Hukum & Kriminal

Kaplan sekolah Long Eaton, Bernard Randall, akhiri sengketa pemecatan terkait khotbah LGBT

×

Kaplan sekolah Long Eaton, Bernard Randall, akhiri sengketa pemecatan terkait khotbah LGBT

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Long Eaton school chaplain settles LGBT sermon unfair dismissal case

jurnalistik.co.id – Seorang pendeta gerejawi, Rev Bernard Randall, akhirnya menyepakati penyelesaian sengketa terkait pemecatannya dengan Trent College di Long Eaton, Derbyshire. Kesepakatan tersebut bersifat rahasia, demikian menurut kelompok Christian Concern.

Randall dipecat pada 2019, dua bulan setelah ia menyampaikan khotbah yang menyinggung topik LGBT kepada murid. Ia kemudian mengajukan banding, dan keputusan pemecatannya sempat dibatalkan, namun hubungan kerjanya berakhir setelah ia menolak skema pengurangan jam kerja.

Setelah ia kalah dalam gugatan pemecatan yang dianggap tidak adil, kasusnya diarahkan ke persidangan lanjutan untuk menilai potensi bias pada panel yang membuat keputusan sebelumnya. Dalam dokumen pengadilan yang disebut Christian Concern, Trent College diperintahkan membayar biaya sekitar £20.000.

Di dalam proses persidangan, terungkap bahwa Randall berseberangan dengan bagian dari program yang ingin diterapkan sekolah untuk meningkatkan inklusivitas terkait LGBT. Program tersebut, menurut uraian dalam persidangan, dikembangkan oleh charity Educate and Celebrate.

Randall menyampaikan bahwa ia memandang elemen program itu sebagai sesuatu yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kepercayaannya. Ia juga mengatakan bahwa ada istilah-istilah yang baginya “ideologically loaded and misleading”, termasuk frasa seperti “sex assigned at birth” dan “cisgender”.

Dalam keterangan yang dikutip, Randall menyatakan: “Educate and Celebrate went beyond a neutral stance of inclusivity into the implantation of ideas I consider to be identity politics.” Ia mengatakan pandangannya terbentuk ketika ia menulis khotbah, yang ia sampaikan pada Juni 2019 kepada murid berusia 11 hingga 17 tahun.

Ia mengaitkan dorongan penyusunan khotbahnya dengan pertanyaan seorang murid tingkat keenam. Randall mengatakan seorang murid bertanya, “Sir, how come we are told we have to accept all this LGBT stuff in a Christian school?” Menurutnya, pertanyaan itu juga menjadi perhatian bagi pemimpin sekolah pada saat khotbah disampaikan.

Di khotbah tersebut, Randall menyinggung sikap terhadap aktivisme LGBT. Ia menyampaikan, “You do not have to accept the ideas of LGBT activists.” Khotbah ini, menurut Christian Concern, mencerminkan ajaran Church of England terkait pernikahan, tetapi memicu keluhan dari sejumlah pihak termasuk murid, orang tua, serta staf.

Randall kemudian tidak hanya menghadapi persoalan pekerjaan, melainkan juga pelaporan terkait perannya sebagai chaplain. Ia disebut telah dikeluarkan dari posisi tersebut di sekolah asrama berbayar, dan ia melaporkan keterkaitan kasusnya kepada pemerintah melalui pengawas kontra-terorisme bernama Prevent.

Pada sidang unfair dismissal yang berlangsung Februari 2023, hakim menyatakan bahwa proses redundansi sekolah “genuine and reasonable”. Hakim juga menilai bahwa rujukan kepada Prevent dapat dibenarkan “from a safeguarding perspective”, sebagaimana disampaikan oleh Christian Concern.

Christian Concern menambahkan bahwa Bill Penty, yang saat itu menjadi kepala Trent College, selanjutnya merujuk Randall ke Teaching Regulation Authority (TRA) dan Disclosure and Barring Service (DBS). Menurut Christian Concern, TRA memutuskan tidak melanjutkan perkara, sementara DBS memutuskan bahwa Randall tidak memiliki perkara yang perlu dijawab.

Pada Maret 2025, keputusan tersebut kembali digugat. Dalam Employment Appeal Tribunal, Judge James Tayler memutuskan penilaian awal tidak aman (unsafe) dan memerintahkan kasus untuk diperiksa ulang, yang kemudian berujung pada penyelesaian di luar pengadilan.

Setelah kesepakatan di luar pengadilan itu, Christian Concern menyatakan bahwa Randall juga dapat kembali berkhotbah di gereja-gereja Church of England. Seorang penyelidik independen, menurut organisasi tersebut, tidak dapat “establish, on the balance of probabilities, that harm was caused by the delivery of the sermons”. Hasil kajian menyimpulkan bahwa kekhawatiran atau tuduhan tidak terbukti, dan tidak ada persoalan perlindungan (safeguarding) yang berkelanjutan.

Christian Concern juga menyebut bahwa Randall telah menyelesaikan seluruh pelatihan safeguarding yang diwajibkan. Dengan demikian, ia dinilai memenuhi syarat untuk mendapatkan izin agar dapat menjalankan peribadatan.

Dalam pernyataannya, Randall mengatakan proses hukum telah mengambil banyak waktu darinya. Ia menyatakan: “seven years have been taken from me” dan bahwa “faith and loyalty to the Church has been tested to the extreme”. Ia menambahkan: “I encouraged pupils to think, to debate, and to love their neighbours whatever they believed.” Ia juga berkata: “No minister, teacher or chaplain should be punished for upholding Christian teaching in a Christian setting.” Randall kemudian menutup dengan: “I want to thank my legal team and everyone who has stood with and supported me, and especially the many people who have prayed for me throughout this ordeal.”

Kepada BBC, Randall mengatakan ia telah tidak menjalankan pelayanan selama lebih dari tujuh tahun. Ia menyebut: “been out of ministry for over seven years” dan menambahkan, “I don’t feel angry, I try not to. It’s very difficult to forgive, I’m working on that.”

Sementara itu, Trent College menyampaikan kepada BBC bahwa pihaknya tidak akan memberikan komentar lebih lanjut mengenai perkara tersebut.