jurnalistik.co.id – Pulau Easdale yang kecil di Kepulauan Inner Hebrides bersiap menyambut Kejuaraan Lempar Batu tingkat Dunia, sebuah ajang yang mengundang peserta dari berbagai negara untuk menguji ketepatan dan kontrol lemparan di atas air.
Diperkirakan sekitar 400 peserta akan berlomba, sementara sekitar 2.000 penonton ikut menyeberang ke pulau yang biasanya dihuni kira-kira 60 warga.
Tahun ini, kompetisi juga kembali menarik perhatian internasional. Kontingen dari lebih dari 30 negara disebut ikut berangkat, termasuk peserta yang datang dari Selandia Baru dan Kanada.
Panitia menegaskan penyelenggaraan dilakukan dengan aturan ketat dan tradisi yang sudah lama dijaga. Batu yang digunakan harus berasal dari Easdale, yang merupakan salah satu dari empat Kepulauan Slate, dan ukuran batunya tidak boleh lebih dari tiga inci atau 7,6 cm diameter.
Untuk memastikan batu sesuai kriteria, batu-batu tersebut diuji dengan cara dilewatkan melalui “Ring of Truth”. Prinsip pengujiannya juga menjadi penentu ketika ada perselisihan terkait bentuk dan kualitas lemparan.
Tahun lalu, kejuaraan sempat terguncang skandal kecurangan. Sejumlah peserta diduga melakukan “stone tampering” hingga batu mereka dinilai memiliki bentuk yang terlalu seragam dan mencurigakan, lalu ketika diperiksa mereka mengaku mengamplas batu agar lebih sesuai. Akibatnya, peserta yang melanggar didiskualifikasi.
“It was a bit of a shocker,” ujar Kyle Mathews, Toss Master sekaligus salah satu penggagas acara. Mathews juga menyampaikan, “But if anything it was quite flattering. It goes to show how much some people want to win the tournament.” Ia menyebut dirinya berasal dari Irlandia.
Menanggapi kasus tersebut, penyelenggara menyiapkan pengawasan tambahan. Mathews menyatakan tahun ini mereka menunjuk seorang ahli geologi resmi untuk turnamen, agar tidak ada celah dalam penerapan aturan batu.
Selain urusan teknis, acara ini juga menonjolkan upaya agar semakin inklusif. Jika cabang ini sebelumnya didominasi pria, penyelenggaraan kali ini justru mencatat angka partisipasi perempuan dan peserta di bawah 16 tahun yang menjadi rekor baru.
Format seleksi juga mencerminkan tingginya minat. Dari penyelenggaraan sebelumnya, sekitar 200 kualifikator akan tampil, sementara pendaftar lain dipilih melalui undian karena kuota sangat terbatas.
Untuk memastikan keputusan berjalan akurat, Luisa Hendry hadir langsung sebagai Scottish Geologist. Ia merupakan mantan insinyur yang kemudian dikenal luas sebagai geolog media sosial, memiliki ribuan pengikut melalui video pendek, sekaligus bersedia membantu memeriksa batu dan menyelesaikan sengketa bila diperlukan.
Hendry juga akan memberi tur yang menjelaskan mengapa formasi batuan di Easdale membuat pulau ini dianggap ideal untuk kejuaraan tersebut. Penjelasan itu berhubungan dengan sejarah panjang pulau sebagai pusat penambangan slate.
Berita Terkait
Pada satu masa, sekitar 500 orang tinggal di Easdale yang dijuluki “roofed the world”. Bangunan publik di berbagai wilayah seperti Skotlandia, bahkan hingga Kanada dan Australia, disebut dibuat agar tahan hujan dengan menggunakan slate Easdale.
Namun industri slate mengalami pukulan besar pada 1881 ketika gelombang besar membanjiri tujuh kuari, termasuk lokasi yang menjadi venue kejuaraan lempar batu. Ekspor slate disebut masih berlanjut hingga abad ke-20, tetapi peristiwa itu menjadi titik balik yang merusak keberlanjutan usaha.
Di atas arena lomba, tiap kontestan mendapat tiga skenario lempar. Batu diluncurkan dari batu datar besar yang dikenal sebagai Skim of Destiny, lalu batu harus tetap berada dalam jalur yang ditandai dan memukul permukaan air setidaknya tiga kali.
Jarak hasil lemparan kemudian dijumlahkan. Sejumlah pelompat yang sangat terampil bahkan dapat menyentuh dinding belakang kuari dengan jarak sekitar 207 kaki atau 63 meter.
Skor tertinggi berhak melaju ke final besar yang disebut Toss Off, untuk menentukan siapa yang membawa trofi. Untuk kategori beregu, panitia juga menyiapkan penghargaan, termasuk bagi peserta yang lebih muda dan kelompok usia lebih dari 60 tahun dalam kategori “Old Tossers”.
Pada sisi juara bertahan, Jonathan Jennings dari Kentucky tercatat sebagai juara bertahan sekaligus menjadi pemenang putra pertama dari Amerika Serikat. Sementara Lucy Wood dari Sheffield menargetkan gelar ketujuhnya di nomor putri.
Meski terasa seperti hiburan keluarga dengan humor ala anak sekolah, penyelenggaraan kejuaraan juga membawa dampak sosial. Acara ini disebut menggalang sekitar £15.000 untuk amal komunitas dan sekaligus mendorong ekonomi lokal dengan kontribusi yang jumlahnya disebut meningkat “by many thousands more”.
Mathews menilai daya tariknya tidak hanya soal teknis. Ia menghubungkan pesona tersebut dengan hubungan purba antara batu dan air, sekaligus kenangan masa kecil yang terasa hangat.
Ia menjelaskan, “Whenever you mention stone skimming, it immediately brings up nostalgic memories of doing it with their family – parents or grandparents teaching them how to do it”. Menurutnya, bagi banyak orang, pengalaman belajar dari keluarga membuat olahraga ini terasa dekat bahkan sebelum seseorang benar-benar menguasai tekniknya.
Mathews juga menyampaikan teori ketiga mengenai mengapa orang tetap tertarik melompati batu di permukaan air. “Because you only do it with your family and if you’re better than your brother or dad, you think you’re good at it,” katanya, sebelum menambahkan, “In every other sport, like tennis or football, you quickly come up against people who are better.”
Rekor jarak dunia saat ini dipegang Dougie Isaacs, seorang warga Skotlandia yang dalam lomba di Wales pada 2018 mampu melesatkan batu hampir 400 kaki atau 122 meter.
Menjelang pertandingan, Mathews mengingatkan bahwa banyak orang mungkin akan terkejut melihat kemampuan peserta inti. Ia menegaskan, “A lot of people are in for a shock when they see just how good the real competitors are,” agar ekspektasi penonton tidak hanya sebatas anggapan permainan sederhana.








