jurnalistik.co.id – Manchester City dinyatakan bersalah dalam putusan komisi independen berisi dokumen setebal 40 halaman yang menyoroti pelanggaran serius terhadap aturan keuangan Premier League. Dalam putusan itu, klub dinilai melakukan “sham” dan membuat akun yang menyesatkan, sekaligus dinilai gagal bekerja sama dalam sebagian aspek penyelidikan.
Komisi tersebut memuat rujukan terhadap arti kata “sham”, dengan kutipan definisi bahasa Inggris: “To cheat, trick, deceive, delude with false pretences; to impose upon, take in, hoax.” Kata “sham” muncul delapan kali dalam ruling yang dipublikasikan pada Selasa itu.
Menurut putusan, Manchester City dinyatakan bersalah atas semua dakwaan yang berkaitan dengan pelanggaran serius terhadap aturan keuangan, serta dinyatakan bersalah pada semua dakwaan terkait kegagalan bekerja sama, kecuali satu poin. Rangkaian temuan ini dirangkum lewat sejumlah bagian yang menjelaskan bagaimana skema tertentu digunakan untuk mengaburkan realitas pendapatan sponsor dan pengeluaran.
Skema pendanaan “disguised funding”
Putusan menyatakan bahwa tantangan terlihat sejak kepemilikan baru. Manchester City dibeli oleh investor Abu Dhabi pada 2008, namun dokumen itu menyebut situasi mereka sudah dipahami sejak musim 2009-10: jika klub ingin mencapai level yang ditargetkan, overspends besar akan terjadi.
Untuk mengatasi risiko tersebut, klub dinilai menempuh cara meningkatkan pendapatan komersial dan mengurangi ketergantungan pada pemilik. Salah satu fondasi utama yang disebut adalah “Disguised Funding Scheme”, yaitu skema yang digambarkan mampu menyembunyikan lebih dari £830m pendanaan sponsor. Putusan juga menyebut perangkat lain yang menyembunyikan £90m dalam biaya.
Dalam penggambaran skema itu, kesepakatan sponsor dipecah menjadi dua bagian: base fee dan tagged sum. Sponsor membayar base fee, sementara bagian tagged sum dinilai justru ditanggung oleh pemilik klub. Putusan menyatakan mekanisme tersebut membuat pemilik menanggung mayoritas nilai kontrak, sehingga memungkinkan klub berinvestasi pada pemain.
Dokumen itu mengutip bahwa praktik ini memberi kesan menyesatkan kepada pihak ketiga—termasuk regulator dan auditor—di laporan keuangan serta pengembalian terkait Financial Fair Play (FFP). Kesan yang dimaksud adalah bahwa pendapatan komersial dari perjanjian sponsor jauh lebih besar daripada kenyataannya.
Putusan juga menyebut skema tersebut tidak selalu dipertahankan dalam bentuk yang sama. Dari waktu ke waktu, skema dinilai disesuaikan agar “membantu berlangsungnya penyembunyian” dan menurunkan kemungkinan munculnya pertanyaan sulit.
Secara angka, putusan menyebut pendapatan komersial dari sponsor total ÂŁ949,94m pada musim 2009-10 hingga 2017-18. Dari total itu, hanya ÂŁ119,25m yang dinilai merupakan base fees, sedangkan ÂŁ830,69m dinilai sebagai tagged sums yang dibayar pemilik klub.
Manchester City sebelumnya membantah klaim-klaim tersebut dan menyatakan Premier League salah memahami perjanjian sponsor. Namun panel menyatakan penjelasan itu ditolak karena “tidak benar”, dan dinilai “dirancang setelah kejadian” untuk menutupi serta menyembunyikan kenyataan tentang skema pendanaan yang tersamarkan.
Contoh saat aturan Eropa terancam
Putusan juga memaparkan contoh penerapan skema untuk menutup kekurangan. Pada Mei 2013, kurang dari sepekan sebelum akhir tahun fiskal 2012-13, klub disebut mengetahui mereka kekurangan ÂŁ9,9m untuk memenuhi aturan keuangan UEFA.
Dalam hitungan hari, tanpa sponsor harus dihubungi, sejumlah perjanjian sponsor yang dimodifikasi diproduksi. Putusan menyebut modifikasi itu menaikkan biaya sponsor yang tercatat, termasuk untuk membayar bonus bagi acara yang sudah berlangsung, serta untuk membiayai tur ke Amerika Serikat. Dengan demikian, kekurangan FFP yang dikhawatirkan dinilai “teratasi” lewat penyesuaian tersebut.
Project Longbow dan Fordham Arrangement
Pada 2012, klub meluncurkan Project Longbow. Putusan menyebut bahwa banyak bagian dari proyek itu dinilai nyata dan merupakan upaya yang sah untuk meningkatkan pendapatan serta mengurangi kerugian operasional.
Berita Terkait
Satu bagian tidak dianggap demikian: Fordham Arrangement. Putusan menyatakan bahwa ini adalah kesepakatan antara City dan pihak ketiga bernama Fordham yang, menurut dokumen, “hampir tidak lebih dari sekadar kedok”.
Dalam narasi tersebut, dana dari pemilik klub dinilai digunakan—dan benar-benar digunakan—agar Fordham dapat memperoleh dari klub, dengan harga yang dinilai “artifisial meningkat” dan “cukup besar”, hak klub untuk mendapat manfaat finansial dari hak gambar pemain.
Dokumen menilai Fordham Arrangement menjadi cara lain untuk membayar uang ke klub dengan format yang menyembunyikan asal sesungguhnya. Putusan juga menyatakan bahwa mekanisme ini membuat klub seolah-olah dana tersebut merupakan pendapatan operasional.
Dalam laporan keuangan yang dinilai keliru, Fordham Arrangement disebut dicatat sebagai pendapatan operasional sebesar £24,5m. Putusan juga menyebut £49,414m seharusnya dikelompokkan sebagai biaya operasional, tetapi malah dinyatakan salah karena “dikecualikan” dari biaya operasional.
Menurut putusan, Fordham Arrangement dijalankan dengan pengetahuan dan persetujuan individu-individu tertentu yang namanya tidak disebut karena tertera sebagai “redacted”.
Kontrak dialihkan lewat pihak ketiga
Putusan menambahkan bahwa Manchester City juga mencoba melewati ketentuan dengan memindahkan kontrak-kontrak mahal untuk pemain maupun manajer “dari pembukuan”. Ini dilakukan dengan pembayaran remunerasi atau gaji melalui pihak ketiga, sementara pembayaran tersebut pada praktiknya dinilai berasal dari pemilik.
Dalam uraian dokumen, pembayaran itu direkam sebagai perjanjian konsultansi dan disebut “menyembunyikan sejauh mana sesungguhnya kewajiban klub”.
Putusan menyebut ada tiga kasus terpisah untuk metode ini. Masing-masing kasus memiliki nama yang tidak dipublikasikan dari dokumen, dan besaran yang disebut adalah ÂŁ8,866m, ÂŁ7,4m, serta ÂŁ0,5m.
Pemeriksaan saksi dan kewajiban kerja sama
Bagian lain dari putusan berfokus pada proses penyelidikan. Panel menyatakan bahwa melalui perilaku klub, City bermaksud menghindari aturan Premier League. Dokumen juga menggambarkan upaya terkonsolidasi untuk “menghentikan dan membuat frustrasi” penyelidikan Premier League.
Manchester City dinilai menyampaikan pernyataan saksi atau bukti dokumen dari 24 individu. Panel menilai keterangan dari sejumlah saksi penting mengandung kebohongan dalam beberapa aspek kunci, termasuk keterangan yang diberikan oleh saksi yang diketahui tidak benar sehingga dinilai tidak jujur.
Putusan juga menyatakan bahwa City mengetahui laporan tahunan tidak memberikan gambaran yang benar dan wajar tentang posisi keuangan, serta dinilai ceroboh dalam menentukan apakah laporan tahunan itu memang menyajikan gambaran yang benar dan wajar.
Secara keseluruhan, panel menyimpulkan City tidak bertindak “dengan itikad terbaik yang paling tinggi” dan melanggar kewajiban kerja sama yang harus dipenuhi kepada Premier League.
Rangkuman selisih dalam laporan
Putusan merinci bahwa dalam musim antara 2009-10 sampai 2017-18, laporan keuangan klub tidak menunjukkan gambaran yang benar dan wajar. Sponsorship income disebut dilebihkan lebih dari ÂŁ830m, dengan tambahan persoalan terkait pengecualian biaya sebesar ÂŁ8,866m, ÂŁ7,4m, dan ÂŁ0,5m.
Untuk Fordham Arrangement, putusan menyebut pencatatan keliru sebagai operating income sebesar ÂŁ24,5m dan pengecualian biaya total ÂŁ49,414m. Jika dijumlahkan, putusan menyebut total selisih mencapai ÂŁ920,68m.












