jurnalistik.co.id – Larangan anonimitas yang selama ini menutupi identitas dokter yang disebut sebagai “kekasih” Lucy Letby akhirnya dicabut melalui perintah pengadilan. Setelah itu, nama Dr Mark Deakin dapat diungkap ke publik.
Deakin, yang meninggal pada bulan Juli pada usia 53 tahun, bekerja bersama Letby saat praktiknya di Rumah Sakit Countess of Chester pada periode ketika Letby divonis bersalah atas pembunuhan terhadap tujuh bayi serta percobaan pembunuhan terhadap enam bayi lainnya pada tahun 2015 dan 2016. Ia pun tetap menjalankan karier medis setelah meninggalkan institusi tersebut.
Di kemudian hari, Deakin tercatat bekerja sebagai konsultan di Alder Hey Children’s Hospital di Liverpool. Dalam persidangan dan berbagai laporan, ia digambarkan sebagai sosok yang sebelumnya terhubung erat dengan Letby dalam urusan profesional maupun komunikasi sehari-hari.
Belakangan muncul pemberitaan bahwa Deakin meninggal tak lama setelah mengetahui ia diberhentikan. Pemutusan tersebut dikaitkan dengan temuan adanya pelanggaran kerahasiaan pasien melalui pertukaran pesan singkat dengan Letby, meski informasi mengenai kondisinya saat itu juga disebut bahwa ia sedang tidak sehat.
Seiring pencabutan anonimitas ini, proses penyelidikan lanjutan juga akan dibuka. Penyelidikan lebih lanjut mengenai keadaan meninggalnya Deakin rencananya akan diadakan melalui inquest yang secara spesifik menyoroti faktor-faktor yang menyertainya.
Informasi mengenai hubungan dan interaksi pribadi Deakin dengan Letby juga terungkap dalam sidang penelusuran Thirlwall. Laporan menyebut bahwa keduanya bertukar lebih dari 1.000 pesan lewat Facebook, menunjukkan intensitas komunikasi yang berlangsung dalam rentang waktu yang relevan dengan kasus Letby.
Dalam keterangan yang disampaikan kepada panel inquiry, Deakin disebut membantu Letby mengamankan penempatan di Alder Hey. Bantuan itu dilakukan ketika Letby sudah diduga terlibat dalam kematian bayi-bayi di rumah sakit sebelumnya.
Deakin kemudian menyampaikan pandangan bahwa dirinya merasa telah “dibuat keliru” dan “mungkin dimanipulasi” oleh Letby. Ia menegaskan bahwa ia pada akhirnya merasa dirinya terjebak untuk memberikan informasi mengenai bayi-bayi yang telah diserang oleh Letby.
Di hadapan inquiry, Deakin juga menyatakan penyesalan atas keterlibatannya. Ia menyebut bantuan yang diberikannya merupakan “kesalahan besar” dan ia memiliki banyak hal yang ia sesali.
Temuan inquiry tersebut dijadwalkan akan dipublikasikan pada 15 September. Hingga saat itu, rincian kesimpulan panel masih berada dalam proses finalisasi.
Di sisi lain, Lucy Letby—yang sejak awal mempertahankan klaim tidak bersalah—sedang menjalani 15 vonis penjara seumur hidup. Kejadian ini juga disertai proses evaluasi lanjutan oleh Criminal Cases Review Commission (CCRC), yang menilai kembali keyakinan terhadap putusan yang telah dijatuhkan.
Berita Terkait
Pada persidangan pidana Letby, Deakin menjadi saksi terkait sejumlah peristiwa menyangkut bayi-bayi. Berbeda dengan saksi pada umumnya, ia memperoleh langkah perlindungan khusus sekaligus perlindungan anonimitas, sehingga ia dapat memberikan keterangan dari balik layar agar dirinya tidak terlihat oleh Letby, publik di ruang sidang, maupun media.
Keterangan Deakin berfokus pada detail panggilan darurat serta upaya resusitasi yang ia dan Letby tangani secara bersamaan. Dalam proses persidangan, malam-malam panjang yang diisi pertukaran pesan teks antara keduanya juga dibuka ke ruang sidang, termasuk sejumlah pesan yang ditunjukkan kepada juri.
Pada saat ia dipanggil bersaksi untuk pertama kalinya, Letby dikisahkan bereaksi dengan tangis. Peristiwa tersebut disebut menjadi momen emosi pertama yang tampak dari Letby selama jalannya persidangan.
Ketika menjalani pemeriksaan silang, Letby ditekan untuk membantah bahwa Deakin adalah “kekasih” atau pacarnya. Namun, Letby mengakui bahwa mereka sempat bepergian bersama ke London.
Jaksa penuntut, Nick Johnson KC, menyatakan bahwa saat Deakin pertama kali masuk ke ruang saksi, Letby seolah berusaha “menghindar” di bagian belakang tempat persidangan. Letby menanggapi dengan mengatakan ia merasa tidak enak badan, sementara Johnson mengarah pada anggapan bahwa Letby tidak nyaman mendengar “kekasihnya” memberi kesaksian.
Jawaban Letby kemudian menolak anggapan tersebut dengan menyebutnya tidak adil. Pada bagian lain, jaksa juga menelusuri percakapan pesan WhatsApp antara Letby dan seorang teman yang sebelumnya menyinggung Deakin dengan nada mengejek sebagai sosok yang dianggap bersikap “menggoda”.
Dalam pembahasan itu, Johnson menyampaikan bahwa Letby mengetahui temannya menyimpan perasaan tertentu pada Mark. Letby membantah pernyataan tersebut dan menyatakan tidak ada hubungan di antara dirinya dan Mark.
Jaksa juga menyebut adanya pesan yang memperlihatkan Letby mengabarkan kepada temannya bahwa ia menerima “pesan yang aneh” dari Deakin. Teman Letby lalu merespons dengan lelucon yang menampilkan konteks “go commando” disertai ikon tertawa, sebagaimana diceritakan dalam rangkaian keterangan persidangan.
Di ruang sidang, pengadilan turut mendengar bahwa dalam pesan Facebook yang saling dikirim, Deakin menggambarkan Letby sebagai salah satu dari sedikit perawat di wilayah tersebut yang bisa ia percaya untuk mengurus anak-anaknya sendiri. Sejumlah pemberitaan kemudian menyebut Deakin sebagai “saksi kunci”, namun penjelasan di persidangan menegaskan bahwa perannya adalah bagian dari kumpulan kesaksian kolega yang mendukung konstruksi perkara.
Dalam konteks itu, tidak ada satu pun vonis yang semata-mata bertumpu pada keterangan Deakin. Kesimpulan perkara dibangun dari banyak kesaksian yang saling melengkapi, termasuk keterangan para rekan yang pernah bekerja bersama Letby.
Pencabutan anonimitas atas Deakin kini membuat identitasnya sepenuhnya dapat diketahui publik, sekaligus menegaskan bahwa jejak komunikasi dan hubungan di sekitar kasus ini akan terus dikaji, baik melalui proses peradilan maupun melalui temuan inquiry yang dijadwalkan rilis pada pertengahan September.












