jurnalistik.co.id – Erin Patterson kembali menghadapi persidangan banding di Australia, setelah setahun berlalu dari vonis besar yang menjatuhkan hukuman seumur hidup. Ia mengajukan upaya untuk membatalkan keyakinan atas perbuatannya, dengan menilai proses peradilan tidak berjalan adil.
Pengadilan yang menangani perkara ini akan digelar setelah Patterson dinyatakan bersalah atas pembunuhan tiga kerabat dan percobaan pembunuhan terhadap satu anggota keluarga lain lewat hidangan jamur beracun. Ia akan mengikuti persidangan menggunakan sambungan video dari penjara keamanan maksimum di pinggiran Melbourne, karena memilih tidak hadir secara langsung.
Pada September tahun lalu, Patterson dijatuhi hukuman seumur hidup. Ia menjadi sorotan luas setelah kasus “jamur kematian” yang terjadi pada 2023, ketika ia menyajikan menu berisi death cap mushrooms di rumahnya, Leongatha, Victoria.
Vonis seumur hidup dan penilaian mengenai parol
Dalam putusan sebelumnya, hakim menyatakan Patterson berpotensi mengajukan peluang pembebasan bersyarat setelah menjalani 33 tahun. Namun pihak penuntut menilai rencana tersebut tidak sebanding dengan tingkat kejahatan, dan menyebutnya “manifestly inadequate”, sekaligus menegaskan ia tidak seharusnya pernah dibebaskan.
Di saat yang bersamaan, jaksa penuntut juga akan mengajukan banding terhadap vonis yang diterimanya terkait panjang masa hukuman. Artinya, perkara ini tidak hanya membahas keyakinan bersalah Patterson, tetapi juga konsekuensi hukum yang menyertainya.
Apa yang dilakukan Patterson
Perkara ini berpusat pada kematian Don dan Gail Patterson, yang masing-masing berusia 70 tahun, serta Heather Wilkinson, 66 tahun. Ketiganya meninggal setelah menerima porsi makanan beef Wellington yang di dalamnya terkandung jamur death cap, disajikan di rumah Patterson.
Salah satu anggota keluarga lain, Ian Wilkinson, suami Heather, selamat dari santapan tersebut. Ia sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama berminggu-minggu dan, menurut keterangan, masih menghadapi persoalan kesehatan yang berkelanjutan terkait keracunan.
Kompleksitas kasus bertambah karena suami Patterson yang sudah berjarak, Simon Patterson, direncanakan ikut menghadiri acara makan. Akan tetapi ia membatalkan kehadiran pada menit terakhir, antara lain karena meyakini istrinya telah berupaya berulang kali untuk meracun dirinya selama bertahun-tahun.
Setelah persidangan berakhir, terungkap bahwa Simon pernah mengalami sakit berat setelah mengonsumsi sejumlah makanan buatan Patterson di masa lalu. Ia bahkan sempat koma, dan sebagian besar ususnya harus menjalani tindakan operasi. Keluarganya pun, menurut penjelasan dalam persidangan, pernah diberi informasi untuk bersiap “mengucapkan selamat tinggal” sebanyak dua kali karena tidak ada harapan Simon akan bertahan.
Alasan Patterson mengajukan banding
Patterson mempertahankan posisinya sejak awal proses pengadilan. Ia menyatakan tidak berniat membunuh kerabatnya, dan kejadian tersebut menurutnya merupakan “kecelakaan” yang tragis. Ia juga menilai kebohongan serta upaya menyingkirkan bukti setelah makan malam terjadi dipicu kepanikan karena khawatir ia akan disalahkan atas kematian-kematian tersebut.
Pada November tahun lalu, tim hukum Patterson mengajukan dokumen banding setebal tiga halaman yang memuat rencana argumen. Dokumen tersebut akan dibahas dalam persidangan oleh tiga hakim, dengan total tujuh dasar (grounds) yang dijadikan pijakan.
Dalam salah satu keberatan, tim Patterson menilai terdapat bagian bukti yang seharusnya tidak pernah dilihat oleh juri. Salah satunya adalah data pelacakan ponsel yang menurut pembela menunjukkan Patterson sempat bepergian ke lokasi-lokasi tempat jamur death cap baru-baru ini dilaporkan ditemukan.
Pembela juga berpendapat bukti yang berasal dari “Facebook friends” tidak semestinya diterima. Isi yang dipersoalkan mencakup pesan-pesan daring ketika Patterson meluapkan kemarahan terhadap keluarga mertuanya maupun terhadap Simon Patterson, yang pada satu bagian ia sebut sebagai “deadbeat”.
Menurut tim Patterson, materi-materi tersebut tidak relevan dan berpotensi menimbulkan prasangka, sehingga menyebabkan terjadinya kekeliruan besar dalam proses peradilan. Di mata pembela, kekeliruan itu “substantial miscarriage of justice”.
Berita Terkait
Selain menyoroti bukti yang mereka nilai keliru, tim hukum juga mengemukakan ada bagian bukti lain yang justru seharusnya mendukung pembelaan Patterson namun tidak diberikan tempat di persidangan. Mereka menunjuk pada foto dan gambar yang berkaitan dengan hobi Patterson sebagai pencari jamur berpengalaman dalam jangka panjang, yang menurut pembela dapat menguatkan klaim bahwa kematian tersebut merupakan kecelakaan tragis.
Keberatan terhadap cara penuntut menghadirkan perkara
Tim Patterson juga mengkritik penuntut terkait konsistensi pembahasan motif. Pembela menyatakan penuntut pada awal persidangan menyatakan tidak akan mengajukan motif tertentu, tetapi kemudian pada bagian akhir justru memberi kesan bahwa ada motif.
Selain itu, pembela mengarah pada pemeriksaan silang yang dijalani Patterson selama lima hari oleh pengacara penuntut, Nannette Rogers. Menurut Patterson, situasi di ruang sidang terasa menekan karena Rogers menuduhnya berulang kali berbohong. Patterson menggambarkan proses itu sebagai “unfair and oppressive”.
Bagian yang dianggap paling menarik dari dokumen banding Patterson berhubungan dengan proses musyawarah juri. Tim hukum menjelaskan bahwa karena kasus ini menyita perhatian besar, pengadilan mengambil langkah-langkah agar juri tidak terpengaruh oleh teman, keluarga, maupun media.
Ketika musyawarah dimulai, juri diberi akomodasi dalam pengawasan dengan akses yang sangat terbatas ke dunia luar sampai mereka mencapai keputusan.
Namun, menurut tim Patterson, terjadi “fundamental irregularity” yang menurut mereka secara fatal merusak integritas putusan. Pembela menyebutkan bahwa kekurangan kamar akibat kegemparan media di kota-kota regional dekat pengadilan membuat juri pada akhirnya berbagi hotel dengan pihak penuntut, saksi kunci dari kepolisian, serta jurnalis.
Tim pembela menambahkan bahwa juri sebenarnya punya seluruh lantai hotel untuk mereka sendiri. Hakim pada waktu itu juga menyatakan tidak ada bukti bahwa ada interaksi dengan pihak-pihak yang terkait perkara.
Meski tidak mengangkat keberatan saat persidangan berlangsung, tim Patterson mengatakan bahwa isu ini kemudian mereka jadikan dasar dalam pengajuan banding. Dalam dokumen bandingnya, tim hukum Patterson menulis: “[This] requires the quashing of the convictions and an order for a re-trial so that justice cannot only be done but be seen to be done.”
Argumen penuntut terkait panjang hukuman
Sementara Patterson berfokus pada pembatalan keyakinan bersalah, pihak penuntut berupaya mengubah aspek hukuman yang diterimanya. Mereka mengajukan banding terhadap durasi vonis melalui Department of Public Prosecutions (DPP).
Justice Christopher Beale pada putusan sebelumnya menegaskan bahwa kejahatan Patterson termasuk yang terburuk dalam jenisnya. Meski demikian, keputusan untuk mengizinkan peluang parol setelah 33 tahun dinilai dipengaruhi oleh kondisi penjara yang keras yang dijalani Patterson.
Beale menyebut Patterson telah menghabiskan 15 bulan dalam sel isolasi sebelum putusan dijatuhkan. Dalam masa isolasi, para tahanan tidak dapat berbaur dan makanan dikirim melalui celah kecil pada pintu sel. Beale juga menambahkan bahwa, demi keselamatan Patterson, ada “substantial chance” ia akan ditempatkan di sayap isolasi “for years to come”, sebagai konsekuensi dari ketenaran kasus tersebut.
Langkah berikutnya dan kemungkinan hasil
Hasil banding tidak dipastikan segera diketahui setelah sidang-sidang berlangsung. Tim pengadilan bisa memerlukan waktu berbulan-bulan sebelum keputusan akhir diumumkan.
Jika tiga hakim di Court of Appeal memutuskan untuk membatalkan keyakinan bersalah Patterson, ada dua kemungkinan: persidangan ulang atau putusan bebas bersyarat. Di sisi lain, jika banding dari pihak penuntut terhadap durasi hukuman berhasil, Patterson bisa menghadapi perpanjangan masa parol dari batas 33 tahun.
Dalam skenario lain yang lebih berat, Patterson bahkan berpotensi dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa peluang pembebasan bersyarat.












