jurnalistik.co.id – Keluarga Tasia Fortune masih menunggu jawaban setelah jenazah seorang perempuan kulit hitam berusia 29 tahun ditemukan tergantung di sebuah pohon di Jackson, Mississippi. Lebih dari sebulan setelah penemuan itu, ibunya mengatakan komunikasi dari aparat belum memberi kepastian yang ia cari.
Christy Spivey menyatakan rasa marahnya kepada BBC, menyebut penundaan penyelidikan dan minimnya pembaruan membuatnya frustrasi. “It’s making me angry,” ucapnya, disusul pertanyaan, “What is the hold up?”
Menurut Spivey, ia berulang kali mencoba memastikan status perkara dan beberapa kali menghubungi polisi, namun tidak menerima tanggapan yang memadai. Pembaruan yang akhirnya muncul datang pada hari Selasa malam, dalam pertemuan kota (city meeting), ketika Kepala Kepolisian Jackson RaShall Brackney membahas kasus tersebut.
Di hadapan publik, Brackney menyampaikan bahwa kepolisian “has been investigating this case from day one as a homicide”. Dalam pernyataan kepada BBC, ia menjelaskan bahwa penanganan sebagai “potential homicide” dilakukan sejak awal agar bukti penting tidak terlewat selama menunggu hasil otopsi.
Brackney juga menegaskan bahwa meski peristiwa ini diperlakukan pada level “highest appropriate level” sembari menunggu temuan pemeriksa medis, penyebab kematian secara resmi belum dapat dipastikan. “we are conducting the investigation at the highest appropriate level while we await the medical examiner’s findings”, demikian bunyinya, dengan catatan temuan itu mencakup penyebab dan cara kematian.
Namun, kantor pemeriksa medis menyatakan tidak akan memberikan komentar untuk kasus yang masih menunggu proses. Sementara itu, pihak keluarga dan warga menilai ketiadaan kepastian menjadi sumber kegelisahan yang berkepanjangan.
Jenazah Fortune ditemukan pada 3 Agustus. Ia diketahui tergantung pada sebuah pohon di lahan milik rumah kosong (lot of an abandoned home), sebuah temuan yang kemudian mengguncang komunitas setempat.
Perhatian publik diperkuat oleh sejarah panjang kekerasan rasial dan eksekusi gantung (lynchings) yang kelam di negara bagian itu. Bagi banyak warga, kasus ini menimbulkan ketegangan karena mereka masih menunggu penjelasan rinci tentang bagaimana Fortune meninggal.
Kondisi yang berkembang juga dipengaruhi oleh perbedaan narasi di tahap awal penanganan. Sebelumnya, aparat hanya menggambarkan perkara sebagai “death investigation”. Pada Selasa, pernyataan yang lebih spesifik muncul dengan memperbarui status penyelidikan ke kemungkinan pembunuhan.
Spivey menceritakan bahwa ia melihat Fortune terakhir kali pada 26 Juli. Pada hari itu, Fortune melakukan perjalanan dari Mississippi—tempat ia tinggal sekitar satu dekade—ke Kentucky, tempat Spivey berada, untuk reuni keluarga.
Kali berikutnya Spivey bertemu putrinya terjadi di rumah duka beberapa hari sebelum pemakaman. Ia menggambarkan momen itu dengan berat: “I didn’t look straight at her. Her daddy did,” ujarnya, lalu menambahkan, “I kind of looked from the side.”
Spivey juga mengingat percakapan terakhir mereka. “She was talking about, you know, maybe even coming home,” demikian yang diceritakannya.
Bagi komunitas, hilangnya detail yang dapat diverifikasi membuat dugaan sulit berhenti. Brandon King, presiden bab NAACP di Jackson State University, mengatakan misteri seputar kematian Fortune dan pembaruan polisi yang minim membuat dirinya dan sejumlah pihak merasa perlu bersikap “extra cautious” di lingkungan kampus.
King menjelaskan kekhawatiran yang muncul seperti sinyal ancaman di sekitar mereka. Ia berkata, “hey, you could be next. This is in Jackson. This is in your backyard”.
Berita Terkait
Ia menambahkan, pikiran itu terasa lebih mengkhawatirkan karena Jackson adalah pusat pemerintahan. King menyebut, “this is supposed to be the capital. This is where I’m supposed to feel the most safe”.
Dalam catatan yang disampaikan, kasus Fortune disebut menjadi insiden ketiga di Mississippi dalam waktu kurang dari setahun, di mana polisi menemukan seseorang meninggal setelah digantung di pohon. Dua kejadian lain terjadi pada September 2025—pada hari yang sama—dengan temuan masing-masing atas seorang pria kulit hitam dan seorang pria kulit putih.
Kedua kematian itu dinyatakan sebagai bunuh diri, meskipun ibu salah satu korban, Trey Reed, mempertanyakan kesimpulan tersebut. Dengan pola yang berulang, warga menilai pertanyaan tentang perlindungan, penanganan, dan transparansi semakin penting.
Di tengah kekosongan informasi, warga meluncurkan petisi daring. Salah satunya menyerukan penyelidikan independen terhadap pemeriksa medis utama negara bagian, Dr Staci Turner, terkait penanganan serangkaian kasus yang melibatkan orang kulit berwarna. Petisi tersebut telah mengumpulkan lebih dari 50.000 tanda tangan.
Petisi lain meminta FBI membuka investigasi atas kematian Fortune. BBC juga menyatakan telah menghubungi Turner untuk mendapatkan komentar.
Selain itu, Jackson City Councilman Kenneth Stokes menyoroti keterlambatan dan pertanyaan terhadap proses penyelidikan. Ia menyebut pernah berada di luar rumah yang diduga menjadi lokasi Fortune tinggal beberapa kali, tetapi belum pernah melihat petugas. “All cases are important, but this one – a hanging in Mississippi – should rise to the top of the food chain,” kata Stokes.
Ia juga mengatakan telah mengirim surat kepada dua pihak di tingkat federal—jaksa federal di kantor US attorney Mississippi serta FBI—beberapa minggu sebelum pembicaraan ini, dengan dorongan agar penyelidikan segera dibantu. Namun, ia menyatakan belum menerima respons apa pun, “He has yet to hear back from either.”
“Nothing from nobody,” ujar Stokes. “It’s like nobody cares.” Ia melanjutkan bahwa pihaknya telah menunggu kejelasan, sementara pertanyaan publik terus menguat.
Pihak BBC juga menghubungi kantor US attorney Mississippi dan kantor FBI setempat untuk komentar. Sementara itu, US Congresswoman Jasmine Crockett meminta intervensi federal melalui surat kepada Departemen Kehakiman Amerika Serikat (US Department of Justice), dengan meminta investigasi atas kematian-kematian baru-baru ini di Mississippi, termasuk Tasia Fortune.
Dalam surat tersebut, Crockett menyebut kematian-kematian itu sebagai “possible cases of modern-day lynchings”, sambil menunjuk reputasi historis negara bagian yang “appalling historical reputation of violent terrorism against black Americans”.
Selain Mississippi, disebut pula ada berbagai kasus serupa di tingkat nasional: empat kematian warga kulit hitam yang ditemukan tergantung dari pohon terjadi di North Carolina hanya dalam tahun ini. Tiga di antaranya dinyatakan sebagai bunuh diri, sedangkan satu kematian lainnya masih menunggu autopsi.
Stokes menegaskan ia tidak mengetahui apakah kematian Fortune merupakan tindakan lynching, atau apakah faktor ras benar-benar berperan. Namun, ia menyatakan hal itu tidak mengurangi tuntutan utamanya: ia ingin jawaban.
Dari sisi keluarga, Spivey menuturkan bahwa sebelum putrinya dibawa ke rumah duka, ia menangis karena terbayang tugas administratif sekaligus keputusan berat yang harus diambil. Ia menyebut ketegangan harus mengisi surat keterangan kematian dan menentukan apakah putrinya dikremasi atau dimakamkan.
Spivey mengatakan ia sempat ingin mengkremasi, tetapi akhirnya memilih pemakaman. Ia juga berkata bahwa ia sempat berharap akan ada pembaruan dari penyelidikan—pembaruan yang mungkin menuntut kebutuhan menggali kembali jenazah (exhume) jika diperlukan.
Di tengah desakan publik dan pertanyaan yang belum terjawab, kasus Fortune terus menjadi fokus kemarahan warga Jackson. Mereka menunggu pengumuman formal yang dapat menjelaskan apa yang terjadi, dan kapan sebuah kepastian bisa benar-benar tiba.











