Internasional

Park Chae-seo Diduga Menyadap Obrolan Rahasia di Istana Kim Jong Il dengan Perekam Tersembunyi

×

Park Chae-seo Diduga Menyadap Obrolan Rahasia di Istana Kim Jong Il dengan Perekam Tersembunyi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Obrolan Rahasia di Istana Diam-Diam Disadap Pakai Perekam di Penis

jurnalistik.co.id – Kisah Park Chae-seo menggambarkan operasi intelijen yang melampaui batas-batas kelaziman, terutama ketika ia berada begitu dekat dengan pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Il. Dalam satu pertemuan rahasia, ia membawa perangkat perekam yang disembunyikan di alat vitalnya untuk menangkap percakapan penting yang berlangsung di ruangan itu.

Park Chae-seo digambarkan sebagai pria yang menyamar sebagai pengusaha demi menjalankan misi berisiko tinggi. Akses yang ia raih dari penyamarannya membawanya masuk ke lingkaran elite negara tersebut, hingga akhirnya memperoleh kesempatan bertemu langsung dengan Kim Jong Il.

Perjalanan Park sebagai agen rahasia bermula pada 1993. Saat masih aktif sebagai tentara, ia direkrut oleh Badan Intelijen Korea Selatan untuk menjalankan misi penting, yakni membongkar program senjata nuklir Korea Utara. Agar kegiatannya tidak terdeteksi, Park harus membangun profil yang membuatnya tampak seperti pihak yang tidak patut dipercaya, sekaligus merusak jejak reputasi serta karier militernya sendiri.

Menurut uraian yang dikutip dalam laporan tersebut, Park sengaja membentuk citra sebagai tentara bermasalah. Ia digambarkan sering membangkang atasan, gemar berjudi, mengejar wanita, hingga terjerat utang yang menumpuk. Pola itu berujung pada keputusan pemecatan dari militer, sehingga identitas aslinya kian tertutup oleh cerita yang ia ciptakan sendiri.

Setelah tersingkir dari institusi militernya, Park kemudian berpindah peran menjadi seorang pengusaha. Dari bekal identitas baru itu, ia membangun jaringan dagang di China untuk mendekati serta berinteraksi dengan para pengusaha asal Korea Utara. Langkah berikutnya membawanya pada figur kunci, yakni Jang Song-thaek, saudara ipar Kim Jong Il.

Hubungan Park dengan Jang Song-thaek menguat melalui bantuan dalam sebuah urusan bisnis. Setelah merasakan manfaat dari kehadiran Park, Jang memberikan kepercayaan penuh kepadanya. Jang tidak hanya memfasilitasi akses Park untuk berbisnis langsung di wilayah Korea Utara, tetapi juga memperkenalkannya kepada jajaran elite politik Pyongyang.

Dalam pernyataannya, Park menyebut bahwa misinya berfokus pada kedalaman pemahaman terhadap cara pandang kepemimpinan Pyongyang. Ia mengutip kalimat yang disampaikan Park kepada New York Times, dikutip pada Sabtu (07/11/2026): “Misi saya adalah menembus sedalam mungkin ke dalam kepemimpinan Pyongyang untuk mengetahui apa yang sebenarnya mereka pikirkan.”

Meski beberapa kali dicurigai oleh otoritas Korea Utara, Park disebut selalu berhasil lolos dari ancaman eksekusi. Kunci keberhasilannya terletak pada kemampuan beradaptasi sekaligus cara membaca kelemahan pihak yang ia hadapi. Salah satu triknya adalah menjual barang-barang antik kepada penguasa, termasuk keramik antik dengan nilai senilai jutaan dolar.

Dalam laporan itu, Park juga menyinggung pola pikir yang membuat operasinya bisa berjalan. Ia mengatakan, “Jika saya berhasil, itu karena saya sangat memahami betapa besarnya selera mereka terhadap uang.” Kalimat tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan Park tidak berhenti pada penyamaran semata, melainkan berangkat dari strategi yang memanfaatkan minat dan preferensi pihak sasaran.

Puncak Operasi: Perekam di Pertemuan Pribadi

Bagian paling menentukan dari operasi intelijen Park terjadi saat ia diundang menghadiri pertemuan pribadi dengan Kim Jong Il. Dalam audiensi yang berlangsung 35 menit, Park membawa alat perekam yang disembunyikan di alat vitalnya. Pertemuan berisiko tinggi itu dinyatakan berjalan sukses, karena seluruh percakapan rahasia Kim Jong Il berhasil direkam.

Hasil rekaman tersebut kemudian dikirim ke Seoul. Pencapaian ini menempatkan Park sebagai salah satu dari sangat sedikit mata-mata yang mampu berdiri begitu dekat dengan pemimpin tertinggi musuh. Keberhasilan tersebut juga menjadi penanda bahwa penyamarannya sebagai pengusaha, yang berinisial “Black Venus”, benar-benar mampu menembus lapisan yang paling tertutup.

Black Venus Terbongkar karena Skandal Politik

Uniknya, identitas Park sebagai “Black Venus” tidak terbongkar melalui upaya intelijen Korea Utara. Sebaliknya, laporan itu menekankan bahwa pembongkaran justru terjadi akibat dinamika politik di dalam negeri. Mengutip Korean Herald, pada 1997, menjelang Pemilihan Presiden Korea Selatan, muncul skandal politik yang mengungkap adanya dugaan kerja sama tertutup antara oknum badan intelijen Korea Utara dan Korea Selatan.

Dalam skandal tersebut, kedua pihak disebut sama-sama tidak menginginkan kandidat Kim Dae-jung memenangkan pemilihan presiden. Mengetahui konspirasi itu, Park dikisahkan memilih membelot dari institusinya. Ia lalu membocorkan rencana tersebut kepada kubu Kim Dae-jung, hingga informasi itu akhirnya meluas ke publik.

Buntut dari skandal itu, para pimpinan badan intelijen Korea Selatan ditangkap. Namun sebelum dijebloskan ke penjara, laporan menyebut mereka membalas dendam dengan membocorkan identitas Park sebagai agen rahasia “Black Venus” kepada media. Ketika identitasnya terlanjur terbuka, Park terpaksa melarikan diri ke China.

Akhir dari kisah tersebut kemudian disebut terjadi pada 2010, ketika Park ditangkap oleh militer. Rangkaian peristiwa sejak 1993 hingga 2010 menggambarkan bahwa operasi intelijen Park tidak hanya dipenuhi tantangan teknis di lapangan, tetapi juga ditentukan oleh perubahan arah politik yang sulit diprediksi.