Internasional

Pemilu Rusia nyaris tanpa kejutan: langkah Kremlin setelah hasil akan menentukan arah perang

×

Pemilu Rusia nyaris tanpa kejutan: langkah Kremlin setelah hasil akan menentukan arah perang

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Hasil pemilu Rusia kali ini tidak datang dengan kejutan besar. Dalam sistem politik yang sangat dikendalikan Kremlin, partai penguasa diperkirakan tetap memimpin parlemen, dan itulah yang terlihat dari perhitungan awal.

United Russia, yang didukung Presiden Vladimir Putin, sejak awal diproyeksikan mempertahankan mayoritas konstitusional di State Duma. Proyeksi tersebut bahkan mengarah pada perolehan jumlah kursi yang lebih besar dibanding pemilu sebelumnya.

Menurut perhitungan awal, tidak ada partai lain yang mampu mendekati posisi dominan tersebut. Tidak terlihat pergantian arah politik di parlemen, setelah lebih dari empat setengah tahun perang Rusia di Ukraina.

Perang itu disebut telah menimbulkan kerugian besar di medan tempur bagi tentara Rusia, memicu kesulitan ekonomi, serta disertai gangguan yang makin terasa belakangan ini. Salah satu dampak yang disebut dalam laporan adalah kekurangan bahan bakar yang meluas, terkait serangan drone Ukraina ke fasilitas minyak di Rusia.

Sejumlah partai yang tertinggal jauh tetap lolos dan duduk di Duma baru setelah melewati ambang batas 5%. Duma yang terbentuk pun merupakan kelanjutan dari periode sebelumnya: secara umum bergerak selaras dengan Kremlin dan gagasan “special military operation”.

Di luar dugaan, ada satu kekuatan politik yang akhirnya tidak masuk parlemen: Yabloko. Partai ini disebut sebagai satu-satunya kubu anti-perang yang sempat diberi izin mengikuti pemilu, namun izin tersebut tidak bertahan lama.

Yabloko didaftarkan untuk ikut pemungutan suara, tetapi sekitar dua belas hari setelah pendaftaran, mereka dikeluarkan dari daftar kandidat (party list) oleh Mahkamah Agung. Langkah itu dipandang sebagai indikasi kekhawatiran Kremlin bahwa pesan pro-perdamaian Yabloko mulai mendapat daya tarik dari publik.

Ketika ditanya soal kemungkinan wajah Duma mendatang, ketua partai Yabloko, Nikolai Rybakov, mengatakan, “What other result can there be if there were ten parties on the ballot and they all support the policies of Putin?” Ia menambahkan, “I don’t think the Duma will change. They’ll vote 100% for the policies of Putin just like they did.”

Meskipun party list Yabloko dicoret, sekitar seratus kandidatnya masih bertarung di pemilihan tingkat konstituensi individual. Berdasarkan hasil awal, tidak ada kandidat dari Yabloko yang berhasil meraih kursi di Duma.

Yabloko juga menyampaikan keluhan bahwa mereka menghadapi tekanan berkelanjutan. Nikolai Rybakov menyatakan, “Some of our candidates, who should have been running, are in jail, many were barred from running and some of our election observers weren’t registered and were unable to keep an eye on the voting,”.

Menjelang hari terakhir pemilu yang berlangsung selama tiga hari, Ukraina melancarkan serangan drone berskala besar ke wilayah dekat Moskow. Dalam laporan disebutkan, tiga orang tewas di Moscow Region, sementara di ibu kota kilang minyak kota mengalami serangan.

Di tempat pemungutan suara dekat kilang minyak itu, sejumlah pemilih berbicara tentang serangan tersebut, dan tidak tampak suasana “terkejut”. Yang lebih terasa adalah sikap menyerah secara tenang—seolah warga telah terbiasa melihat kota mereka sesekali berubah menjadi bagian dari garis depan.

Salah satu pemilih, Viktor, mengatakan, “People in the Donbas, as well as in Bryansk, and Belgorod near the Ukrainian border, hear this kind of thing every day,” kemudian menambahkan, “And they just get on with their lives.”

Dengan pemungutan suara yang hasilnya dianggap dapat diprediksi, pertanyaan sesungguhnya bergeser ke langkah berikutnya. Kremlin, sebagaimana disebut dalam laporan, kemungkinan akan menggunakan hasil pemilu untuk mengklaim bahwa mayoritas rakyat telah berbalik mendukung presiden, sekaligus menjadi dasar pembenaran bagi kebijakan dan keputusan lanjutan terkait jalannya perang.

Di tengah situasi seperti itu, ada satu fokus yang menjadi penentu: keputusan apa yang akan diambil setelah hasil pemilu. Putin, dalam pernyataan yang dikutip, juga disebut telah menolak gelombang mobilisasi berikutnya.

Ia menyatakan, “There is no scenario today that would require it,”. Pernyataan itu memberi sinyal bahwa pada saat ini, negara tidak melihat kebutuhan untuk mobilisasi tambahan.

Namun laporan yang sama menegaskan bahwa, kendati ada penyangkalan resmi, di masyarakat Rusia tetap ada kegelisahan mendalam terkait kemungkinan putaran mobilisasi baru. Karena itu, setidaknya Kremlin dapat memperlakukan hasil pemilu sebagai “mandate from the people” untuk melanjutkan perang.

Dengan Duma yang diperkirakan tetap solid pro-Kremlin dan tanpa perubahan besar pada komposisi kekuasaan, arah kebijakan setelah pemilu menjadi variabel yang paling menentukan. Yang terjadi bukan pada hasil pemungutan suara, melainkan pada bagaimana hasil itu dipakai untuk menetapkan batas keputusan-keputusan berikutnya di masa mendatang.