Internasional

Burnham Luncurkan Rencana Gelandangan: Setiap Orang Ditampung untuk Natal

×

Burnham Luncurkan Rencana Gelandangan: Setiap Orang Ditampung untuk Natal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 'Everyone in for Christmas' - Burnham's rough sleeping plan

jurnalistik.co.id – PM Inggris, Andy Burnham, meluncurkan rencana untuk mengakhiri tidur di jalan dengan menawarkan akomodasi bagi orang-orang yang mengalami rough sleeping selama musim dingin kali ini. Ia menyebut targetnya sebagai upaya agar “to get everyone in for Christmas”.

Skema tersebut mencakup penyediaan tempat tinggal darurat agar kebutuhan untuk tidur di jalan bisa diakhiri, sekaligus bantuan praktis bila ada kebutuhan kesehatan. Inisiatif ini disusun sebagai bagian dari paket pendanaan senilai £442m.

Rencana Burnham mendapat respons beragam dari pihak oposisi dan organisasi pendukung tunawisma. Shadow housing secretary James Cleverley mengatakan ada “little detail” mengenai bagaimana program itu akan dibayar serta bagaimana skema tersebut akan dijalankan di lapangan.

Meski begitu, Crisis menilai pengumuman tersebut “really significant”. Juru bicara Crisis menyebut, “It marks a turning point in our country that we’re not going to tolerate people being forced to sleep on the streets,” sebagai penanda perubahan sikap negara terhadap persoalan tidur di jalan.

Pengumuman ini muncul di tengah catatan bahwa pemerintah Konservatif sebelumnya pernah berjanji untuk mengakhiri rough sleeping pada 2024. Namun, data resmi yang dirilis menggambarkan masalah yang terus bertahan: pada musim gugur 2025, diperkirakan ada 4,793 orang yang tidur di jalan pada satu malam di Inggris, atau meningkat 96% dalam lima tahun. Meski demikian, angka snapshot tahunan dianggap belum sepenuhnya mencerminkan skala persoalan karena aturan ketat dalam pengumpulan data.

Rujukan pada pengalaman “Everyone In” pada masa pandemi

Burnham menyatakan rencananya akan bertumpu pada keberhasilan program “Everyone In” era pandemi, yang menempatkan ribuan orang yang mengalami rough sleeping di hotel dan akomodasi sementara. Menurut keterangan, skema itu membantu sekitar 37,000 orang setelah diluncurkan pada Maret 2020. Shelter kemudian menemukan sekitar seperempat dari mereka berakhir pada hunian menetap, dalam bentuk tempat tinggal yang bertahan minimal enam bulan.

Selain akomodasi darurat, pengumuman ini juga menyebut adanya tambahan pendanaan sebesar £102m, sehingga komitmen Burnham terhadap penanganan rough sleeping sejak ia menjadi perdana menteri mencapai total £442m. Pendanaan tersebut disebut “fully funded” melalui anggaran Kementerian Perumahan (Ministry of Housing).

Target lain dari program ini adalah menyediakan lebih dari 1,000 rumah dalam tiga tahun ke depan untuk membantu orang yang selama ini mengalami rough sleeping memperoleh akomodasi permanen. Pendanaan juga dirancang untuk memberikan “intensive wraparound support,” yang umumnya mencakup layanan kesehatan jiwa serta penanganan terkait masalah obat dan alkohol, agar penerima bantuan dapat membangun kembali hidupnya.

Dalam rencana pelaksanaannya, Burnham menyebut akan mengadakan konferensi khusus pada musim gugur. Ia akan mengundang kalangan dunia usaha, organisasi amal, dan kelompok berbasis keagamaan untuk membahas langkah yang bisa dilakukan guna menekan masalah rough sleeping. Pemerintah daerah—termasuk dewan dan para wali kota—akan berperan utama merancang solusi lokal, dengan dukungan terbesar diberikan kepada wilayah yang memiliki persoalan paling serius.

Burnham menegaskan penolakannya terhadap praktik tidur di tempat publik. Ia menyatakan, “No-one should have to bed down in a doorway or outside a station. But we’ve seen it for so long that it feels like Westminster has started to accept it. I won’t accept it.” Pernyataan ini menekankan bahwa masalah tersebut, menurutnya, sudah terlalu lama dibiarkan berlangsung.

Kisah dari mereka yang pernah mengalami rough sleeping memperlihatkan kompleksitas persoalan. Chloe, 27 tahun, berasal dari London dan mengakhiri rough sleeping tahun lalu setelah masa tumbuh kembangnya banyak bersinggungan dengan layanan pengasuhan dan foster care. Ia memilih tidur di taman-taman jauh dari pusat kota agar tetap tersembunyi, serta mengatakan tidak ada orang yang mengalami rough sleeping akan menolak tempat bila disertai dukungan yang tepat. Chloe berpendapat, “The possibility of ending homelessness is amazing. [But] things like hidden homelessness have been normalised, with people sofa surfing and living paycheck to paycheck, I think there are certain foundational things that need to be addressed first to make sure the scope of help is there.” Setelah mendapat bantuan dari Crisis—yang menempatkannya dalam akomodasi sementara—ia kini memiliki tempat untuk menempuh studi di film school.

Chloe juga menilai sebagian besar orang yang bertahan di jalan akan menyambut skema ini, namun menekankan bahwa keberlanjutan menjadi kunci. Ia menuturkan, “In general, people on the street want a home. People usually end up coming back to homelessness for mental health or financial reasons. So if that could also be addressed, there is no person sleeping on the street right now who wouldn’t want some type of security.”

Meron, warga yang kini tidur di sebuah tenda di terowongan kawasan London bagian tengah selama sekitar dua bulan, menceritakan ia menjadi tunawisma setelah kontrak tiga bulan di Amazon Warehouse berakhir. Ia menggambarkan lingkungan yang mengganggu tidur—masih ada orang yang membuang sampah, mobil melintas dengan musik keras—namun ia juga menyatakan situasinya “not dangerous”. Meron mengaku sudah melamar pekerjaan, tetapi sulit mendapat panggilan. Ia berasal dari Eritrea dan datang ke Inggris sendirian tiga tahun lalu. Ia mengatakan, “I’m looking for any job and when I get a job I’ll get a house. But I’m applying for jobs outside of London because it’s too expensive.”

Beberapa organisasi juga menyampaikan pandangan. Jasmine Basran, head of policy di Crisis, menyatakan mereka menyambut pengumuman itu dan meyakini rough sleeping bisa diakhiri, sembari menekankan kebutuhan pencegahan jangka panjang. Ia menegaskan, “What we also want to see in the longer term is interventions to prevent people from being forced to sleep rough in the first place.” Basran juga mendesak agar departemen-departemen di pemerintah bekerja bersama, karena menurutnya terlalu banyak orang berakhir di jalan setelah dipulangkan dari rumah sakit atau setelah keluar dari sistem perawatan.

Sarah Elliott, chief executive Shelter, menyebut janji Burnham sebagai “game-changing move”. Namun, ia menilai menangani bentuk tunawisma yang paling terlihat merupakan langkah awal yang kuat, sambil mengingatkan agar Burnham menindaklanjuti komitmennya untuk membangun lebih banyak rumah milik dewan (council houses) guna membantu orang yang saat ini tinggal di akomodasi sementara.

Dari pihak oposisi, penilaian masih bercampur dengan kritik. Shadow housing secretary menyatakan Burnham berjanji mengakhiri rough sleeping saat menjadi wali kota Manchester, tetapi program itu gagal karena tidak dikerjakan dengan kerja keras yang diperlukan. James Cleverly menambahkan bahwa keluarga akan khawatir terjadi kenaikan pajak apabila Partai Buruh tidak menjelaskan secara terbuka “come clean on what other programmes they are cutting to pay for this project”.

Liberal Democrat juga menyatakan keberatan. Juru bicara perumahan mereka, Gideon Amos, mengatakan, “sticking plasters won’t fix the homelessness crisis. Without a proper long-term plan, people could simply find themselves back on the streets once the festive headlines fade.” Ia kemudian mendesak Burnham untuk berkomitmen pada target Liberal Democrat membangun 150,000 rumah sosial setiap tahun.

Pihak Reform UK turut mengkritik. Deputy Reform UK leader Richard Tice menggambarkan rencana pemerintah sebagai “yet another vague announcement with no substances which uses our most vulnerable for political point-scoring,” sekaligus menyoroti kegagalan saat Burnham menjadi wali kota Manchester.

Dengan paket pendanaan yang dijanjikan, mekanisme dukungan yang disebut intensif, serta rencana konferensi dan keterlibatan pemerintah daerah, pengumuman Burnham menempatkan rough sleeping sebagai agenda yang hendak ditangani lebih cepat. Tantangan utamanya kini berada pada implementasi yang rinci, koordinasi lintas pihak, serta konsistensi bantuan agar orang tidak kembali ke kondisi tidur di jalan setelah periode sorotan perayaan berakhir.