Internasional

Alasan Anak Muda Inggris Berbondong-bondong ke Jepang

×

Alasan Anak Muda Inggris Berbondong-bondong ke Jepang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Why young Brits are going to Japan

jurnalistik.co.id – JEPANG — Klip perjalanan Jepang makin sering muncul di linimasa anak muda Inggris, mulai dari foto Gunung Fuji, semangkuk ramen hangat, hingga keramaian Shibuya Crossing. Tren ini ikut mendorong lonjakan minat berkunjung, terutama di kalangan usia 20-an hingga 30-an.

Seiring waktu, kebiasaan menelusuri TikTok dan Instagram membuat sejumlah orang merasa Jepang hadir setiap hari. Alex Baker, yang sudah tiga kali ke Jepang, menggambarkan pengalamannya saat membuka media sosial.

“I cannot scroll through TikTok or Instagram without seeing videos of people in [convenience store] 7-11 and trying all the different skincare and trying all the snacks and the viral sandwiches and the viral drinks and going to all the viral restaurants,” kata Alex Baker.

BBC mencatat adanya peningkatan besar kunjungan wisatawan Inggris ke Jepang. Data dari Japanese National Tourism Organization menunjukkan 483,157 wisatawan Inggris berkunjung pada 2025, naik 24.8% dibanding 2024, dan naik 40.8% dibanding 2019 yang menjadi patokan sebelum pandemi.

Untuk 2026, data sementara mengindikasikan jumlah tersebut terus bertumbuh. Peningkatan ini selaras dengan pemulihan pariwisata ke Jepang sejak pandemi, dengan angka pengunjung asing pada 2025 mencapai rekor.

Ketika berbicara dengan para wisatawan muda yang diwawancarai, alasan yang mereka sebutkan beragam. Mereka menyebut cityscapes, makanan, anime, alam, sejarah, permainan video, kuil-kuil, hingga wisata bertema budaya.

Namun, mereka sepakat bahwa media sosial menjadi pendorong utama. Maitri Sanghvi mengatakan pengaruh itu terasa langsung saat menggulirkan konten.

Ketika Maitri Sanghvi menelusuri TikTok, ia menyatakan bahwa “Japan just kept popping up,”. Hal itu menjadi salah satu dorongan kuat baginya untuk berangkat.

Maitri, 24 tahun, bersama pacarnya pergi selama tiga minggu lebih awal tahun ini. “Seeing [Japan] on social media restarted my urge of wanting to go,” ujarnya.

Di TikTok maupun Instagram, pencarian bertema perjalanan Jepang dipenuhi berbagai tayangan. Mulai dari visual Mount Fuji, semangkuk ramen yang mengepul, ide itinerary, hingga desa-desa kecil di Pegunungan Jepang Alps, gerbang torii Fushimi Inari di Kyoto, lampu neon Dotonbori di Osaka, hingga suasana kacau Shibuya Crossing.

Menurut Aden Ibrahim, 29 tahun, dampak video orang lain juga memengaruhi keputusan untuk berkunjung. “Seeing other people’s Japan videos definitely influenced my decision to go,” katanya.

Setelah bepergian bersama teman-temannya pada Juli lalu, Aden terus memublikasikan video TikTok perjalanannya. Ia bahkan masih mengunggah konten tersebut lebih dari setahun kemudian, termasuk caption berjudul “Japan made it out the group chat” yang ditonton 1.1 juta kali.

Yen yang melemah membuat perjalanan terasa lebih terjangkau

Meski peluang tiket dan biaya menggiurkan, perjalanan ke Jepang tetap bukan pilihan murah bagi banyak orang. Rute penerbangan pulang-pergi di luar musim dengan transit di Tiongkok disebut mulai sekitar ÂŁ450 menggunakan maskapai berbiaya rendah.

Di sisi lain, pelemahan yen dinilai membuat biaya saat berada di lokasi menjadi lebih ringan. Namun, kenaikan harga tetap memberi tekanan bagi penduduk setempat.

Pada Juli, yen jatuh ke level terendah dalam 40 tahun. Faye Jawad, 26 tahun, yang meninjau restoran melalui TikTok, membandingkan harga makanan saat ia berkunjung tahun lalu.

“You can literally get a bowl of life-changing ramen for ÂŁ3/ÂŁ4 compared to a rubbish one here for like ÂŁ20,” kata Faye Jawad.

Ia menilai makan di Jepang ternyata lebih terjangkau dari ekspektasi. Vivek Haria, 26 tahun, yang sudah merencanakan perjalanan pada musim gugur tahun ini, menyampaikan alasan serupa terkait nilai tukar.

“When the yen was weakening, I thought ‘actually this is a good time to go, things are going to be cheap’,” ujarnya. Ketertarikan Vivek pada budaya Jepang membuatnya ingin berkunjung sejak lama, termasuk belajar bahasa dan ikut bernyanyi di UK-Japan Choir.

Harga yang lebih rendah juga membuat beberapa wisatawan lebih leluasa berbelanja oleh-oleh. Di media sosial, video orang memperlihatkan “haul” Jepang seperti KitKats berperisa, alat tulis, dan pakaian menjadi konten yang populer.

Sam Corbett, 23 tahun, mengalami efek yang sama saat berada di Jepang pada Mei. Ia membeli banyak suvenir—termasuk makanan ringan, matcha, pakaian, dan skincare—hingga harus membeli koper tambahan yang diisi penuh.

Sam menyebut semuanya sangat terjangkau: “really affordable,”. Ia juga menunjukkan bahwa kemudahan belanja dan rasa “murah” turut menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.

Jalur populer “Golden Route” disukai, tetapi muncul debat overtourism

Mayoritas wisatawan Inggris yang diwawancarai mengikuti rute yang disebut “Golden Route”, yaitu Tokyo, Kyoto, dan Osaka. Rute ini sering disertai perjalanan sehari ke destinasi terdekat seperti Nara, Hiroshima, dan Mount Fuji.

Ada alasan jelas mengapa banyak orang memilih jalur tersebut. Kota-kota itu relatif mudah dihubungkan, sekaligus dipenuhi atraksi besar yang memang terkenal.

Namun, perilaku wisatawan yang dianggap bermasalah memicu perdebatan tentang overtourism. Chiyuki Izumii, pemandu wisata untuk Japan Guide Agency, menilai perilaku wisatawan memburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Ia menyatakan bahwa walau sebagian besar pelanggannya sopan, ia juga melihat contoh tindakan yang tidak pantas. Contohnya, wisatawan melompat antrean bus, menghalangi ruang di dalam kendaraan dengan koper berukuran besar, mengukir inisial di pohon di hutan bambu Kyoto, berbicara keras pada malam hari, hingga masuk ke area terbatas untuk mengambil foto.

Sejumlah otoritas bahkan mulai melakukan pengetatan. Fujikawaguchiko, sebuah kota dekat Mount Fuji, membatalkan festival bunga sakura tahun ini setelah berulang kali menghadapi masalah dari wisatawan yang berperilaku tidak semestinya.

Di Tokyo, wilayah Shibuya yang menjadi lokasi terkenal Shibuya Crossing mulai mengeluarkan denda langsung untuk pelanggaran seperti membuang sampah pada bulan Juni.

Jepang juga menaikkan pajak wisatawan internasional pada bulan Juli. Pajak tersebut—yang biasanya masuk dalam tiket pesawat dan kapal—naik dari 1,000 yen (£4.60) menjadi 3,000 yen, dan pemerintah menyatakan dana itu akan digunakan untuk meningkatkan transportasi publik serta memulihkan situs bersejarah.

Keramaian mengejutkan, tapi sebagian wisatawan justru menganggapnya bagian dari daya tarik

Sejumlah pengunjung mengaku terkejut dengan seberapa padat kota-kota besar di Jepang. Millie Dring, penggemar anime berat yang berangkat pada November untuk merayakan ulang tahun ke-21 bersama seorang teman, mengatakan ia sudah siap menghadapi keramaian.

“I was prepared for it to be busy but I didn’t expect it to be as busy as it was,” ujarnya. Ia juga menceritakan bahwa taman hiburan DisneySea di dekat Tokyo sangat padat sehingga ia dan temannya hanya sempat mencoba satu wahana dengan antrean selama tiga jam.

Ia merasa kewalahan oleh kerumunan tersebut. Millie juga menempatkan pengalaman itu sebagai gambaran bahwa ekspektasi orang kerap tak sejalan dengan kondisi lapangan.

Sam mengaitkan sebagian kerumunan di destinasi wisata populer dengan hype di media sosial. Ia bahkan menyesal mengunjungi beberapa tempat hanya karena viral di internet.

Ia menceritakan satu spot makanan penutup di Kyoto yang sangat ramai setelah ia melihatnya “all over social media”. “and there wasn’t a single local person in the queue,” katanya.

Menurut Sam, tempat-tempat seperti gerbang torii di Hakone dan hutan bambu Arashiyama juga dipenuhi kerumunan yang datang demi foto yang “Instagram-perfect”. Ia menilai daya tarik visual tersebut memancing banyak orang ke lokasi yang sama.

Meski demikian, bagi sebagian pengunjung, suasana ramai dan hiruk-pikuk destinasi wisata justru menjadi bagian dari pengalaman. Laura McGregor, 29 tahun, menghabiskan dua minggu di Tokyo dan Osaka pada November untuk bulan madu.

Ia menyatakan ada “snobbiness” di kalangan tertentu yang ingin menghindari tampak sebagai wisatawan. “I think there’s a snobbiness around being a tourist over the past couple of years where people want to avoid looking like one,” katanya.

Rencana Laura mencakup Disney dan Universal, menghadiri acara sumo, mengunjungi Fuji dan Hiroshima, serta menyewa go-karts untuk berkeliling di Tokyo. “Of course I want to experience an authentic side of Japan but I’m excited to embrace the tourist side too and go along with it,” ujar Laura.