilst the panel did comment on institutional failures, this hearing is about her own personal accountability. And I think it sends the message that personal accountability matters.

In a care setting, people living with dementia, like my father, should be treated with respect, dignity, and patience and courtesy. They should be treated as human beings and that’s all I was asking for.”

Persidangan terkait caregiver lain masih berjalan

Sidang lanjutan untuk menentukan sanksi terhadap perilaku caregiver lain—Oluwabunmi Salami—yang melibatkan pria yang sama, masih berlanjut. Pada tahap sebelumnya, Salami mengakui tuduhan bahwa ia menaikkan dan menurunkan tempat tidur korban tanpa peringatan, sehingga membuat korban menjadi tertekan.

Sikap pihak pengelola rumah perawatan

Morari Living menyatakan tindakannya dilakukan dengan cepat ketika kekhawatiran muncul. Dalam pernyataan, juru bicara perusahaan menyebut: “There is no truth in Amina Sani’s claim that she was not trained properly by Morar.

When concerns were brought to our attention, Morar Highland acted promptly, including suspending employees where appropriate, undertaking formal investigations and taking action in line with the findings.

We made the relevant referrals to the Scottish Social Services Council (SSSC) and, where required, to the Protecting Vulnerable Groups (PVG) Scheme.

The safety, dignity and wellbeing of our residents remains our priority, and all concerns regarding staff conduct are taken seriously and acted upon appropriately.”

Di sisi lain, dalam sidang, perwakilan hukum Sani menyampaikan bahwa Sani tidak mendapatkan pelatihan yang memadai, terutama ketika menjalani pekerjaan pertamanya di Inggris. Namatirai Chipere juga menyatakan kliennya adalah korban dari persoalan sistem perawatan sosial. Namun, chairman menilai hal tersebut tidak menghapus tanggung jawab personal Sani.

Castlehill, yang kini berganti nama menjadi Morar Highland, disebut memiliki penilaian “good” pada pemeriksaan perawatan terakhir.