Hukum & Kriminal

Persidangan bom Lockerbie ditunda untuk ketiga kalinya, dijadwalkan Januari berikutnya

×

Persidangan bom Lockerbie ditunda untuk ketiga kalinya, dijadwalkan Januari berikutnya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Lockerbie bombing trial postponed days before it was due to start

jurnalistik.co.id – Persidangan seorang warga Libya terkait pemboman Lockerbie kembali ditunda untuk ketiga kalinya, setelah muncul bukti baru yang diperlihatkan ke pengadilan hanya beberapa hari menjelang jadwal semula.

Berdasarkan informasi yang disampaikan media, proses penyiapan juri di Washington DC yang sedianya dimulai pada Rabu tidak jadi berjalan, karena hakim menetapkan tanggal awal persidangan pada Januari tahun berikutnya.

Pengacara Abu Agila Mohammad Kheir Al-Marimi menyebut bahwa “newly discovered evidence” yang sebelumnya tidak diketahui pihak pembela maupun jaksa dari pemerintah AS muncul pada Jumat, 21 Agustus. Penundaan dilakukan setelah pihak terkait menilai perkembangan tersebut perlu ditelaah lebih dahulu.

Al-Marimi menolak seluruh tuduhan. Ia menyatakan bahwa ia tidak membangun bom yang menghancurkan Pan Am Flight 103 pada 21 Desember 1988, yang menewaskan 270 orang.

Melalui keterangan pengacara, Al-Marimi menyampaikan posisi bahwa proses harus memberi ruang investigasi terhadap temuan baru. Timnya menyatakan: “Constitutional and ethical obligations require the defence to investigate this development.”

Pengacara juga menjelaskan bahwa mereka bertemu Al-Marimi pada Minggu dan memperoleh persetujuan agar permintaan penundaan diajukan ke pengadilan.

Hakim yang menangani perkara, Dabney Friedrich, menyetujui perubahan tanggal mulai persidangan tersebut. Keputusan ini sekaligus menekankan kemungkinan pentingnya bukti baru bagi jalannya sidang.

Dalam pertimbangan hakim, penundaan yang datang di waktu mendekati jadwal semula menjadi sorotan tersendiri. Hakim Friedrich digambarkan “would have been extremely reluctant to allow an 11th hour postponement after months of preparation and marathon pre-trial legal battles”, yakni ia sangat enggan mengizinkan penundaan mendadak setelah persiapan berbulan-bulan dan rangkaian pertempuran hukum menjelang persidangan.

Bagi keluarga korban dan Al-Marimi sendiri, penundaan terakhir ini membuat kemungkinan putusan tidak segera muncul. Karena perubahan jadwal, vonis diperkirakan baru dapat hadir pada musim semi tahun depan.

Kasus Lockerbie sendiri telah melalui banyak liku sejak peristiwa pemboman terjadi hampir empat dekade lalu. Pan Am 103 saat itu terbang dari Heathrow menuju New York, ketika bom meledak di palka depan pesawat, memecah pesawat di ketinggian sekitar 31.000 kaki.

Seluruh 259 penumpang dan kru di dalam pesawat meninggal dunia. Selain itu, ada 11 orang yang juga meninggal di Lockerbie ketika reruntuhan jatuh ke permukiman.

Dari para korban, 190 di antaranya adalah warga Amerika Serikat dan 43 berasal dari Inggris. Hampir empat dekade setelah insiden tersebut, pemboman itu tetap tercatat sebagai serangan teror terburuk serta pembunuhan massal paling besar dalam sejarah modern Inggris.

Perjalanan jadwal sejak penahanan Al-Marimi

Al-Marimi telah berada dalam tahanan AS sejak 2022. Ia semula dijadwalkan menjalani persidangan pada Mei 2025, sebelum akhirnya tanggal itu dicabut.

Pembatalan jadwal pada Mei 2025 terjadi setelah permintaan bersama dari pihak penuntutan dan pembela. Dalam permohonan tersebut, kompleksitas perkara dan kondisi kesehatan Al-Marimi disebut sebagai alasan utama.

Setelah itu, sidang sempat diproyeksikan berlangsung pada April tahun ini. Namun, rencana tersebut kembali batal, setelah pihak pembela meminta tambahan waktu agar persiapan dapat diselesaikan secara memadai.

Dalam perkara ini, penegakan hukum dilakukan melalui kerja sama lintas negara. Penyidikan terkait pemboman Lockerbie sudah menjadi bagian dari investigasi bersama Skotlandia dan AS sejak Desember 1988.

Penuntut dari Crown Office dan penyidik dari Police Scotland sebelumnya dijadwalkan berangkat ke Washington untuk mengikuti persidangan. Saksi dari Skotlandia juga diharapkan termasuk yang pertama memberi keterangan di ruang sidang.

Laura Buchan, kepala tim investigasi Lockerbie di Crown Office dan Procurator Fiscal Service, menyampaikan bahwa ia memahami penundaan akan mengecewakan pihak keluarga. Ia mengatakan: “I recognise that this adjournment will be disappointing for the families and for those who have followed this case over many years.”

Ia menambahkan, karena perkara masih berada dalam proses pengadilan, tidak pantas baginya mengomentari alasan penundaan. Buchan juga menyatakan: “Although these proceedings are being led by the United States authorities, Scottish prosecutors and police officers remain fully committed to supporting the pursuit of justice.”

Jejak perkara lama dan perubahan fokus pembuktian

Al-Marimi dituduh melakukan serangan bersama dua warga Libya lainnya yang pernah menghadapi pengadilan di Skotlandia pada Mei 2000.

Pada persidangan pertama tersebut, tiga hakim mendengar perkara di Camp Zeist, sebuah bekas pangkalan angkatan udara AS di Belanda. Setelah menjalani proses selama delapan bulan, pengadilan menyimpulkan bahwa peristiwa itu merupakan tindakan terorisme yang disponsori negara, dilakukan oleh anggota dinas intelijen Libya.

Pengadilan kemudian menjatuhkan vonis kepada salah satu terdakwa, Abdulbasset Al-Megrahi, atas pembunuhan massal dan menjatuhkannya pada hukuman penjara seumur hidup.

Al-Megrahi meninggal karena kanker pada 2012. Ia dibebaskan atas dasar pertimbangan kemanusiaan melalui skema pembebasan yang diberikan pemerintah Skotlandia.

Komisi Peninjauan Kasus Pidana Skotlandia (Scottish Criminal Cases Review) kemudian dua kali merujuk kembali kasus Megrahi ke pengadilan banding, namun keputusan tetap dipertahankan.

Terdakwa Libya kedua, Al Amin Khalifah Fhimah, dinyatakan tidak bersalah (acquitted) dan kembali ke rumahnya. Ia disambut sebagai pahlawan di Tripoli.

Sementara itu, pemerintah AS menyatakan bahwa Al-Marimi pernah mengaku melakukan pemboman terhadap pesawat tersebut bersama Megrahi dan Fhimah saat ia diwawancarai di sebuah fasilitas penahanan di Libya pada 2012.

Pengakuan yang diduga itu kemudian diserahkan kepada penyelidik Skotlandia pada 2017 dan menjadi bagian penting dalam konstruksi penuntutan pada persidangan saat ini.

Al-Marimi menolak klaim tersebut. Ia menyatakan bahwa pengakuannya tidak benar dan dibuat karena tekanan atau paksaan. Meski demikian, hakim Dabney Friedrich memutuskan bahwa pengakuan itu dapat diterima sebagai alat bukti dalam persidangan.

Dengan jadwal yang kini bergeser ke Januari, fokus persidangan akan menyesuaikan perkembangan terbaru, termasuk bukti yang disebut muncul tiga hari sebelum sidang sedianya dimulai.