jurnalistik.co.id – Kanker mesotelioma merenggut nyawa Caroline Bryan pada usia 46 tahun, hanya tiga bulan setelah ia menerima vonis. Keluarganya meyakini penyakit itu berhubungan dengan paparan asbes yang terjadi saat Caroline masih bersekolah.
Caroline meninggal dalam kondisi yang disebut tak dapat disembuhkan. Mesotelioma merupakan kanker yang terkait dengan paparan serat asbes, dan sering kali paparan terjadi jauh sebelum gejala muncul.
Menurut putrinya, Brooklyn, keluarga mereka kemudian menelusuri kembali kemungkinan titik paparan yang pernah dialami Caroline. Ia percaya lingkungan sekolah menjadi satu-satunya tempat yang paling mungkin mempertemukan Caroline dengan asbes puluhan tahun sebelumnya.
Jejak paparan yang diduga muncul di sekolah
Brooklyn menyebut ibunya tidak memiliki jenis karier yang lazimnya memunculkan paparan asbes. “She never had the sort of career that would have exposed her to asbestos,” ujarnya dalam penggalan pernyataan yang dikutip oleh BBC. Brooklyn juga mengatakan keluarga mereka tidak pernah tinggal di rumah yang diketahui mengandung asbes.
Meski sebelumnya Brooklyn dan keluarganya belum pernah mendengar mesotelioma, mereka segera memahami bahwa kanker tersebut kemungkinan berasal dari serat asbes yang pernah terhirup tanpa disadari bertahun-tahun lalu. Caroline, yang sebagian besar menghabiskan waktunya sebagai ibu rumah tangga, mulai menampakkan gangguan napas sebelum diagnosis keluar.
Keluarga menjelaskan Caroline pada usia 45 tahun baru pergi berobat setelah merasakan sesak. Pada saat itu, ia belum mengetahui penyebabnya dan dokter pada awalnya memberi penjelasan bahwa Caroline masih mungkin punya beberapa tahun.
Namun, takdir berubah cepat. Caroline meninggal tiga bulan setelah diagnosis, pada usia 46 tahun, lebih cepat daripada perkiraan awal.
Brooklyn mengatakan keluarganya mulai yakin paparan asbes berkaitan dengan masa sekolah menengah Caroline di Cardiff. Dugaan itu mengarah pada lokasi lama Fitzalan High School, tempat Caroline bersekolah pada era awal 1990-an.
Keluarga juga mengaitkan keyakinan itu dengan temuan dokumen yang disebut mengindikasikan asbes dipakai cukup luas di lokasi tersebut pada masa Caroline belajar. Brooklyn menyebut ibunya pernah menyinggung kondisi bangunan yang dinilai tidak baik.
“Mum mentioned that the building wasn’t in good condition,” kata Brooklyn. Ia menggambarkan bahwa sejumlah bagian seperti ubin langit-langit rusak, dan ketika elemen tertentu terganggu muncul debu serta material sisa, walau pada waktu itu Caroline belum memahami apa yang sedang terjadi.
Dalam penelusuran tersebut, keluarga memperoleh dokumen yang menurut mereka menunjukkan asbes berada di berbagai bagian, termasuk area di sekitar pintu, lantai, serta langit-langit.
Langkah hukum dan respons otoritas
Keluarga Caroline membawa gugatan ke High Court terhadap Cardiff Council. Kasus tersebut direncanakan disidangkan pada awal 2027.
Phillip Gower dari Redkite Solicitors, yang mewakili keluarga, menyatakan bahwa “The council’s own documents show that asbestos was used quite extensively in that school.” Ia juga menyebut kondisi gedung dinilai memprihatinkan, dengan kerusakan pada dinding di sekitar pintu, ubin lantai, hingga ubin langit-langit.
Cardiff Council menyatakan tidak tepat untuk berkomentar mengenai kasus Caroline yang tengah berjalan secara hukum. Meski demikian, pihak dewan mengakui dampak mesotelioma yang berat terhadap pasien dan keluarga.
Dalam pernyataan yang disampaikan juru bicara Cardiff Council, mereka ingin memberi penegasan kepada orang tua, staf sekolah, serta publik bahwa pengelolaan asbes pada bangunan dewan, termasuk sekolah, ditangani dengan sangat serius.
Dampak mesotelioma dan kondisi sekolah di Wales
Meski asbes kini dilarang, penyakit terkait masih terus muncul. Di Inggris, asbes pernah menjadi bahan bangunan yang umum sampai bahaya material itu menjadi jelas, lalu dibatasi dan dilarang pada 1999.
Berita Terkait
Menurut Cancer Research UK, mesotelioma adalah jenis kanker ke-20 yang paling umum di Inggris dengan sekitar 2.200 kematian setiap tahun. Kanker ini dapat berkembang dari satu serat asbes yang tersangkut di paru-paru, sering kali dari paparan yang terhirup tanpa disadari puluhan tahun sebelumnya.
Mesotelioma lebih sering dialami pria, terutama mereka yang bekerja di industri berat atau pekerjaan yang secara rutin bersentuhan dengan asbes. Umumnya kematian terkait penyakit ini terjadi pada usia 80-an.
BBC Wales juga mengutip hasil permintaan kebebasan informasi yang menunjukkan banyak sekolah di Wales masih mengandung asbes. Respons dari 20 dari 22 otoritas setempat di Wales menyebut 76% sekolah dasar dan 81% sekolah menengah memiliki bahan yang mengandung asbes (ACMs).
Dalam kerangka itu, pakar epidemiologi menyampaikan keprihatinan terkait perubahan pola kasus dalam beberapa tahun terakhir. Profesor Julian Peto menyebut dua “concerning epidemiological observations” dari data yang lebih baru.
Pertama, jumlah kasus mesotelioma per tahun pada orang di bawah usia 40 tahun di Inggris meningkat dalam lima atau enam tahun terakhir—dari 2,5 kasus per tahun menjadi 5 kasus per tahun. Kedua, ia menilai ada peningkatan risiko mesotelioma yang sedikit tetapi signifikan pada perempuan yang bekerja sebagai guru.
Peto menegaskan temuannya belum bersifat konklusif, tetapi tetap menimbulkan kekhawatiran. Ia menjelaskan dua kemungkinan penyebab yang sering dipertimbangkan. Salah satunya adalah penghapusan asbes dalam jumlah besar di sekolah pada 1980-an yang, dalam prosesnya, justru dapat memaparkan lebih banyak orang pada serat yang berbahaya. Kemungkinan lainnya adalah kondisi asbes di bangunan yang terus menurun dari waktu ke waktu sehingga melepaskan lebih banyak serat dan berisiko memaparkan generasi siswa serta guru berikutnya.
Menurutnya, diperlukan data tambahan untuk memahami arah perubahan tersebut. Bergantung pada hasilnya, bisa jadi lebih banyak penghapusan asbes diperlukan, atau sebaliknya proses penghapusan justru menjadi bagian dari faktor paparan.
Lebih banyak pasien lebih muda dan perempuan
BBC juga mengutip perkembangan di kalangan pengacara yang menangani perkara terkait asbestos. Richard Green dari Hugh James Solicitors menyebut mereka melihat makin banyak perempuan yang mengajukan klaim, dan banyak di antaranya tidak dapat dengan mudah mengidentifikasi di mana mereka pernah terpapar asbes.
Green juga menyampaikan bahwa pihaknya mulai melihat sejumlah orang yang lebih muda menderita mesotelioma. Ia mengatakan dalam sekitar 12 bulan terakhir, terjadi peningkatan jumlah orang yang datang dengan kondisi tersebut di bawah usia 50 tahun.
Green menambahkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, timnya telah menangani tiga klien mesotelioma yang berusia di bawah 40 tahun. Meski begitu, ia menegaskan tetap “exceptionally rare” untuk melihat kasus pada usia di bawah 50 tahun.
Ia menuturkan bahwa hingga sekitar satu dekade lalu, banyak kasus cenderung dialami pria yang bekerja di lingkungan yang bersentuhan langsung dengan asbes. Kini, firma mereka juga mempertimbangkan klaim dari orang yang yakin paparan terjadi di sekolah, baik sebagai siswa maupun sebagai guru.
Helen Wilson, yang kehilangan kakak perempuannya Linda Langhelt akibat mesotelioma, menyebut kabar diagnosis itu “devastating”. Linda adalah guru sains yang telah pensiun dan menjalani karier di Cardiff dan Essex. Ia lebih dulu memeriksakan diri karena sesak, mengira kondisi itu terkait masalah jantung.
Menurut Helen, rumah sakit mengatakan bahwa Linda mungkin telah mengidap penyakit itu 20 atau 30 tahun sebelumnya. “The horrible thing about mesothelioma is that you haven’t a clue that you’ve got it until it’s too late,” katanya. Helen menyampaikan bahwa meski Linda memahami arti diagnosisnya sebagai guru biologi, ia tetap “stoic” hingga akhir.
Linda meninggal pada usia 82 tahun, 18 bulan setelah mengetahui diagnosis mesoteliomanya. Helen menambahkan, “Every one of us has been in buildings from time to time that have asbestos in them.”
Komitmen keselamatan sekolah
Welsh Government menyatakan keselamatan siswa dan staf adalah prioritas utama. Pihak pemerintah menyebut mereka terus mendukung otoritas lokal melalui investasi pada bangunan sekolah, panduan praktis, serta kerja sama erat dengan Health and Safety Executive dan Ystadau Cymru agar sekolah tetap aman, modern, dan sesuai kebutuhan.
Sementara itu, Cardiff Council menyampaikan bahwa mereka memiliki rencana pengelolaan asbes yang kuat dan sudah berjalan. Mereka menyebut bangunan disurvei, catatan asbes dipelihara serta ditinjau secara berkala, dan pemeriksaan dilakukan untuk memantau kondisi material asbes yang diketahui.
Cardiff Council menegaskan komitmennya menyediakan lingkungan aman bagi siswa, staf, dan pengunjung, serta akan terus mengelola asbes sesuai ketentuan hukum yang berlaku dan praktik terbaik yang diakui.












