Hukum & Kriminal

Les Howard Pakai Kode QR untuk Aplikasi Parkir, Tapi Ternyata Penipuan

×

Les Howard Pakai Kode QR untuk Aplikasi Parkir, Tapi Ternyata Penipuan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Les used a QR code to download a parking app - but it was a scam

jurnalistik.co.id – Les Howard awalnya mengira QR code di meter parkir adalah solusi cepat saat ia tidak menemukan uang kembalian selama perjalanan ke wilayah pantai. Namun, beberapa hari kemudian ia menyadari tindakannya justru menyeretnya ke skema penipuan yang mengambil dana dari rekeningnya dalam nominal £60.

Pria berusia 61 tahun itu berasal dari Widnes dan tengah berkunjung ke Caernarfon, Wales Utara, bersama istrinya. Ia menjelaskan, “We went to the car park where we normally go,” lalu menambahkan bahwa biasanya ia memiliki uang kembalian di mobil untuk membayar parkir.

Menurut Howard, situasi berubah pada kunjungan kali ini. Ia mengatakan, “I normally have change in the car to pay for the parking, but this time I didn’t. So there was a QR code to download and get an app and pay via an app.”

Howard ingat ada pengunjung lain yang melakukan hal serupa. Akan tetapi, ia mulai merasa tidak nyaman karena prosesnya meminta detail kartu pada aplikasi yang baru diunduh. Ia menyatakan, “I thought ‘I don’t like the idea of this because I’m going to have to put my card details into an app that I’ve only just downloaded, which wasn’t of my choosing’.”

Setelah itu, ia menghentikan proses dan menghapus aplikasi dari ponselnya, lalu memilih area parkir lain. Meski demikian, ia masih menerima notifikasi bahwa sejumlah kecil uang telah diambil dari rekeningnya sebesar £1.

Keesokan harinya, notifikasi kembali muncul, kali ini untuk pembayaran senilai £60 yang ditujukan kepada penerima yang sama. Ia pun menghubungi bank untuk menghentikan dampak lebih lanjut.

Howard menceritakan, “I told them I’d downloaded it, I tried to stop, but I’d obviously gone too far.” Ia melanjutkan bahwa petugas bank menyampaikan, “She said ‘it’s a good job you rang up, because they’ve set up a monthly £60 subscription’.”

Lonjakan laporan penipuan QR dan modus “quishing”

Kasus seperti yang dialami Howard bukan satu-satunya. Laporan penipuan terkait QR code dilaporkan meningkat sebesar 700% dalam empat tahun terakhir, berdasarkan data Report Fraud.

Para pakar menyebut pelaku memanfaatkan QR code dengan berbagai cara seiring teknologi tersebut menjadi bagian umum dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya, QR code dapat dipakai untuk menyamarkan tautan mencurigakan dalam email, membuka akses ke aplikasi pesan korban, atau meyakinkan orang yang sedang bepergian untuk mengunduh aplikasi palsu demi mencuri uang maupun data.

Dalam konteks lokasi parkir, Cyngor Gwynedd selaku pengelola area menyatakan mereka tidak menggunakan QR code untuk pembayaran parkir. Mereka juga menyebut telah menyingkirkan dua stiker QR palsu dari fasilitas parkir dalam setahun terakhir.

Penipuan dengan taktik serupa disebut telah terjadi di berbagai tempat, termasuk area parkir dan stasiun kereta. Data dari City of London Police yang dirilis berdasarkan Freedom of Information Act juga mengindikasikan masalah ini terus membesar, dan istilah yang digunakan untuk praktik tersebut dikenal sebagai “quishing”.

Report Fraud melaporkan kepada BBC bahwa pihaknya menerima 2,743 laporan yang menyebut QR code selama 12 bulan terakhir. Di periode tahun yang berakhir pada Agustus 2022, jumlahnya hanya 341, sehingga angka terbaru menggambarkan peningkatan yang signifikan.

Namun, petugas menyebut jumlah itu kemungkinan masih di bawah gambaran sebenarnya karena banyak korban memilih tidak melapor. Ollie Whitehouse, chief technology officer National Cyber Security Centre (NCSC), menyampaikan, “We’re definitely seeing a rise in the use of QR codes to conduct a range of criminal activity,” dan menambahkan, “I think as they become more commonplace, naturally criminals will jump on to the back of that.”

Menurut NCSC, ada skema yang mengajak korban memindai QR code agar tautan mengarah ke perangkat pelaku melalui aplikasi pesan korban. Bahkan, sebagian orang tetap menjadi korban meski QR code yang mereka pindai sebenarnya “genuine”.

Untuk pencegahan, NCSC menyarankan pengguna menggunakan pemindai QR di ponsel—biasanya kamera—bukan mengunduh aplikasi pemindai terpisah. Alasannya, beberapa aplikasi bisa memuat iklan sehingga pengguna kesulitan menilai tautan mana yang harus diklik.

Pengalaman kedua: tautan ganda dan biaya dari perusahaan di Praha

BBC juga menampilkan pengalaman lain dari Keith Betton, 66 tahun, warga Farnham, Surrey. Ia sedang berusaha membeli buku bertema sports cars yang ia lihat di sebuah majalah, dan memindai QR code pada iklan tersebut menggunakan aplikasi yang sebelumnya ia unduh.

Betton kemudian baru menyadari bahwa ia menerima dua tautan. Salah satunya diarahkan untuk membeli buku, sementara yang lain mengarah ke situs tempat ia diminta memasukkan detail pembayaran.

Dalam hitungan detik, ia diminta menyetujui transaksi bernilai “zero pounds” melalui aplikasi perbankan. Ia menyatakan, “I don’t hear anything more for a while,” sebelum menambahkan, “And then about a month later, my bank contacted me because there was an amount of £59.99 from a company in Prague trying to take that money off my account.”

Ia akhirnya mengetahui bahwa itu adalah pengambilan biaya kedua dengan nominal tersebut dari rekeningnya. Betton kemudian berhasil memperoleh pengembalian dana dari bank.

Selain skema pembayaran, NCSC menyebut QR code juga makin sering dipakai dalam email phishing untuk menyamar sebagai tautan menuju situs berbahaya. Microsoft menilai ini sebagai teknik penipuan yang tumbuh paling cepat yang ditujukan untuk email, dengan 18.7m kasus tercatat pada bulan Maret tahun ini.

Menurut Profesor Filipo Sharevski dari DePaul University di Chicago, QR code dapat membuat tautan penipuan “slip through” di email. Sementara itu, tautan URL yang tampil langsung di pesan dapat lebih mudah disaring sebagai spam.

Ia juga menjelaskan bahwa bentuk QR code mempermudah pelaku menyembunyikan alamat situs sebenarnya yang dituju. Walaupun ponsel kadang menampilkan pratinjau tautan sebelum pengguna mengklik, tautan tersebut sering kali dipendekkan atau disamarkan.

Alasan lain, menurut Sharevski, adalah banyak orang secara alami mempercayai QR code. Timnya melakukan eksperimen dengan menempatkan QR code di lingkungan kampus dan tempat kerja untuk meneliti kesediaan orang memindainya. Ia menuturkan, “We don’t question our boarding pass on our phone, we don’t question our concert ticket.”

Sharevski menambahkan bahwa kebiasaan ini membuat proses belajar korban terjadi perlahan setelah pengalaman penipuan. Ia berkata, “We learn slowly through scam experiences. Our phone rings… we abandon that.” dan “We get an email, and we abandon that…but these QR codes, we have no reason to suspect them.”

Kumpulan kasus tersebut menggambarkan bahwa QR code yang terlihat sederhana dapat menjadi jalur akses bagi pelaku untuk merancang transaksi, menyamarkan tujuan tautan, dan memanfaatkan kepercayaan pengguna.