Bisnis & Ekonomi

BPS: China, Jepang, dan Australia Jadi Pemasok Impor Nonmigas Teratas RI (Jan–Agu 2026)

×

BPS: China, Jepang, dan Australia Jadi Pemasok Impor Nonmigas Teratas RI (Jan–Agu 2026)

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa tiga negara menjadi pemasok utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Berdasarkan rilis yang disampaikan pada Kamis (1/10/2026), China, Jepang, dan Australia tercatat mendominasi dari sisi asal pengadaan barang.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut konsentrasi impor nonmigas tersebut cukup tinggi. “Tiga negara besar asal impor Indonesia yaitu Tiongkok, Jepang, dan juga Australia dengan share-nya sebesar 52,72% dari total impor non-migas Indonesia,” kata Ateng dalam rilis BPS.

Menurut BPS, komposisi asal impor itu memberi gambaran bahwa rantai pasok Indonesia pada periode Januari sampai Agustus 2026 masih sangat bertumpu pada beberapa mitra dagang utama. Dengan porsi 52,72%, ketiga negara tersebut menjadi penopang terbesar dibandingkan negara lainnya di luar daftar tersebut.

Di antara tiga pemasok utama tersebut, China menempati peran paling menonjol dalam nilai impor nonmigas Indonesia. BPS melaporkan impor nonmigas Indonesia dari China sepanjang Januari hingga Agustus mencapai US$66,64 miliar.

Nilai tersebut juga dinyatakan setara dengan kontribusi tertentu terhadap keseluruhan impor. “Angka ekuivalen dengan 42,2% dari keseluruhan impor Indonesia di sepanjang 2026,” demikian laporan BPS dalam rilis yang sama.

Ateng menambahkan penjelasan mengenai karakter barang yang mendominasi impor dari China. “Impor dari China terutama didominasi oleh impor mesin peralatan elektrik atau HS85 dengan share-nya 22,19% dan tumbuh 27,72% secara c-to-c [ cummulative to cummulative] ,” kata Ateng.

BPS kemudian merinci nilai kategori yang terkait dengan HS85 tersebut. Impor mesin dan perlengkapan elektrik yang termasuk dalam dominasi HS85 disebut bernilai US$14,79 miliar. Dengan demikian, porsi HS85 bukan hanya besar dalam share, tetapi juga tercermin pada besaran nilainya dalam periode Januari hingga Agustus 2026.

Selain kelompok mesin dan perlengkapan elektrik, Indonesia juga mengimpor sejumlah kategori lain dari China. BPS mencatat impor mesin/peralatan mekanis dan bagiannya dari China sebesar US$14,33 miliar.

Masih dari China, laporan BPS juga menyebut adanya impor plastik serta barang dari plastik dengan nilai US$3,97 miliar. Komposisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada China tidak terbatas pada satu jenis produk, melainkan mencakup beberapa kelompok barang utama.

Fokus utama pada tiga negara

Dengan total share 52,72% yang dikunci oleh China, Jepang, dan Australia, posisi tiga negara tersebut menjadi salah satu informasi kunci dari rilis BPS. Angka ini menggambarkan bahwa pasar impor nonmigas Indonesia pada paruh pertama tahun 2026 masih bergerak dalam konsentrasi yang relatif tinggi.

China, melalui nilai US$66,64 miliar untuk periode Januari hingga Agustus 2026, juga menegaskan bahwa porsi terbesar tetap berada pada satu pemasok utama dalam tiga negara tersebut. Di sisi lain, rilis yang sama menempatkan detail komoditas asal China melalui penjelasan HS85 serta beberapa kelompok barang pendukung.

Secara keseluruhan, data BPS menempatkan hasil impor nonmigas Indonesia sebagai refleksi dari pola distribusi dan jasa pada periode Januari hingga Agustus 2026. Pernyataan Ateng Hartono merangkum konsentrasi asal impor melalui share 52,72%, sementara rincian komoditas memperjelas struktur nilai impor dari China, termasuk mesin/peralatan elektrik HS85, mesin/peralatan mekanis, serta plastik dan barang dari plastik.

Rilis BPS itu memperlihatkan bahwa selama Januari sampai Agustus 2026, pengadaan impor nonmigas Indonesia cenderung terkonsentrasi pada segelintir pemasok. Dengan share 52,72% yang terkumpul pada tiga negara utama, pola yang terlihat menunjukkan ketergantungan yang cukup kuat pada mitra yang sama dibanding negara lainnya.

Di sisi China, BPS menegaskan dominasi dari nilai impor nonmigas sebesar US$66,64 miliar, dengan angka ekuivalen 42,2% terhadap keseluruhan impor Indonesia pada 2026. Rincian komoditas menunjukkan HS85 menyumbang share 22,19% dan tumbuh 27,72% secara c-to-c, bernilai US$14,79 miliar. Selain itu, masih dari China terdapat impor mesin/peralatan mekanis sebesar US$14,33 miliar serta plastik dan barang dari plastik senilai US$3,97 miliar.