jurnalistik.co.id – Perdebatan mengenai jumlah minyak yang benar-benar mengalir dari kawasan Teluk Persia melalui Selat Hormuz kembali mengemuka, menyusul adanya perbedaan angka antara pernyataan pemerintah Amerika Serikat dan perkiraan layanan pelacakan kapal yang dipakai analis industri.
Di satu sisi, pejabat AS menyebut volumenya jauh lebih besar. Di sisi lain, pelacak maritim menunjukkan arus yang lebih kecil, sehingga memperlihatkan betapa sulitnya memotret pergerakan minyak di jalur yang ikut terkena dampak konflik.
Menurut Menteri Energi AS, Chris Wright, rata-rata minyak yang keluar melalui Selat Hormuz mencapai 9 juta barel per hari selama periode tujuh hari. Wright menyampaikan angka tersebut sebagai gambaran bahwa selat strategis itu tetap menjadi jalur penting, meski pasar energi sebelumnya memperhitungkan potensi penyempitan aktivitas kapal.
Wright juga menyinggung bahwa nilai yang disebutnya lebih tinggi dibanding perkiraan dari layanan pelacakan kapal yang umum dirujuk analis Wall Street. Salah satu estimasi yang digunakan analis menempatkan arus melalui Selat Hormuz hanya sekitar 4 juta barel per hari.
Perbedaan klaim itu menjadi perhatian karena Selat Hormuz dinilai “secara efektif tertutup” bagi lalu lintas tanker setelah Iran beberapa kali menyerang kapal yang berupaya melintas jalur tersebut. Pada saat yang sama, layanan pelacakan yang mengandalkan data transponder dan citra satelit juga mencatat penurunan signifikan jumlah kapal yang mencoba menyeberang, sementara persediaan minyak global terus menyusut.
Wright menyodorkan pandangan yang berbeda. Ia menyatakan, pada 8 Agustus 2026 total minyak yang keluar dari kawasan Teluk bahkan melampaui 20 juta barel per hari. Pernyataan ini bertolak belakang dengan data perusahaan pelacak kapal yang menempatkan volume melalui Selat Hormuz hanya sekitar setengah dari angka tersebut.
Hamad Hussain, ekonom senior bidang iklim dan komoditas di Capital Economics, menilai situasi informasi justru semakin rumit. “Semakin sulit untuk mengetahui berapa banyak minyak yang keluar dari Teluk,” kata Hamad Hussain. “Klaim yang bertentangan dari pejabat AS dan Iran semakin mengaburkan situasi,” ujarnya.
Lini analisis Wall Street selama ini banyak bertumpu pada gabungan sumber, termasuk estimasi dari layanan pelacakan kapal seperti Kpler dan Windward Intelligence, data persediaan yang dilaporkan industri, serta sejumlah indikator lain. Dari kerangka itu, layanan pelacakan memperkirakan sekitar 4 juta barel minyak per hari masih dibawa keluar dari Teluk Persia menggunakan kapal tanker.
Berita Terkait
Selain pergerakan tanker, analis juga mempertimbangkan distribusi lewat jalur lain. Negara-negara Timur Tengah disebut mengalihkan sekitar 7 juta barel per hari melalui jaringan pipa dan metode yang tidak melewati Selat Hormuz.
Dengan menggabungkan dua komponen tersebut, total pasokan yang diperkirakan keluar dari kawasan mencapai kisaran 11 juta hingga 12 juta barel per hari. Nilai ini diposisikan jauh di bawah sekitar 20 juta barel per hari yang diekspor kawasan tersebut sebelum perang Iran dimulai.
Metode pelacakan dan batas data
Meski ada klaim yang berbeda, Kpler menegaskan akurasi datanya melalui arsitektur pelacakan yang mereka kembangkan. Perusahaan ini menggunakan jaringan 13.000 penerima data yang dimiliki dan dioperasikan sendiri di 190 negara, untuk melacak sekitar 350.000 kapal.
Menurut Kpler, pembaruan posisi kapal dilakukan setiap lima menit. Detail teknis seperti frekuensi pembaruan dan cakupan penerima menjadi bagian dari alasan layanan tersebut digunakan secara luas dalam analisis pergerakan maritim.
Namun, perdebatan tetap berlanjut karena tidak semua minyak yang bergerak tentu tercermin dengan pola yang sama di lapangan, terutama ketika rute, metode pengiriman, dan kondisi keamanan berubah. Di saat pelacakan menunjukkan penurunan upaya melewati jalur utama, pernyataan pejabat AS justru menggambarkan sebaliknya.
Perbedaan angka itu pada akhirnya mengembalikan fokus pada satu hal: bagaimana pasar bisa menilai kondisi pasokan secara cepat dan tepat ketika sumber informasi saling bertentangan. Selagi konflik memengaruhi pergerakan kapal dan distribusi energi, ketelitian membaca data akan terus menentukan arah penilaian risiko dan harga di pasar.
Dengan demikian, klaim “lebih dari 20 juta barel per hari” yang disampaikan Wright, estimasi “sekitar 4 juta barel per hari” untuk arus melalui Selat Hormuz, serta perkiraan total “sekitar 11 juta hingga 12 juta barel per hari” menjadi tiga angka kunci yang saat ini saling beradu. Perbedaan ini tidak hanya memengaruhi proyeksi jangka pendek, tetapi juga cara pelaku pasar memahami sejauh mana jalur kritis tersebut masih berfungsi dalam sistem pengiriman minyak global.












