jurnalistik.co.id – Jeffrey Donaldson, mantan pemimpin Partai Demokrat Unionist (DUP), dinyatakan bersalah atas 18 dakwaan pelecehan seksual terhadap anak. Putusan itu mencakup satu tuduhan pemerkosaan, yang dia lakukan terhadap dua perempuan ketika mereka masih anak-anak.
Donaldson muncul di Newry Crown Court pada Senin, dengan usia 63 tahun. Ia duduk di kursi pesakitan, menampilkan sikap datar, tangan terkatup, saat vonis dibacakan oleh hakim.
Vonis dan keputusan di persidangan
Di ruang sidang, Donaldson mengenakan setelan berwarna biru tua, kemeja putih, dan dasi merah muda. Ia berada di bagian belakang ruang sidang, di antara dua petugas pengamanan, lalu diminta berdiri saat vonis dibacakan.
Ketika ia dinyatakan bersalah atas setiap dakwaan, tidak terlihat tanda-tanda emosi pada dirinya. Setelah itu, hakim Paul Ramsey meremangkan Donaldson dan memerintahkan petugas untuk âtake Mr Donaldson downâ.
Donaldson kemudian ditahan dalam pemeriksaan lanjutan dan dijelaskan bahwa proses penjatuhan hukumannya akan panjang. Ia dijadwalkan akan dijatuhi hukuman pada September.
Jaksa memandang ada keterlibatan Lady Eleanor Donaldson, istri Donaldson, yang menjalani âtrial of the factsâ atas dasar kesehatan mental. Dengan skema itu, juri diminta untuk menentukan apakah Lady Eleanor melakukan perbuatan-perbuatan yang dituduhkan atau tidak.
Juri yang beranggotakan tujuh pria dan lima perempuan bermusyawarah selama 10 jam selama tiga hari sebelum menyampaikan putusan. Mereka menyimpulkan Lady Eleanor melakukan perbuatan terkait seluruh lima dakwaan yang dihadapinya.
Kesimpulan juri mencakup empat dakwaan berupa bantuan dan keterlibatan (aiding and abetting) dalam tindak pidana yang dilakukan oleh suaminya.
Setelah sidang berakhir, van tahanan terlihat meninggalkan pengadilan segera setelah pukul 15:00 BST pada Senin.
Dua korban dan rentang waktu tiap dakwaan
Dalam perkara ini, terdapat dua korban yang disebut Complainant A dan Complainant B. Complainant A adalah perempuan yang lebih muda di antara keduanya.
Donaldson dinyatakan bersalah atas delapan tindak pidana terhadap Complainant A yang terjadi antara 1999 hingga 2008. Dalam wawancara polisi yang diputar di persidangan, Complainant A menyampaikan sejumlah pertemuan, termasuk sebuah ciuman di mana ia mengatakan Donaldson âput his tongue in her mouthâ.
Complainant A juga mengatakan Donaldson memasukkan tangannya di bawah bra dan menggosok payudaranya. Pada peristiwa lain, pengadilan mendengar Donaldson menggunakan sumber cahaya terang, yang kemungkinan berupa senter, untuk melihat bagian pribadinya, dan pengalaman itu membuatnya merasa âreally frightenedâ.
Berita Terkait
Complainant A menuturkan Lady Eleanor Donaldson menyaksikan kejadian itu ketika Donaldson menggosok bagian dadanya dengan tangan di balik pakaian, namun tidak melakukan intervensi.
Sementara itu, 10 dakwaan lainnya, termasuk satu tuduhan pemerkosaan, berkaitan dengan Complainant B dan dilakukan antara 1985 hingga 1991. Seperti Complainant A, Complainant B bersaksi di persidangan dan keterangannya juga mencakup wawancara yang ia berikan kepada polisi.
Dalam keterangannya, Complainant B mengatakan Donaldson menurunkan tangannya ke dalam pakaian dalamnya âquite a lotâ dan merinci pemerkosaan yang ia alami. Pengadilan juga mendengar satu insiden lain ketika Donaldson âlifted her top up and her bra and started to touch her exposed breastsâ.
Complainant B menambahkan bahwa Lady Eleanor menyaksikan sebuah kejadian ketika Donaldson âplayedâ dengan payudaranya, tetapi kemudian berjalan pergi.
Tanggapan pimpinan DUP dan pernyataan para pendukung korban
Usai vonis, Gavin Robinson, pemimpin DUP saat ini yang mengambil alih setelah penangkapan Donaldson, menyatakan kejahatan itu âevilâ dan âheinousâ. Ia mengatakan Donaldson seharusnya dicopot gelar kebangsaannya serta keanggotaan di Privy Council.
Robinson menyebut hari itu âday for the victimsâ, menekankan keberanian para korban yang berani menyampaikan kesaksian. Ia menambahkan apa yang dialami para korban akibat penyangkalan Donaldson adalah âwickedâ.
Ia juga menyampaikan bahwa dampak bagi para korban untuk maju sebagai saksi, lalu dipaksa memberikan keterangan dalam semua keadaan oleh penyangkalan pelaku, adalah âcruel in the extremeâ.
Robinson menuturkan bahwa kini âit is now clear beyond doubtâ Donaldson telah menyalahgunakan berbagai posisi kekuasaan sejak 1985 dan berupaya menutup-nutupi perilaku yang ia sebut âvile and manipulative behaviourâ.
Robinson mengatakan dirinya dan rekan-rekannya tidak mengetahui tuduhan yang dihadapi Donaldson. Ia menilai keterkejutannya mencerminkan reaksi masyarakat luas ketika tuduhan tersebut pertama kali terungkap, serta menyebut partai bertindak tegas saat Donaldson ditangkap dengan mensuspend dia.
Geraldine Hanna, Northern Irelandâs victims of crime commissioner, menyatakan pikirannya bersama para korban. Ia menekankan perkara ini memerlukan dua tahun untuk melewati sistem peradilan pidana dan berlangsung di bawah pengawasan media yang ketat.
Hanna berkata, âSo, I really commend the victims in this case for their courage and their fortitudeâ. Ia menambahkan bahwa keterlambatan dalam proses perkara memperpanjang trauma, sehingga upaya perbaikan perlu dilakukan agar korban dan penyintas dapat memperoleh keadilan dan kasus mereka diputus âas swiftly and as effectively as possibleâ.
NSPCC di Northern Ireland juga menyatakan pentingnya agar korban pelecehan merasa bisa berbicara. Juru bicara NSPCC mengatakan, âThe victims in this case, now adults, have shown immense courage in coming forward and giving evidence after decades of living with the impact of Jeffrey Donaldson’s abuseâ.
Nexus NI, sebuah organisasi amal dan dukungan untuk individu yang terdampak kekerasan seksual dan hubungan yang bersifat melecehkan, turut memuji para pengadu. CEO Nexus NI Joanne Barnes menyampaikan, penting untuk mengapresiasi keberanian para korban yang mengikuti proses peradilan pidana meski ada âsignificant personal costâ.
Ia menambahkan, âWe know that the journey through the justice system can test even the strongest resolveâ.












