jurnalistik.co.id – Utusan Timur Tengah Presiden AS, Jared Kushner, mengadakan pembicaraan langka dengan pemimpin Hamas, Khalil al-Hayya, di Mesir untuk membahas kelanjutan rencana damai Gaza yang didukung Amerika Serikat. Pertemuan tersebut berlangsung sepekan setelah Israel menyatakan penolakannya terhadap rencana yang diajukan Trump.
Menurut seorang pejabat Palestina yang menyampaikan informasi kepada BBC, Kushner bertemu delegasi yang dipimpin Khalil al-Hayya pada hari Minggu. Langkah ini dipandang sebagai pembicaraan tingkat tinggi yang baru pertama kali terjadi sejak kesepakatan gencatan senjata untuk Jalur Gaza pada tahun lalu.
Rencana damai dan titik fokus pembicaraan
Rangkaian pertemuan ini terkait upaya menerapkan apa yang dikenal sebagai rencana damai Gaza versi AS. Tahun ini, Trump melalui “Board of Peace” menyatakan telah mencapai kesepakatan untuk “complete disarmament” Hamas dan kelompok bersenjata lain di Gaza.
Namun, rencana tersebut mendapat penolakan dari Israel. Pekan lalu, Israel menolak dokumen 15 poin yang juga menggarisbawahi penarikan pasukan Israel serta rekonstruksi Gaza di bawah pemerintahan sipil Palestina yang baru.
Sejumlah negara berpenduduk mayoritas Muslim juga menanggapi dengan sikap yang sama. Pada hari Minggu, delapan negara menyampaikan pernyataan yang mengecam penolakan Israel terhadap rencana Trump.
Dalam konteks pertemuan Kushner dengan Hayya, belum ada pernyataan resmi yang merinci hasil pembahasan. Tetapi laporan menyebut pembicaraan diarahkan pada langkah-langkah konkret untuk menonaktifkan persenjataan Hamas, sekaligus membahas penarikan pasukan Israel dan upaya kemanusiaan.
Board of Peace sendiri pada awalnya dibentuk sebagai organisasi internasional dengan tujuan membawa perdamaian di Gaza, sebelum cakupannya kemudian diperluas hingga ke berbagai konflik lain di dunia.
Siapa saja yang ikut serta
Laporan juga menyebut nama Nickolai Mladenov dan Tony Blair ikut hadir dalam pertemuan tersebut. Selain delegasi inti tersebut, perwakilan dari Mesir, Qatar, dan Turki disebut berperan dalam proses mediasi upaya perdamaian.
Dalam pemberitaan, pertemuan ini digambarkan sebagai langkah yang dapat membuka jalan untuk rangkaian pembahasan berikutnya. Di tengah proses itu, Kushner juga disebut bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi pada hari yang sama.
Berita Terkait
Rencana lanjutan: pertemuan dengan Netanyahu
Menurut laporan media Israel, Kushner bersama Mladenov dan Blair dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada hari Senin. Pertemuan tersebut disebut bertujuan untuk mendorong agar rencana versi AS dapat terus bergerak menuju tahap implementasi.
Netanyahu menegaskan bahwa pencapaian yang ia kehendaki dimulai dari kelumpuhan penuh persenjataan Hamas. Ia menyatakan bahwa Israel tidak akan menjalankan penarikan pasukan sampai Hamas benar-benar didisarmekan.
“Israel rejects the Board of Peace’s 15-point document on Gaza. The IDF will not carry out any withdrawal until Hamas is genuinely disarmed,” kata Netanyahu pekan lalu, menantang sikap sekutunya terdekat.
Respons kawasan dan status gencatan senjata
Pada hari Minggu, Mesir, Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, Yordania, Turki, Pakistan, dan Indonesia mengeluarkan pernyataan bersama yang menilai penolakan Israel terhadap rencana AS berpotensi mengancam upaya perdamaian yang dipimpin Trump.
Gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober tahun lalu disebut masih berjalan. Meski begitu, Israel Defense Forces tetap melakukan beberapa serangan di Gaza sejak berlakunya gencatan senjata, termasuk serangan terbaru yang dikaitkan dengan “terrorists” di wilayah Khan Yunis dan Nuseirat, dengan tuduhan Hamas melanggar kesepakatan.
Perang yang memicu krisis kemanusiaan
Perang di Gaza bermula dari serangan pimpinan Hamas terhadap wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023. Dalam serangan itu, sekitar 1.200 orang dilaporkan tewas, sementara 251 orang lainnya dibawa sebagai sandera.
Israel kemudian melancarkan kampanye militer di Gaza. Kementerian kesehatan wilayah tersebut menyebut lebih dari 73.000 orang telah tewas, dan angka itu dianggap kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Konsekuensi perpindahan penduduk juga terus menjadi sorotan. PBB memperkirakan sekitar 1,9 juta orang atau 90% populasi Gaza telah mengungsi sejak perang dimulai, menunjukkan skala krisis kemanusiaan yang mendalam.
Di tengah situasi tersebut, pertemuan Kushner dengan Khalil al-Hayya di Mesir diposisikan sebagai upaya untuk mengubah dinamika negosiasi. Namun, karena Israel menempatkan persyaratan disarmament Hamas sebagai syarat utama, proses implementasi rencana damai versi AS tetap menghadapi tantangan politik yang besar.












