Daerah

Pendanaan Dewan Naik, Bus Pedesaan Mulai Beroperasi Lagi—Model DRT Menguat

×

Pendanaan Dewan Naik, Bus Pedesaan Mulai Beroperasi Lagi—Model DRT Menguat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Does more funding mean rural buses are back in business?

jurnalistik.co.id – Pendanaan untuk layanan bus pedesaan di Inggris menunjukkan tren menguat, dan sebagian wilayah mulai melihat layanan kembali berjalan. Meski begitu, kebiasaan naik bus masyarakat belum pulih sepenuhnya ke level sebelum pandemi.

Pemerintah mencatat dukungan untuk bus lokal berbasis dewan meningkat. Dengan pengecualian London, 17% dari total miles bus di seluruh Inggris didukung secara finansial oleh pemerintah. Angka itu turun dari hampir seperempat pada 2010, namun naik kembali dibanding titik terendah sebelum pandemi, yaitu 13% pada 2019-20.

Namun, indikator lain memperlihatkan tantangan yang berbeda. Perjalanan per orang di Inggris berada di angka 88 pada 2010, lalu turun menjadi 63 pada 2024-25. Penurunan tajam terjadi saat pandemi, dan kenaikan yang belakangan tidak cukup untuk mengembalikan jumlah penumpang ke level pra-Covid.

Pada periode 2024-25, dewan yang memberi dukungan paling besar untuk jaringan bus mereka cenderung berada di wilayah pedesaan. Charity Bus Users UK menggambarkan layanan bus yang didukung sebagai kebutuhan sosial yang nyata. “fundamental to social inclusion” dan “a lifeline, not a choice” menjadi frasa yang dipakai untuk menggambarkan dampaknya, karena “Without them, people can become isolated and less able to participate fully in their communities,” demikian pernyataan juru bicara Bus Users UK.

DRT: model layanan yang menyesuaikan kebutuhan

Salah satu contoh yang menonjol datang dari Wiltshire. Wilayah ini menggunakan pendekatan demand responsive transport (DRT), yakni layanan berbasis permintaan yang dipesan lebih dulu saat dibutuhkan. Rute layanan bisa berubah sesuai tujuan penumpang.

Pada 2021, Department for Transport menyediakan £20m kepada 15 otoritas lokal di Inggris untuk uji coba DRT melalui Rural Mobility Fund. Dalam skema itu, Wiltshire Connect diperluas ke berbagai area, dengan 13 minibuses yang beroperasi dalam tiga zona.

Wiltsire Connect pertama kali diluncurkan pada 2023, dan layanan itu telah mencatat 250,000 journeys sejak berjalan. Menurut juru bicara Wiltshire Connect, modelnya dipandang membantu karena lebih “affordable” bagi dewan dibanding skema yang harus mensubsidi rute-rute pedesaan dengan penumpang yang sangat sedikit.

“If we weren’t doing this we’d be trying to subsidise a lot of rural bus routes taking very, very few people from place to place and here we have a solution where it’s a couple of buses which move around the area all the time,” ujar Councillor Martin Smith, cabinet member untuk transport di Wiltshire. Sistem pemesanan dilakukan melalui aplikasi atau telepon, dengan biaya yang sama seperti layanan bus biasa.

Penumpang juga memiliki opsi untuk dijemput dari sejumlah titik yang jaraknya dekat, lalu dibawa ke area dalam zona tertentu. Dewan tetap mensubsidi layanan lain yang berkontribusi pada supported mileage, sehingga tidak seluruh porsi dukungan bergeser ke DRT.

Awalnya, layanan DRT diperkirakan lebih banyak dipakai oleh kelompok usia lanjut. Namun, dewan menyampaikan mereka justru menemukan “piling in there” dari pengguna yang lebih muda.

Smith kemudian menegaskan harapannya terhadap kesinambungan kebiasaan menggunakan transportasi publik. “If we can get the younger generation used to using public transport then they will continue to do that potentially through their adult lives.”

Dirasakan sebagai akses yang lebih fleksibel

Dari sisi pengguna, pengaruh layanan terlihat melalui pengalaman keluarga yang berpindah wilayah. Cat Jones dan keluarganya mulai menggunakan Wiltshire Connect setelah mereka pindah dari London ke Wiltshire. Mereka menyebut bus sebagai “lifesaver” karena sebelumnya tidak membutuhkan mobil di tempat tinggal lama dan layanan bus dianggap sangat membantu.

Jones menilai kebutuhan transport di Wiltshire kerap tidak bisa sepenuhnya dipenuhi oleh jadwal bus reguler. “In Wiltshire, you sometimes need more flexible transport than the scheduled buses allow and that’s what Wiltshire Connect is,” katanya. Ia menambahkan, “Everybody is smiling. You feel plugged into the community.”

Sementara itu, James—salah satu pengemudi Wiltshire Connect—menggambarkan respons penumpang sebagai antusias. “They [the passengers] love it. It’s a service that has helped so many people be able to get out.” Ia juga menyebut ada kondisi penumpang yang merasa “quite trapped, especially in the smaller villages.”

Bus Users UK memandang kenaikan mileage secara umum sebagai kabar yang “encouraging”. Namun organisasi itu mengingatkan, “It shows targeted investment can work but mileage alone does not tell the full story.” Menurut mereka, nilai layanan bus bergantung pada apakah layanan itu memungkinkan orang melakukan perjalanan yang benar-benar penting, “whether that is getting to work, attending a hospital appointment, accessing education or staying connected with friends and family.”

Bus Users UK juga menekankan penurunan sebelum pandemi dipengaruhi pemotongan anggaran dewan lokal yang membuat mereka “abandon” rute tertentu. Untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat agar mau menggunakan bus, diperlukan pendanaan jangka panjang bagi jaringan yang “people could rely”.

Campaign for Better Transport menyatakan strategi bus nasional yang diterbitkan pada 2021 membuat “the value of buses more explicitly understood”. Silviya Barrett menyebut otoritas kemudian memiliki opsi untuk “step in and plug gaps in provision thanks to dedicated government funding”. Meski demikian, Barrett menilai layanan bus masih belum sepenuhnya pulih, karena “overall bus provision is still at a lower level than in 2010 and our mapping shows that many areas still do not have the bus service they need.”

Pandangan serupa datang dari Local Government Association. Mereka menilai investasi terbaru itu “good”, tetapi juga berharap ada “sustained levels of funding” agar orang terdorong menggunakan bus.

Pemerintah mengumumkan tambahan pendanaan pada tahun lalu sekaligus Bus Services Act yang memberi otoritas lokal lebih banyak kendali atas bus di wilayah mereka. Namun tren penyusutan tidak hanya terjadi pada layanan pedesaan yang didukung dewan.

Komersial juga menurun, dipengaruhi kemacetan

Miles yang ditempuh bus—termasuk rute komersial—turun perlahan sejak 2010. Secara keseluruhan, terjadi penurunan sekitar 22% sejak 2010, dan meski ada kenaikan belakangan, angka itu belum mencapai level sebelum pandemi. Untuk rute komersial, Commercial bus miles menurun sebesar seperempat antara 2010 dan 2025.

Analisis pemerintah sendiri menunjukkan perubahan jarak tempuh antara layanan komersial dan layanan yang didukung mungkin terkait perubahan pascapandemi. Contohnya, perusahaan bisa menghentikan layanan yang tidak lagi layak, sementara otoritas lokal kemudian membantu mendanai rute tersebut.

Confederation of Passenger Transport (CPT) menyebut salah satu penyebabnya adalah kondisi lalu lintas. “Worsening congestion on the roads has made buses slower and therefore less attractive to passengers,” kata CPT, dan kemacetan juga dapat membuat biaya operasional lebih mahal.

CPT menyampaikan, bus di luar London saat ini rata-rata menempuh jarak dengan kecepatan 11.7mph. Organisasi itu menegaskan dukungan dewan dibutuhkan paling besar di area pedesaan, karena populasi yang lebih rendah membuat biaya sulit ditutup lewat tarif penumpang, sementara pedesaan menghadirkan “longer distances, more fuel”.