jurnalistik.co.id – Negara produsen kopi pada dasarnya adalah negara yang membudidayakan, memanen, dan mengolah biji kopi untuk konsumsi dalam negeri sekaligus ekspor. Mengacu pada data Statistik Tanaman FAO tahun 2021, konsentrasi produsen utama berada di kawasan Amerika Latin, Asia, dan Afrika.
Dalam data FAO tersebut, Amerika Latin menonjol sebagai pusat produksi kopi dunia. Kawasan ini mencakup Brasil, Kolombia, Meksiko, Honduras, Guatemala, dan Peru, dengan kontribusi sebesar 55,5% terhadap produksi kopi global.
Amerika Latin juga tercatat menyumbang 80% kopi Arabika dunia. Karena itu, karakter komoditas di wilayah tersebut banyak dipengaruhi oleh ragam varietas dan praktik budidaya yang berbeda-beda di tiap negara.
Pola produksi kopi umumnya tidak seragam. Setiap negara menjalankan cara pertanian, pemanenan, dan pengolahan yang khas sesuai kondisi wilayah, termasuk perbedaan jenis biji yang dibudidayakan.
Di saat yang sama, tidak semua kawasan memiliki peran besar sebagai penghasil. Sebagian besar negara Eropa disebut tidak memproduksi kopi dalam skala yang berarti, sehingga produksi global lebih banyak bertumpu pada belt wilayah tropis.
Dalam konteks belt tersebut, Brasil menjadi contoh paling menonjol. Perkebunan kopi tumbuh di area yang disebut “Sabuk Kopi” (Coffee Belt), yaitu kawasan di sekitar garis khatulistiwa antara 25° LU hingga 30° LS.
Brasil
Brasil disebut sebagai produsen kopi terbesar di dunia. Mengutip Colipse Coffee, Brasil menyumbang sekitar sepertiga produksi global, berdasarkan rujukan Dinas Pertanian Luar Negeri USDA.
Untuk tahun pemasaran 2024/2025, Brasil diproyeksikan menghasilkan 69,9 juta karung kopi ukuran 60 kg. Namun, USDA Foreign Agricultural Service kemudian merevisi angka tersebut menjadi 66,4 juta karung untuk periode yang sama.
Revisi itu berarti sekitar 5% lebih rendah dari perkiraan awal, terutama dipengaruhi kekeringan serta kebakaran hutan yang berdampak pada tanaman kopi. Wilayah produksi utama Brasil berada di Minas Gerais, São Paulo, dan Paraná.
Dari sisi jenis biji, Brasil memproduksi Arabika dan Robusta. Varietas yang umum dibudidayakan meliputi Mundo Novo, CatuáĂ, Bourbon, dan Typica.
Praktik budidaya kopi yang lazim di Brasil mencakup penanaman dengan pohon peneduh. Contohnya pohon pisang dan tanaman legum, yang juga dipadukan dalam sistem tumpang sari dengan tanaman lain seperti jagung atau kacang-kacangan.
Periode panen berlangsung antara Mei hingga September. Metode yang digunakan mencakup pemetikan selektif, yakni mengambil buah yang sudah matang, serta pemetikan seluruh buah pada satu cabang sekaligus.
Untuk pengolahan, metode yang disebut paling umum adalah natural. Pada skema natural, buah kopi dikeringkan secara utuh.
Selain natural, Brasil juga dikenal memakai pulped natural. Dalam metode ini, sebagian daging buah dibuang sebelum proses pengeringan dilakukan.
Dominasi Brasil tidak hanya tercermin dari angka produksi. Brasil juga telah menjadi produsen sekaligus eksportir kopi terbesar selama lebih dari 150 tahun, yang ikut memperkokoh posisinya di pasar kopi global.
Berita Terkait
Vietnam
Vietnam berada di urutan berikutnya sebagai produsen kopi terbesar kedua. Menurut data International Coffee Organization, Vietnam juga menjadi produsen utama kopi Robusta yang menyumbang sekitar 40% dari produksi global.
Pada tahun panen 2022/2023, Vietnam memproduksi 29,75 juta karung kopi ukuran 60 kg berdasarkan rujukan USDA Foreign Agricultural Service. Untuk tahun panen 2024/2025, produksi diperkirakan mencapai 29 juta karung ukuran 60 kg.
Proyeksi tersebut menunjukkan penurunan tipis sekitar 2,5% dibandingkan tahun 2022/2023. Dari sisi wilayah, Dataran Tinggi Tengah (Central Highlands) menjadi pusat produksi yang paling dominan.
Central Highlands mencakup provinsi Dak Lak, Lam Dong, dan Gia Lai, serta menghasilkan lebih dari 90% dari total output kopi Vietnam. Jenis biji kopi utama di Vietnam adalah Robusta dan Arabika, dengan Robusta mencakup lebih dari 95% dari total produksi.
Untuk varietas, Centre for the Promotion of Imports from Developing Countries (CBI) mencatat beberapa nama yang banyak dibudidayakan. Pada kelompok Robusta, varietasnya meliputi TR4, TR9, dan SE1, sedangkan untuk Arabika disebut Catimor.
Praktik budidaya juga banyak dipengaruhi pola paparan cahaya. Budidaya dengan paparan sinar matahari penuh disebut sebagai praktik pertanian yang paling umum, meskipun sebagian perkebunan tetap memakai pohon peneduh.
Dalam proses panen, buah kopi yang matang dipetik secara selektif dengan tangan. Proses ini membutuhkan banyak tenaga kerja, dan menjadi bagian penting dari rantai produksi di lapangan.
Musim panen Vietnam umumnya berlangsung dari Oktober hingga Desember, dengan variasi waktu di berbagai wilayah. Pada pengolahan, metode pemrosesan alami—yakni buah kopi dikeringkan secara utuh di bawah sinar matahari—disebut sebagai yang paling umum menurut CBI.
Kolombia
Kolombia diakui secara global sebagai produsen utama kopi Arabika berkualitas tinggi. Pada tahun 2022, Kolombia memproduksi 11,1 juta karung kopi ukuran 60 kg.
Angka tersebut menempatkan Kolombia sebagai produsen kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Vietnam, merujuk pada ICO (2023). Lalu, pada Tahun Pemasaran (MY) 2024/2025, produksi meningkat menjadi 14,8 juta karung menurut USDA FAS.
Kenaikan itu sekitar 33% dibandingkan tahun 2022. Sebagian besar kopi Kolombia ditanam di kawasan “Coffee Cultural Landscape” (Lansekap Budaya Kopi), sebuah wilayah pegunungan Andes yang dikenal memiliki kondisi ideal untuk pertumbuhan kopi.
Di Kolombia, jenis biji kopi yang disebut utama adalah Arabika. Varietas yang paling umum meliputi Caturra, Castillo, Colombia, dan Typica.
Secara keseluruhan, tiga negara yang dibahas tersebut menunjukkan bagaimana produksi kopi global dipengaruhi kombinasi wilayah, varietas, serta metode budidaya dan pengolahan. Dari Brasil yang bertumpu pada sabuk kopi, Vietnam dengan dominasi Robusta dari Central Highlands, hingga Kolombia yang menonjolkan Arabika berkualitas tinggi di Andes, pola perbedaannya tampak jelas pada data produksi dan praktik yang dijelaskan.
Dengan kerangka itu, pembahasan tentang peringkat negara penghasil kopi dapat dipahami sebagai hasil dari konsentrasi produksi pada wilayah-wilayah tertentu, sekaligus efek dari kondisi iklim, karakter varietas, dan cara pengolahan yang diterapkan. Data FAO 2021 yang menempatkan produksi utama di Amerika Latin, Asia, dan Afrika membantu menjelaskan mengapa peta kopi dunia tidak merata, dan mengapa beberapa kawasan lain disebut minim produksi.












