jurnalistik.co.id – Seorang penumpang menceritakan pengalaman saat sebuah pesawat yang sedang terbang menuju Israel mengalami penurunan drastis dalam waktu sangat singkat, hingga turun 17.000 kaki (5.200 meter) dalam kurang dari dua menit sebelum akhirnya dialihkan.
Menurut keterangan penumpang tersebut, insiden itu terjadi ketika pesawat berada dalam penerbangan menuju Israel.
Penumpang yang berada di dalam pesawat, Flight FZ1073, menyampaikan bahwa laju penurunannya terasa sangat tidak biasa, seolah seperti permainan.
Turun cepat di ketinggian
Dalam kurang dari dua menit, pesawat itu jatuh sejauh 17.000 kaki (5.200 meter). Kecepatan perubahan ketinggian tersebut membuat penumpang merasakan momen yang ekstrem dan sulit dipahami.
Penumpang kemudian menggambarkan situasi yang ia alami menggunakan perumpamaan “rollercoaster”, yang berarti sensasinya seperti wahana.
Ia menyebut bahwa perasaan itu muncul saat kejadian sedang berlangsung di dalam pesawat.
Peristiwa yang memicu insiden
Penumpang menyatakan bahwa insiden tersebut terjadi ketika seorang pilot diduga menikam kopilot di dalam pesawat.
Dalam narasi yang disampaikan, penjelasan mengenai keterjadian ini berkaitan dengan momen ketika pesawat mulai mengalami penurunan tajam.
Setelah kejadian itu, situasi di kokpit berubah dan proses penerbangan tidak lagi berjalan seperti semestinya.
Penumpang mengambil alih dan upaya pendaratan
Setelah beberapa penumpang mengatakan bahwa mereka mengambil alih kendali penerbangan, pesawat kemudian diarahkan untuk pengendalian lebih lanjut.
Berita Terkait
Dua pilot lain yang berada di bagian belakang pesawat dilaporkan maju untuk membantu upaya pendaratan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengendalikan pesawat setelah gangguan di ruang kendali.
Pesawat dialihkan ke Arab Saudi
Setelah beberapa penumpang melaporkan mereka sempat menguasai kendali, pesawat kemudian dialihkan menuju Arab Saudi.
Pengalihan ini dilakukan setelah upaya di dalam penerbangan berjalan, termasuk keterlibatan dua pilot lain yang datang ke depan untuk membantu proses pendaratan.
Rangkaian kejadian itu, mulai dari penurunan ketinggian yang sangat cepat hingga perubahan kendali di dalam pesawat, akhirnya bermuara pada keputusan pengalihan ke tujuan lain.
Penumpang yang sama kemudian menegaskan bahwa sensasi yang ia rasakan adalah seperti “rollercoaster”, mencerminkan betapa cepatnya perubahan kondisi saat pesawat turun.
Dengan informasi yang ia bagikan, cerita ini menggambarkan bahwa penerbangan yang semula menuju Israel berubah arah setelah insiden serius terjadi, di tengah situasi darurat yang berlangsung sangat singkat.
Ia juga menyoroti bahwa keputusan untuk mengarahkan pesawat ke Arab Saudi tidak datang dalam waktu lama, melainkan mengikuti peristiwa di dalam kabin dan langkah-langkah pengendalian yang dilakukan setelah penurunan tersebut terjadi.
Dalam pengalamannya, penurunan itu tidak hanya terjadi secara bertahap, melainkan seolah-olah pesawat langsung “jatuh” dalam rentang waktu yang amat singkat. Ia menekankan bahwa jarak ketinggian yang berubah sangat besar membuat banyak penumpang sulit menafsirkan apa yang sebenarnya berlangsung.
Penumpang lain kemudian ikut menggambarkan bahwa suasana di kabin berubah cepat saat pesawat mulai kehilangan pola penerbangan yang biasa. Ia mengaku sensasi yang muncul terasa tidak masuk akal, dan gambaran “rollercoaster” dipakainya untuk menekankan betapa cepatnya perubahan kondisi yang ia rasakan secara langsung.
Menurut narasi tersebut, dugaan gangguan di kokpit menjadi titik balik setelah insiden penurunan tajam terjadi. Setelah itu, pengaturan kendali tidak lagi berjalan seperti seharusnya, sehingga beberapa penumpang merasa perlu mengambil bagian dalam proses pengendalian sambil menunggu upaya bantuan dari kru.
Ia juga menjelaskan bahwa upaya pengendalian dilakukan beriringan dengan kedatangan dua pilot lain dari bagian belakang pesawat. Peran yang bergeser itu dipaparkan sebagai bagian dari strategi untuk menstabilkan kondisi dan menyiapkan penerbangan menuju upaya pendaratan, meskipun situasi darurat berlangsung cepat.
Setelah rangkaian langkah tersebut berjalan, keputusan pengalihan ke Arab Saudi kemudian dilakukan. Dalam penuturannya, perubahan rute bukan keputusan yang muncul dari awal tanpa proses, melainkan mengikuti urutan kejadian di dalam pesawat—mulai dari penurunan ketinggian yang drastis hingga pergantian kendali di kabin dan kokpit—hingga akhirnya pesawat diarahkan ke tujuan lain.
