Internasional

AS menegur Israel seusai serangan udara ke pangkalan udara Suriah, menyebutnya ‘unnecessary escalation’

×

AS menegur Israel seusai serangan udara ke pangkalan udara Suriah, menyebutnya ‘unnecessary escalation’

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: US condemns 'unnecessary escalation' after Israeli airstrikes on Syrian airbase

jurnalistik.co.id – Amerika Serikat menegur keras Israel setelah laporan menyebut serangan udara dilakukan ke pangkalan udara militer Suriah, terutama di area Abu al-Duhur dekat perbatasan Turki. Washington menyebut serangan itu sebagai “unnecessary escalation” yang dinilai tidak membantu stabilitas kawasan.

Menurut laporan televisi negara Suriah, delapan serangan udara menghantam landasan pacu bandara serta fasilitas penyimpanan di Abu Duhur pada hari Selasa. Tidak ada laporan mengenai korban jiwa dari serangan tersebut.

Israel tidak memberikan komentar langsung mengenai serangan itu. Namun kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan Suriah “was on the verge of breaching” status quo keamanan, dengan tuduhan Damaskus mengizinkan pasukan Turki ditempatkan di sebuah pangkalan udara dekat Aleppo.

Di sisi lain, Suriah dan Turki sama-sama menyalahkan militer Israel sebagai pihak yang menyerang. Mereka menyebut serangan tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut.

Tom Barrack, duta besar AS untuk Turki sekaligus yang ditunjuk sebagai special envoy untuk Suriah dan Irak, ikut menilai serangan itu. Dalam pernyataan yang ia unggah di media sosial, Barrack menulis bahwa serangan Israel yang terkonfirmasi ke Abu al-Duhur Airbase merupakan “an unnecessary escalation that does not advance regional stability”.

Netanyahu juga merilis pernyataan versi Israel terkait kesepakatan keamanan. Isinya menyebut “Israel and Syria agreed to a status quo in security matters, which Syria was on the verge of breaching by permitting Turkish troops to deploy at an airbase near Aleppo.”

Kementerian luar negeri Suriah membalas dengan bahasa yang lebih keras. Suriah menyebut serangan Israel sebagai “an unjustified act of aggression” yang dinilai membahayakan keamanan dan stabilitas kawasan.

Sementara itu, pemerintah Turki tidak mengonfirmasi apakah ada pergeseran pasukan ke Abu Duhur. Ankara juga menolak anggapan Israel bahwa keberadaan atau penempatan Turki merupakan ancaman.

Direktorat Komunikasi Turki menyampaikan bantahan yang dikutip Anadolu, dengan menyatakan tuduhan dari kantor Perdana Menteri Israel “aim to legitimize Israel’s unlawful airstrikes targeting Syria’s sovereignty and territorial integrity”.

Abu Duhur sendiri disebut sudah tidak berfungsi sebagai pangkalan udara militer khusus sejak 2013. Pasukan pemberontak kemudian mengambil alih kendali pangkalan tersebut saat mereka bergerak menembus wilayah di akhir 2024, tepatnya pada bulan Desember.

Setelah kejatuhan pemerintahan Bashar al-Assad, Suriah terus berupaya membangun kembali fasilitas militer yang rusak akibat blitz offensive. Proses itu terjadi ketika pemerintahan Assad jatuh dalam kurun waktu dua minggu.

Turki disebut memberikan bantuan militer kepada Suriah sejak penggulingan Assad. Dalam narasi Israel, kedua negara dipandang dengan tingkat kecurigaan yang mendalam, sehingga dinamika di sekitar pangkalan-pangkalan kunci menjadi perhatian utama.

Israel juga disebut melakukan serangan udara ke bagian tertentu di Suriah bagian tengah dan selatan sejak Al-Sharaa datang ke tampuk kekuasaan. Serangan terbaru disebut menjadi yang paling menonjol sejak bulan Maret.

Barrack menambahkan konteks politik yang disorot dalam penilaiannya. Ia mengatakan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa “has neither adopted not maintained proxy forces” dan “repeatedly indicated a preference for de-escalation with Israel”.

Menurut Barrack, AS juga berencana terus menawarkan tempat untuk diskusi diplomatik antara kedua pihak. Tujuannya adalah menangani “kinetic frustrations”, yaitu dorongan ketegangan yang muncul dari rangkaian tindakan yang sifatnya militer.

Sejak berkuasa, al-Sharaa disebut mempererat hubungan dengan pihak Barat. Disebut pula bahwa ia menjadi pemimpin Suriah pertama yang berkunjung ke Gedung Putih pada November tahun lalu.