Hukum & Kriminal

Apa Dampak Laporan Lady Justice Thirlwall terhadap Perdebatan Kasus Lucy Letby?

×

Apa Dampak Laporan Lady Justice Thirlwall terhadap Perdebatan Kasus Lucy Letby?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Will the Thirlwall report change the debate about Lucy Letby?

jurnalistik.co.id – Laporan yang disusun oleh Lady Justice Thirlwall dijadwalkan dipublikasikan pada Selasa, hampir setahun lebih lambat dari perkiraan awal. Penyelidikan ini berangkat dari pertanyaan bagaimana Lucy Letby bisa melakukan kejahatannya di Countess of Chester Hospital pada periode 2015–2016, serta apakah para pengelola rumah sakit merespons kekhawatannya dengan cara yang semestinya.

Dalam pembahasan publik, nama Lucy Letby kerap memicu reaksi kuat. Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup untuk membunuh tujuh bayi dan mencoba membunuh tujuh bayi lainnya, setelah dua juri menyatakan vonis bersalah dan dua kali permohonan izin untuk banding ditolak.

Batas wewenang: bukan memeriksa ulang vonis

Namun, jawaban cepat untuk pertanyaan apakah laporan Thirlwall akan mengubah perdebatan soal Letby adalah tidak. Laporan tersebut tidak menilai apakah Letby bersalah atau tidak, karena ranahnya memang bukan pemeriksaan terhadap hal itu.

Lady Justice Thirlwall menyampaikan bahwa ia “approached the inquiry on the basis that Lucy Letby is guilty of the crimes of which she has been convicted”. Ia juga menegaskan perannya bukan untuk “to set about reviewing the convictions”, dan menyampaikan bahwa “The Court of Appeal has done that, with a very clear result.”

Dengan demikian, apa pun kesimpulan laporan nantinya, vonis terhadap Letby akan tetap berdiri. Meski begitu, sidang penyelidikan tidak terjadi dalam ruang hampa, karena bagian lain dari sistem hukum tetap dapat memperhatikan temuan laporan.

Peran CCRC dan kemungkinan implikasi hukum

Organisasi yang memiliki kewenangan untuk mengembalikan perkara Letby ke Court of Appeal adalah Criminal Cases Review Commission (CCRC). Ketua CCRC, Dame Vera Baird, mengatakan kepada BBC bahwa mereka akan memperhatikan laporan Thirlwall secara serius.

Dame Vera Baird menyatakan: “We will be looking at the report with interest to assess whether it has any bearing on our review of the case.” CCRC sendiri belum memberi petunjuk kapan keputusan akan diambil.

Walau pertanyaan tentang vonis Letby tidak masuk lingkup penyelidikan Thirlwall, isu tersebut tetap hadir di ruang sidang. Tepat ketika proses penyelidikan hendak selesai, mantan eksekutif rumah sakit mengajukan agar waktu penetapan ditunda hingga CCRC membuat keputusan. Permintaan serupa juga disampaikan melalui surat dari pengacara Letby dan Sir David Davis, seorang anggota parlemen yang berkampanye bagi Letby.

Sir David Davis berargumen bahwa penyelidikan yang “predicated on the presumption that Lucy Letby’s conviction is safe, when there is now a wealth of authoritative voices questioning that conviction, will only undermine the conclusions arrived at by your inquiry and potentially lead to more babies dying unnecessarily”. Lady Justice Thirlwall menolak permohonan untuk menjeda penyelidikan, dengan alasan ia tidak memeriksa tindakan Letby, melainkan tindakan para pejabat dan manajer yang bertanggung jawab merespons krisis.

Fokus yang mungkin paling terasa bagi keluarga pasien

Keluarga bayi yang divonis meninggal dan yang menjadi korban percobaan pembunuhan tidak menginginkan penyelidikan ditunda. Richard Scorer dari Slater & Gordon Solicitors, yang mewakili tiga keluarga, mengatakan kepada BBC bahwa fakta bahwa vonis Letby tetap berlaku adalah hal yang krusial.

Ia menyebut: “That’s the legal reality,” dan menambahkan, “And the noise about her convictions doesn’t change that.” Namun ia juga menegaskan bahwa, terlepas dari vonisnya, “serious failures” di rumah sakit, serta cara para manajer menangani kekhawatannya saat muncul, tidak boleh terulang di tempat lain.

Pertanyaan kunci: apakah ada kesempatan menghentikan lebih cepat

Meski tidak menilai vonis, laporan ini diperkirakan akan menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: apakah ada bayi yang mungkin bisa hidup atau terhindar dari cedera seandainya tindakan pencegahan dilakukan lebih awal.

Penyelidikan membagikan ribuan dokumen yang menerangi apa yang terjadi di dalam rumah sakit. Dari proses persidangan, muncul rangkaian kejadian yang dipetakan sebagai timelime, termasuk apakah “alarm bells” seharusnya mulai berbunyi sejak Juni 2015, ketika tiga bayi meninggal berdekatan—jumlah yang seharusnya terjadi dalam setahun pada unit tersebut.

Kejadian lain juga menjadi sorotan, termasuk Agustus 2015 ketika seorang bayi diracun dengan insulin. Hasil tes darahnya tidak memunculkan peringatan. Dalam persidangan, konsultan rumah sakit menerima bahwa ini adalah “collective failure”.

Pihak pengacara keluarga bayi tersebut mengatakan hasil tes memberikan “the clearest opportunity to detect and stop Letby” dan menyebutnya sebagai “a bright line within the chronology after which no babies should have been harmed”.

Memasuki awal 2016, para manajer senior termasuk medical director Ian Harvey dan director of nursing Alison Kelly diketahui telah mengetahui tingkat kematian yang tidak biasa di unit neonatal serta adanya kekhawatiran yang meningkat terhadap seorang perawat. Akan tetapi, situasi itu tidak berujung pada tindakan perlindungan pasien.

Baru setelah dua saudara kembar rangkap (triplet brothers) meninggal pada Juni 2016, Letby akhirnya dilepas dari tugas perawatan. Setelah berbagai pengakuan dari manajer dan saksi lainnya, laporan ini diperkirakan menyimpulkan adanya kegagalan total proses untuk memastikan keselamatan pasien di setiap level di Countess of Chester Hospital.

Revelasi dalam laporan dan rekomendasi perubahan

Dalam laporannya, Lady Justice Thirlwall diperkirakan memuat penilaiannya atas sejumlah temuan, termasuk bahwa orang tua Letby mengancam para eksekutif, Letby gagal dalam penilaian pelatihan karena kurang empati, serta luas hubungan Letby dengan dokter Mark Deakin—yang mengatur agar Letby dapat berkunjung ke rumah sakit lain meskipun ia berada di bawah kecurigaan pembunuhan.

Dokter yang dalam persidangan disebut sebagai “boyfriend” oleh jaksa tersebut baru kali ini diidentifikasi, yakni pada bulan ini, setelah kematiannya. Lady Justice Thirlwall juga diperkirakan menyampaikan rekomendasi perubahan yang dapat mencakup kontrol baru untuk penyimpanan insulin, prosedur wajib saat dugaan adanya tindakan membahayakan secara sengaja muncul, rincian soal pengaturan manajer dan eksekutif NHS, serta peningkatan penggunaan CCTV di unit neonatal.

Laporan ini juga akan menyoroti jumlah rekomendasi yang sudah dibuat dari berbagai penyelidikan publik pada lebih dari 30 skandal NHS sebelumnya, namun tidak ditindaklanjuti. Analisis tim hukum dalam penyelidikan menunjukkan bahwa dari lebih dari 1.400 rekomendasi dari penyelidikan terkait layanan kesehatan terdahulu, sebagian besar tidak diimplementasikan dengan jelas.

Richard Scorer menyinggung kegagalan menerapkan rekomendasi dari penyelidikan publik sebagai “the British disease”. Ia juga menyatakan bahwa kegagalan itu merupakan pengkhianatan: “It is a betrayal not just of the people who have suffered in these cases, families like those I represent, it’s actually betrayal of the public”.

Harapan perubahan dan bagaimana debat publik merespons

Dr Rosie Benneyworth yang memberi kesaksian dalam penyelidikan Thirlwall juga meyakini bahwa laporan ini berpotensi membawa perubahan di seluruh NHS. Ia mengatakan, “We can’t keep going on diagnosing the problem, and not making the change,” seraya menyebut kebutuhan akan perubahan budaya agar keselamatan pasien lebih terjaga.

Carla Duprey dari Bond Turner Solicitors, yang mewakili dua keluarga, menilai lamanya waktu penyusunan laporan justru pertanda bahwa Lady Justice Thirlwall memastikan tidak ada hal yang diabaikan. Ia menyatakan: “I am optimistic that the report is going to be thorough, will raise criticisms, and will hopefully result in some real change”.

Meski laporan berpotensi memberi arah perubahan sistem, pertanyaan awal tetap menggantung: apakah hal itu akan mengubah percakapan soal Lucy Letby? Dalam penilaian David Wilson, guru besar kriminologi emeritus di Birmingham City University, laporan kemungkinan besar tidak mengubah opini yang sudah mengakar.

Ia mengatakan: “The ‘noisier’ Letby commentators are almost universally on the side that she is innocent.” Artinya, kelompok yang aktif dalam perdebatan cenderung tetap pada posisi yang sama.

Di sisi lain, di tengah proses hukum yang berjalan paralel, kampanye pendukung Letby juga disebut meningkat, termasuk protes dan situs web untuk mendukungnya. Aktivitas media yang dilakukan mendukung upayanya di CCRC melalui dua konferensi pers yang dipublikasikan luas. Upaya tersebut dibuat setelah panel ahli yang dibentuk oleh tim hukum Letby menyimpulkan “there was no medical evidence” yang mendukung vonis.

Journalist David James Smith, mantan komisioner CCRC, mengatakan komisi akan memperhatikan laporan Thirlwall “for any evidence that supports or undermines the convictions and supports or undermines the submissions it has received on Letby’s behalf”. Cheshire Police juga diperkirakan akan memberi perhatian khusus pada temuan laporan, mengingat penyelidikan pidana terhadap tiga eksekutif rumah sakit masih berlangsung. Mereka sebelumnya ditangkap dengan kecurigaan “gross negligence manslaughter”, dan salah satu kemudian ditangkap lagi dengan dugaan “perverting the course of justice”. Temuan dari penyelidikan Thirlwall berpotensi dipertimbangkan dalam penyelidikan tersebut.

Pada akhirnya, meski laporan Thirlwall tidak ditujukan untuk mengubah narasi tentang bersalah atau tidaknya Letby, dampaknya dapat terasa melalui pemeriksaan proses keselamatan pasien dan implikasi yang mungkin dibaca oleh pihak lain di sistem hukum. Perdebatan publik, sementara itu, akan menghadapi tantangan: apakah informasi baru yang lahir dari penelusuran proses manajemen akan cukup untuk menggeser keyakinan yang selama ini terbentuk.