jurnalistik.co.id – Kisah Helen berawal dari keyakinan ibunya bahwa hubungan asmara jarak jauh yang ia jalani benar-benar nyata. Namun, rangkaian peristiwa menunjukkan pola penipuan romansa yang makin rapi dan sulit dikenali dari luar.
Ibunya yang berusia 80 tahun berkenalan dengan para penipu melalui Facebook. Para pelaku memakai kecerdasan buatan untuk mengubah tampilan mereka di foto dan panggilan video, teknik penipuan yang dikenal sebagai deepfake.
Dalam satu tahap, ibunya mengosongkan sebuah buku lalu memasukkan uang tunai £10.000 ke dalamnya. Setelah itu, uang tersebut dikirim melalui pos ke sebuah rumah sakit di Shanghai, tempat “lelaki” yang ia kenal menunggu operasi penyelamatan nyawa.
Setelah operasi diklaim selesai, janji bahwa mereka akan bersama tetap diikuti permintaan baru. Tuntutan kemudian berubah menjadi skenario lain: muncul seorang pria baru dengan cerita bahwa ia diculik, dan ibunya diminta membayar tebusan agar ia tidak dibunuh.
Pada akhirnya, Helen menyebut jumlah yang terkumpul dari penipuan ini mencapai £140.000. “It became obvious to me something was going on again,” kata Helen, setelah ia mulai melihat perubahan yang tak wajar pada perilaku ibunya.
Tanda awalnya datang dari momen yang nyaris tak disengaja. Helen mengetahui ada masalah ketika ibunya secara keliru mengirim pesan yang seharusnya ditujukan untuk para penipu, lalu setelah itu ibunya menjadi lebih tertutup.
Helen menjelaskan bahwa upayanya memahami situasi membuatnya merasa kewalahan. Ia mengatakan, “I didn’t feel like I could cope with not having any tool to deal with it,” dan menambahkan, “That’s not expertise that most families have got.”
Tanda-tanda kerabat sedang menjadi korban
Shari Vahl dari program Scam Secrets menyebut beberapa tanda yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah perubahan perilaku atau suasana hati, terutama ketika seseorang menjadi lebih menghindar dan rahasia dari biasanya.
Tanda lain muncul dari rutinitas transaksi yang tak lazim. Para penipu sering membuat korban melakukan kunjungan berulang ke kantor pos atau bank, serta belanja dengan cara yang janggal seperti membeli kartu hadiah.
Di ranah aktivitas keuangan, pola yang mencolok bisa berupa transfer bank yang tidak biasa dan pembukaan akun baru. Selain itu, cara komunikasi korban—baik lewat pesan online maupun telepon—juga bisa berubah menjadi pola yang tidak sesuai karakter biasanya.
Dalam pendekatan kepada keluarga, Dale Richardson, police fraud protect officer, mendorong sikap yang hati-hati. Ia menyampaikan agar keluarga “curious but not confrontational”, yaitu ingin tahu tanpa langsung menyerang.
Richardson juga menjelaskan cara berbicara yang membantu: “I like to break it down… and listen to them and say, right, how did you meet? And what have they said?” Dengan cara itu, keluarga bisa menggali detail tanpa membuat korban merasa disalahkan.
Pengalaman Helen saat mencoba meyakinkan ibunya
Berita Terkait
Helen memutuskan untuk membangun ruang dialog yang lebih tenang. Ia memilih, “to try and be calm about this and open up the possibility she could trust me”.
Langkah yang ia lakukan adalah meminta ibunya memberi kesempatan agar Helen bisa berbicara dengan pelaku lewat panggilan video. Dari sana, Helen cepat menyadari adanya kejanggalan karena gambar tampak “fuzzy” dan suara tidak sinkron dengan gerakan.
Namun, meski Helen mencoba menjelaskan bahwa orang yang berbicara di layar bukan sosok yang ia klaim, ibunya tetap tidak percaya. Helen menceritakan bahwa ibunya justru merasakan tekanan emosional saat disanggah: “She was saying I made her feel disgusted and ashamed,” lalu ia menambahkan, “And that I should let her have her relationship and not intervene.”
Poin ini juga ditekankan oleh Dr Lis Carter, forensik linguist yang tergabung dalam tim Scam Secrets. Ia menyatakan, “Being a family member coming into that, you are ‘destroying’ that happiness.”
Menurut penjelasan tersebut, keluarga perlu berhati-hati memilih kata dan menjaga kesabaran, karena mendekati korban yang merasa “hubungan” itu nyata bisa menimbulkan resistensi.
Memutus “mantra” penipuan lewat langkah praktis
Ketika tidak mudah mengalihkan ibunya dari keyakinan itu, Helen kemudian bekerja lewat institusi perbankan. Ia memiliki dasar hukum berupa lasting power of attorney, sehingga ia bisa bertindak atas nama ibunya sekaligus menyiapkan perlindungan untuk rekening.
Jim Winters, kepala kejahatan ekonomi di Nationwide, menekankan bahwa keluarga yang curiga ada anggota keluarga sedang ditipu sebaiknya menghubungi bank. Ia mengatakan, “They might be limited in what they can share with you for data privacy reasons, but they can take steps to safeguard that account,” dan menambahkan, “Once we know that a customer is being defrauded we can spot the hallmarks very quickly and take steps to break that spell.”
Hingga saat ini, bank yang digunakan ibunya mengembalikan £45.000 ke rekening Helen. Meski nomor telepon ibunya sempat diganti hingga tiga kali, ia tetap memberikan nomor baru itu kepada para penipu.
Karena itu, Helen akhirnya mengganti smartphone ibunya dengan perangkat yang hanya bisa untuk panggilan telepon dan pesan teks. Winters juga menyarankan tindakan yang lebih menyeluruh, termasuk “completely resetting” jejak digital korban dengan mengganti nomor telepon, alamat email, dan akun media sosial.
Winters menjelaskan logikanya: “That’s what makes you visible, that’s what puts you out there. So taking steps to reset all of that is so important.” Tanpa jalur komunikasi yang aktif, para penipu tidak bisa terus menghubungi korban untuk mempertahankan rangkaian permintaan.
Cara membantu korban agar lebih aman
Pertama, lakukan pertanyaan terbuka dengan tetap menjaga ketenangan dan kesabaran agar informasi yang muncul tidak hanya defensif. Kedua, hubungi pihak bank karena langkah pengamanan bisa dilakukan ketika ada indikasi penipuan.
Ketiga, libatkan pihak yang netral bila dibutuhkan, karena kehadiran orang luar kadang membuat korban lebih bersedia membuka diri. Keempat, lakukan reset jejak digital agar scammers kesulitan melanjutkan kontak.
Dengan kombinasi pendekatan yang tidak konfrontatif dan perlindungan finansial serta digital, peluang untuk menghentikan penipuan dapat meningkat—sebagaimana yang akhirnya dialami keluarga Helen setelah rangkaian tuntutan yang panjang.












