Hukum & Kriminal

Korban grooming gang Oxford: “Ratusan” pelaku pelecehan masih berkeliaran bebas

×

Korban grooming gang Oxford: “Ratusan” pelaku pelecehan masih berkeliaran bebas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Oxford grooming gang survivors tell BBC 'hundreds' of abusers still free

jurnalistik.co.id – Para penyintas kasus grooming di Oxford, Inggris, mengatakan mereka masih melihat pelaku pelecehan seksual yang sebelumnya menyalahgunakan mereka saat masih di bawah umur—dan, menurut mereka, sebagian pelaku itu belum menghadapi proses hukum sampai tuntas.

Dalam kesaksian kepada BBC Panorama, Sarah (nama disamarkan) menyebut pengalaman yang berulang: ia merasa para pelaku masih bisa dijumpai di ruang publik, dari tempat-tempat sehari-hari hingga keramaian kota.

“A shop, a petrol station, a restaurant – everywhere you can imagine – you’ll see a man that’s done something,” kata Sarah dalam wawancara Panorama. Ia menyatakan ia dan beberapa penyintas lain percaya “hundreds” dari pelaku masih bebas.

Gambaran serupa juga disampaikan Chloe (nama disamarkan), yang mengatakan beberapa pria yang menyakitinya tetap terlihat di area tempat ia tinggal. Chloe menyebut situasi itu membuatnya merasa “sick, cold” ketika bertemu kembali pelaku yang sama.

Sarah adalah salah satu penyintas yang untuk pertama kalinya berbicara secara terbuka. Ia menuturkan ia disalahgunakan secara seksual sejak usia 11 tahun dan diberi heroin.

Lebih dari dua dekade kemudian, tiga pria dinyatakan bersalah setelah Sarah bersaksi di pengadilan. Para terpidana dipenjara selama lima hingga 24 tahun pada tahun 2020.

Namun, Sarah mengatakan hukuman tersebut terasa “too little, too late.” Ia menggambarkan dirinya harus bergulat dengan kecanduan narkoba sepanjang hidup dan sempat berada di balik jeruji penjara.

“I think they should stay in there forever, because obviously they’ve taken my life,” ujar Sarah.

Chloe bercerita bahwa ia tidak menjalani penyelidikan kepolisian, dan alasannya terkait dengan tempat ia tumbuh. “It’s difficult because this is where I live, it’s where I grew up. There is a few of them that I’ve seen a few times, even just in the supermarket, driving around,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pelaku yang ia sebut bukan hanya lewat sekali waktu, melainkan muncul kembali di momen-momen yang tak terduga.

Kesaksian Rachel dan perpanjangan luka setelah proses persidangan

Seorang penyintas lain, Rachel (nama disamarkan), menyebut dirinya menjadi korban pelecehan sejak usia 12 hingga 15 tahun. Rachel mengatakan banyak dari pria yang ia temui selama masa itu masih berada di luar jeruji.

Rachel berperan sebagai saksi kunci pada persidangan pertama anggota Oxford grooming gang pada 2013, ketika tujuh pria dinyatakan bersalah. Pada persidangan itu terungkap grooming, trafficking, dan perkosaan terhadap enam gadis selama delapan tahun di kota tersebut.

Rachel menuturkan bahwa penanganan setelah itu tidak cukup. Ia menyatakan polisi selama bertahun-tahun tidak percaya saat ia menceritakan apa yang terjadi.

Ia juga mengatakan penyelidikan tidak berjalan sejauh yang seharusnya. Pada 2015, sebuah perkiraan menyebut lebih dari 370 anak terdampak.

Sementara itu, seorang juru bicara Thames Valley Police menyatakan bahwa mereka berupaya menyelidiki pelaku dalam kejahatan-kejahatan mengerikan tersebut.

“It is never too late to come forward”, kata juru bicara tersebut, yang menegaskan kepolisian akan mendengar dan melakukan segala upaya untuk mendukung korban, penyintas, serta keluarga mereka.

Rangkaian penyalahgunaan, obat-obatan, dan pola “utang” yang dipaksakan

Panorama—dalam episode berjudul Grooming Gangs: Why Were We Ignored?—membahas warisan kelam yang mereka nilai masih berlanjut bagi tiga penyintas. Program ini menempatkan Oxford dalam konteks kota-kota lain yang juga mengalami eksploitasi oleh geng terorganisir, termasuk Rotherham, Rochdale, dan Telford.

Menurut laporan tersebut, pada sejumlah tempat pelaku ditengarai berasal dari latar Pakistani, dan di Oxford banyak pelaku yang diidentifikasi adalah pria yang lebih tua.

Sarah menggambarkan keterkaitan antara penyalahgunaan dan ketergantungan. Ia mengatakan rokok yang diberikan para groomer dicampur heroin.

“My addiction through my whole life now has resulted from them giving us those cigarettes,” kata Sarah.

Sarah menyatakan ia sepakat untuk tidak memakai narkoba sebelum berbicara dengan Panorama dan mendapat dukungan dari pekerja kasusnya.

Ia menceritakan bahwa pria-pria yang memberinya rokok dan juga alkohol kemudian menyampaikan narasi “utang” yang memaksa dirinya memenuhi permintaan seksual.

“They’re like, ‘well you know, you owe me this money now, so you’re going to have to do this’,” ujarnya. Ia menambahkan para pelaku juga berkata “drink this, drink that” sampai ia merasa mual dan sakit.

“They used to say ‘drink this, drink that’ to the point where I’m throwing up and sick,” kata Sarah. Ia menggambarkan kondisi terkurung di rumah-rumah yang membuatnya merasa terjebak.

Menurut Sarah, para pelaku “used to just lock us in,” sebelum semakin banyak orang bergantian datang. Ia menggambarkan situasi ketika “one, two, six, seven people turning up,” sehingga korban merasa jumlahnya kalah dan tidak punya kendali.

Rachel juga menggambarkan pola yang berputar. Ia menyebut dirinya mengalami siklus penyalahgunaan seksual yang bersambung dengan kecanduan narkoba, bahkan ketika ia dipindahkan ke kota-kota lain.

Ia mengatakan ia diperdagangkan ke berbagai tempat dan pria membayar geng untuk seks dengannya.

Rachel juga bercerita ada upaya pelecehan bahkan ketika ia berhadapan dengan otoritas. “I was put in the back of a police van on the Cowley Road and there was two male officers and one of them said, ‘Well, we know what you’re about.’” katanya.

Ia menambahkan bahwa setelah kalimat itu, seorang petugas meminta ia melakukan oral sex. Rachel mengatakan ia tidak melaporkan kejadian tersebut.

Keyakinan bahwa pelaku masih ada, meski 21 pria telah dihukum

Meskipun Rachel menyatakan total “21 men” telah diputus bersalah terkait kasus Oxford grooming gang, ia menilai masih banyak pelaku yang tidak pernah menghadapi konsekuensi.

“There are a lot of people out there who have been involved in this to some degree or another, that have just been allowed to get on with their lives that were involved in the sexual abuse of children.” demikian kata Rachel.

Chloe menyampaikan bahwa tidak ada pelaku yang ia sebut menghadapi keadilan atas kejahatan yang ia alami. Ia mengatakan ia hanya menceritakan apa yang terjadi padanya sejak usia 13 tahun kepada beberapa orang saja.

Chloe menjelaskan pola yang ia ingat: para pria mendekati, memberikan uang atau imbalan, lalu memberi alkohol, kemudian mengklaim ia berada dalam “utang” dan akhirnya disalahgunakan secara seksual.

“They’d pick us up and there’d be like this random old man in the car and then we’d go to this flat, for example,” kenang Chloe. Ditanya tentang apa yang terjadi di apartemen tersebut, ia menjawab, “Just the same as always – they’d rape us.”

Sarah dan Chloe sama-sama menggambarkan dampak jangka panjang yang sulit dipadamkan. Sarah mengatakan ia “not been emotionally there for my kids, because I’m not emotionally there for myself.”

Chloe mengatakan menjadi ibu membuatnya menyadari betapa parahnya yang dilakukan pelaku. Ia mengaku “It really brought it all up again” dan ia mulai panik tentang masa depan serta cara menjaga keselamatan anaknya.

Bagi Rachel, anggapan bahwa semua pelaku telah dipenjara tidak sesuai dengan kenyataan yang ia lihat. Ia mengatakan “just isn’t reflective of what’s really gone on.”

Rachel menegaskan harapannya agar kejadian seperti ini tidak terulang. “I just want something on this scale to never ever be repeated again,” katanya, dan menyimpulkan, “It’s the biggest scandal in a lifetime.”

Pandangan mantan penyidik: “We should’ve done more”

Former senior detective Simon Morton, yang memimpin penyelidikan awal grooming di Oxford, menerima bahwa ia dan pasukannya pada awalnya gagal memahami apa yang sedang terjadi.

Morton mengatakan, “It’s crazy, it’s just ridiculous, the amount of people that were involved.” Ia menambahkan, “We should’ve done more. It’s tragic,” sebelum menyatakan ia percaya bentuk pelecehan seperti ini “absolutely” masih berlangsung di Oxford.

Ia menjelaskan bahwa keberhasilan mengidentifikasi “core group” tidak berarti tidak ada pelaku lain. Morton menyebut proses identifikasi sangat sulit karena banyak korban mengalami pengaruh obat.

“I’d like them all convicted, but identification is super hard. The girls were quite often drugged… thrown in a room with a mattress on the floor, and there’d be a procession of men going in all night, all day.”

Ia juga menilai persidangan menghadapi tantangan besar: bahkan ketika korban dipercaya, membawa kasus itu ke pengadilan dan meminta korban berdiri dalam sidang sering kali sangat berat, terutama setelah bertahun-tahun.

Morton menegaskan keyakinannya, sambil menggambarkan hambatan tersebut: “We got the core group, that doesn’t mean there isn’t more,” dan “I’d like them all convicted,” sekaligus mengingatkan bahwa sulitnya pengadilan membuat proses pembuktian perlu waktu panjang.

Di tengah penyelidikan nasional yang diluncurkan pemerintah untuk menelaah mengapa anak-anak rentan tidak terlindungi—termasuk apakah sikap pada korban atau etnis pelaku ikut berkontribusi—para penyintas Oxford menegaskan satu pesan yang sama: pelaku yang mereka lihat berjalan bebas di kota adalah luka yang masih mereka hadapi hingga hari ini.