jurnalistik.co.id – Pengadilan Tinggi membatalkan keputusan Parole Board yang sebelumnya memberi jalan bagi pembebasan bersyarat terpidana kasus pembunuhan. Pembatalan itu membuat Glyn Razzell tetap menjalani hukuman penjara, setelah pengadilan menilai risiko terhadap keselamatan publik belum cukup berkurang.
Razzell berusia 66 tahun dan divonis penjara seumur hidup pada 2003. Ia dihukum karena membunuh istri sah yang saat itu sudah berpisah darinya, Linda, yang menghilang di Swindon setahun sebelum vonis tersebut dijatuhkan.
Dalam proses pembebasan bersyarat, Razzell tidak pernah mengungkapkan apa yang terjadi terkait jasad Linda. Ketidakmauan untuk memberi informasi lokasi jenazah menjadi salah satu pertimbangan yang berulang muncul dalam berbagai tahapan permohonannya.
Parole Board pada April memutuskan Razzell bisa dilepaskan karena, menurut penilaian mereka, masa penahanan dinilai “tidak lagi diperlukan” untuk melindungi masyarakat. Keputusan itu mencerminkan pandangan bahwa pengawasan dan pengelolaan terpidana masih dianggap mampu menjaga keselamatan publik.
Namun, dalam putusan yang diumumkan kemudian, Pengadilan Tinggi membalikkan keputusan tersebut. Hakim Mrs Justice Cheema-Grubb menyatakan ia tidak yakin risiko sudah turun hingga level yang membuat manajemen pelaku dapat memastikan publik tetap aman jika terdakwa dilepaskan.
Putusan ini juga disebut menjadi pertama kalinya wewenang Menteri Kehakiman untuk merujuk keputusan Parole Board kepada Pengadilan Tinggi digunakan sehingga hasilnya berbalik. Langkah tersebut diambil ketika otoritas menilai pelepasan akan mengganggu kepercayaan publik pada sistem parole.
Dalam sidang yang berlangsung dua hari di Pengadilan Tinggi pada pekan ini, pihak Kementerian Kehakiman menyampaikan bahwa Parole Board tidak menilai risiko Razzell secara tepat. Para pengacara menilai keputusan pelepasan seharusnya tidak dipertahankan.
Sebelumnya, Razzell juga pernah berupaya mendapatkan pembebasan bersyarat sebanyak tiga kali. Ketika permohonannya ditolak pada 2021, ia tercatat sebagai narapidana pertama yang tidak memperoleh parole di bawah Helen’s Law, aturan yang mewajibkan Parole Board mempertimbangkan penolakan pelaku pembunuhan untuk mengungkap lokasi jasad korban.
Helen’s Law menempatkan penolakan untuk memberikan informasi lokasi jenazah sebagai unsur yang tidak bisa diabaikan dalam evaluasi risiko. Karena itu, keputusan April yang akhirnya menyetujui pelepasan Razzell menjadi titik yang kemudian diuji ulang di tingkat pengadilan.
Berita Terkait
Linda menghilang pada 2002 ketika ia berusia 41 tahun. Linda terakhir kali terlihat memarkir mobilnya di Alvescot Road dalam perjalanan ke Swindon College pada bulan Maret 2002.
Razzell disebut berasal dari Crewkerne di Somerset dan bekerja sebagai mantan manajer investasi asuransi. Setelah Linda menghilang, ia sempat menjadi sorotan karena banding-banding yang muncul terkait harapan kembalinya Linda, sebelum akhirnya ia ditangkap dan didakwa atas pembunuhan.
Pada saat kejadian, Linda sedang menjalani proses perceraian. Ia juga dilaporkan telah mengunjungi sebuah bank dengan perintah pengadilan untuk membekukan rekening bank suaminya satu minggu sebelum ia menghilang.
Dalam penyelidikan, penyidik menemukan jejak darah di bagasi sebuah mobil yang digunakan Razzell. Linda kemudian dinyatakan menjadi korban pembunuhan dan ia akhirnya dihukum pada 2003 setelah juri menyatakan Razzell bersalah.
Di tengah proses persidangan yang berujung pada pembatalan, pihak keluarga menyatakan keberatan agar Razzell tidak dibebaskan. Sepupu Linda, Julie Westmore, mengatakan ia tidak akan merasa aman dan khawatir “semua harapan” menemukan jasad Linda akan hilang jika Razzell keluar dari penjara.
Greg Worrall, pasangan Linda pada saat kematiannya, juga menyampaikan bahwa Razzell “mengetahui” rasa sakit yang ditimbulkan bagi keluarga dan anak-anak Linda. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keluarga berharap ada akhir dari penderitaan yang berlangsung.
Cat, yang merupakan anak Linda dan Razzell, mengatakan tidak ada harapan perdamaian bagi keluarga selama Razzell terus menolak memberi informasi. Ia menyatakan ayahnya masih berdampak buruk dan “secara aktif” memilih untuk bersikap mengendalikan sekaligus melakukan kekerasan dari dalam penjara.
Cat dan saudara-saudaranya juga menyatakan mereka tidak menginginkan ayah mereka mati di balik jeruji. Meski demikian, mereka menuntut Razzell mengakui perbuatannya dan menyertakan keterangan terkait apa yang terjadi dengan jasad Linda.
Menurut Cat, keluarga ingin bisa memberi Linda pemakaman yang layak dan martabat yang pantas, sekaligus memperoleh kesempatan untuk menutup rangkaian penderitaan itu. Ia menambahkan bahwa penolakan untuk mengakui tindakan tersebut membuat dampaknya tetap berlanjut ke arah keluarganya.
Cat kemudian menegaskan bahwa keluarga tidak percaya seseorang yang bersedia melakukan tindakan tersebut pantas mendapatkan pelepasan. Dengan pembatalan oleh Pengadilan Tinggi, Razzell tetap menjalani hukuman penjara, sementara pertimbangan atas risiko dan penolakan mengungkap lokasi jasad korban kembali menjadi fokus utama putusan.












